Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Syarat dari Arvin


__ADS_3

Keheningan tiba-tiba saja terasa di dalam kamar bernuansa abu-abu itu. Tubuh Fay meremang setelah melihat Arvin hanya diam saja. Entah mengapa, situasi ini justru membuat Fay takut. Ia resah menunggu syarat yang dimaksud oleh Arvin.


"Aku mempunyai syarat untuk kamu setujui. Ini adalah syarat mutlak sebelum kita melanjutkan rencana pernikahan ini," ucap Arvin seraya menatap Fay dengan sorot mata penuh arti.


"Katakan saja!" ujar Fay dengan suