
Kuas lukis dengan ukuran 4 bergerak lincah di canvas yang bertengger di easel hingga lukisan berukuran besar itu selesai. Sebuah potret foto keluarga Axelle telah tercetak di canvas tersebut dengan berbagai macam warna yang membaur manjadi satu. Tangan handal Fayre tentu memiliki peran utama dalam pembuatan lukisan keluarga Axelle. Baren terlihat saat tampan di sana.
Bayi menggemaskan itu sudah berusia delapan bulan. Dia tumbuh menjadi bayi yang lucu dan tentunya terlihat menggemaskan hingga membuat bu Linda dan pak Bram betah di rumah. Celotehan tidak jelas dari bayi yang sudah bisa duduk dan merangkak itu setiap hari memenuhi kediaman megah pak Bramasta. Sungguh, kehadiran Baren semakin menambah kehangatan keluarga tersebut.
"Sudah jadi, Moms?" tanya Arvin ketika berdiri di belakang Fayre dengan Baren yang ada dalam gendongannya.
"Hmmm ... tinggal beberapa sentuhan lagi lukisan ini akan selesai," jawab Fayre tanpa mengalihkan pandangan dari canvas di hadapannya. Lukisan ini dibuat sejak Baren berusia tujuh bulan dan karena kesibukan sebagai seorang ibu, Fayre membutuhkan waktu yang lama dalam membuat satu lukisan ini.
"Jangan terlalu lelah, Moms. Ingat, kamu sedang hamil dan butuh banyak istirahat," tutur Arvin sambil mengusap rambut sang istri dengan lembut.
Ya, Fayre saat ini sedang hamil dua bulan. Sepasang suami istri itu bersepakat untuk menambah satu momongan lagi dengan alasan mumpung masih muda. Mereka tidak mau jika sampai kontrasepsi membuat kesuburan mereka terganggu dan harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan anak kedua.
"Aku gak papa kok, Sayang. Jangan khawatir," ucap Fayre setelah meletakkan kuas yang ada dalam genggaman tangannya di atas palet.
Bukan tanpa sebab Arvin mengkhawatirkan sang istri, karena selama dua bulan ini Fayre mengalami morning sickness parah setiap pagi. Keadaan ini tentu sangat jauh berbeda saat hamil hamil Baren dulu.
"Lukisan ini sudah selesai. Mau di simpan di mana lukisannya?" tanya Fayre setelah membalikkan tubuh menghadap ke arah Arvin.
"Lebih baik di simpan di sini saja dulu. Kalau anak kedua kira lahir, nanti kamu bikin lagi dan disimpan di rumah utama," tutur Arvin seraya menatap maha karya dari tangan sang istri.
Sepasang suami istri itu sedang berada di rumah lama peninggalan pak Hardi dulu. Rumah penuh kenangan ini dipenuhi lukisan hasil karya dari Fayre. Hanya beberapa ART dan pekerja lainnya yang menghuni rumah megah tersebut.
"Oke, baiklah kalau begitu. Nanti biar dipasang pak Mamad di dinding ruang tamu." Fayre beranjak dari tempat duduknya saat ini, "duh anak ganteng pinter banget ya! Enggak nangis ikut Daddy?" Fayre mengajak bicara putranya yang sedang menatapnya dengan senyumannya yang sangat manis.
Tentu Baren akan meronta setelah melihat Fayre mengulurkan tangan ke arahnya. Dalam sekejap tubuh gembul Baren telah berada dalam gendongan Fayre. Mereka pun berpindah ke ruang keluarga untuk istirahat sejenak sebelum pulang dari rumah ini.
"Hati-hati, Sayang!" Arvin terlihat khawatir setelah melihat Fayre duduk di sofa dengan Baren. Ya, dia terlalu over thinking kepada istrinya.
Suara celotehan Baren mulai menggema di sana ketika Arvin terus mengajaknya bicara. Sementara Fayre hanya bisa tersenyum setelah melihat kedekatan Arvin dan putranya. Dia bahagia saja dengan kehidupannya saat ini.
"Kita pulang sekarang yuk, Dad!" ajak Fayre setelah melihat jam dinding yang ada di sana. Waktu telah membawa mereka di ujung senja.
...π π π π π π ...
__ADS_1
Baren Darelano Axelle adalah anugerah yang dikirim Tuhan Yesus untuk keluarga Bramasta Axelle. Kehadiran bayi laki-laki yang lucu itu menjadi pelengkap keluarga ini. Kehangatan, kebahagiaan serta ketentraman hati telah dirasakan keluarga ini setelah melewati beberapa rintangan.
Seperti halnya malam ini, Keempat anggota keluarga tersebut berkumpul di ruang keluarga. Suara gelak tawa menggema di sana saat Baren menunjukkan kelucuannya. Dia sedang berada di atas pangkuan pak Bram, sedangkan bu Linda berada di hadapannya. Sungguh, mereka berdua sangat bahagia semenjak Baren hadir di dalam keluarga ini.
"Sayang, kamu gak ngantuk?" tanya Arvin saat mengalihkan pandangan ke arah Fayre.
"Enggak, aku juga baru bangun kan?" Fayre menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan dari putranya.
Setelah beberapa menit kemudian, Fayre beranjak dari tempatnya. Dia ingin pergi ke teras belakang untuk menghirup udara malam di sana. Sebelum itu, dia pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil yogurt yang tersimpan di kulkas. Entah mengapa, tiba-tiba saja wanita berbadan dua itu ingin duduk bersantai di sana.
"Vin, coba lihat istrimu di belakang. Sudah lama loh dia belum kembali," ujar bu Linda setelah menyadari menantu kesayangannya tak kunjung kembali.
Tanpa banyak bicara lagi, Arvin pun beranjak dari tempatnya. Dia menitipkan Baren kepada bu Linda sebelum pergi menyusul Fayre. Langkah demi langkah telah dilalui hingga sampai teras belakang. Arvin bernapas lega karena Fayre baik-baik saja. Wanita cantik itu sedang berdiri si tepian kolam renang.
"Kenapa di sini sendiri?" tanya Arvin setelah berdiri di sisi sang istri.
"Aku hanya ingin menikmati udara malam. Entah mengapa malam ini aku begitu nyaman berada di sini sambil mengamati riak air kolam renang." Fayre tersenyum tipis saat mengucapkan hal itu.
"Apa yang kamu lihat saat ini, Fay?" tanya Arvin tanpa mengalihkan pandangannya ke samping.
"Aku hanya melihat bayanganmu," jawab Fayre dengan suara yang terdengar lembut.
"Kenapa hanya aku? Padahal di permukaan air itu banyak sekali bayangan benda di sekitar kita," tanya Arvin lagi. Kali ini pria tampan itu mengubah posisinya menghadap Fayre.
Sementara Fayre hanya tersenyum simpul saat mendengar pertanyaan itu. Sama halnya dengan Arvin, Fayre pun mengubah posisinya menghadap ke arah Arvin. Kedua tangannya diletakkan di atas bahu kokoh itu serta manik hitam yang saling bersirobok.
"Karena hanya ada kamu dalam pandanganku, bukan yang lain." Fayre semakin menatap dalam manik hitam Arvin, "Kamu adalah pria bodoh yang aku cintai. Aku sangat bersyukur karena Tuhan memilih kamu untukku belajar dewasa." Senyum manis mengembang begitu saja dari bibir Fayre.
"Tidak. Seharusnya bukan kamu yang mengatakan semua ini. Justru aku yang bersyukur karena Tuhan Yesus mengirim putri cantik tuan Hardinata sebagai jodohku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika tidak ada kamu. Kamu adalah segalanya bagiku, Fay. Tanpa kamu mungkin aku sudah dihancurkan oleh orang-orang yang tidak suka denganku. Aku harap kamu tetap menemaniku berlayar mengarungi samudera pernikahan ini," ucap Arvin dengan tatapan mata yang tak lepas dari Fayre.
Arvin menarik tubuh sang istri hingga masuk ke dalam dekapan hangatnya. Entah mengapa, malam ini rasanya begitu syahdu untuk sekadar mengungkapkan isi hati masing-masing. Beberapa kali Arvin mengecup rambut harum sang istri dengan penuh kasih.
"Ya, tergantung sih," gumam Fayre tiba-tiba.
__ADS_1
"Tergantung bagaimana? Memangnya kamu tidak mau hidup bersamaku, membina rumah tangga bahagia dan hidup damai bersama anak-anak kita nanti?" Arvin mengurai tubuh Fayre dari dekapannya.
"Ya, tergantung. Jika kamu meminta aku pergi seperti dulu maka aku benar-benar pergi dan tidak akan bisa kembali. Aku tidak mau hidup untuk orang yang tidak menginginkan keberadaanku lagi," ucap Fayre sambil menatap Arvin penuh arti.
"Jangan ingatkan aku tentang kejadian itu, Fay!Kesalahan terbesarku adalah saat memintamu untuk pergi dari hidupku. Cukup sekali aku menjadi pria bodoh yang terbawa arus tanpa melihat permata indah pemberian Tuhan ini," ucap Arvin sambil mengusap pipi Fayre dengan lembut.
Semakin lama tatapan mata keduanya semakin dalam. Perlahan jarak di antara keduanya mulai terkikis karena suasana syahdu yang terasa di sana. Fayre menutup kelopak matanya ketika bibirnya mulai bersentuhan dengan bibir Arvin.
"Mo ... Mo ... Mo. Di, Di!"
Fayre segera mendorong tubuh Arvin saat mendengar suara Baren semakin mendekat ke arah teras belakang. Benar saja, tidak lama setelah itu, bu Linda dan Baren muncul di balik pintu. Suara celotehan Baren pun terdengar di sana hingga membuat Fayre tersenyum simpul.
"Sini, Nak. Gendong Mommy yuk!" Fayre mengarahkan kedua tangannya kepada Baren.
"No! Biar aku saja yang menggendongnya!" Arvin merebut Baren dari tangan Arvin.
"Kalau begitu Mami tinggal dulu ya, ada yang harus Mami selesaikan di dalam," pamit bu Linda sebelum pergi.
Suara gelak tawa Baren kembali terdengar di sana. Malam ini mereka bertiga terlihat bahagia karena kehangatan kasih sayang yang tercipta. Sesekali Arvin mengusap perut sang istri, di mana ada benih yang tumbuh di sana. Arvin berharap Tuhan selalu menjaga keluarganya dari bahaya.
"I love you, Moms," ucap Arvin sebelum mengecup kening Fayre.
"Love you more." Senyum manis mengembang dari bibir Fayre, "semoga kita akan tetap seperti ini selamanya. Tidak ada rasa sakit akibat orang ketiga dan tentunya tanpa perpisahan," ucap Fayre sambil menatap kedua baby boy yang sangat dia cintai itu.
Cinta yang besar telah mengantar mereka sampai di pelabuhan setelah badai menghantam. Rintangan yang menjadi penghambatan serta rasa sakit yang sempat menghadang telah hilang karena kekuatan dua cinta yang disatukan menjadi satu. Janji yang dulu mereka ucapkan perlahan terlaksana dan setelah ini tinggal bagaimana mereka bertahan dan memegang janji suci pernikahan. Tentu perpisahan bukanlah yang terbaik, apalagi jika mengingat akan jawaban imam saat pemberkatan pernikahan,
"kalian bukan lagi dua, tapi sudah menjadi satu. Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia, kecuali oleh kematian!"
"Kini aku tahu kenapa Tuhan melarang sebuah perpisahan dalam pernikahan. Jika bersama terasa jauh lebih membahagiakan kenapa harus ada perpisahan yang akan membuka pelita hati terluka. Aku tahu mungkin jalanku setelah ini tidak akan mudah, tetapi dengan hadirnya Baren dan janin yang sedang tumbuh ini, mungkin bisa menjadi menambah penguat rasa di antara aku dan pria bodoh yang sudah menjadi ayah ini." Fayre bergumam dalam hati saat menatap suami dan anaknya penuh arti.
...πΉTamatπΉ...
...Mojokerto, 14 November 2022...
__ADS_1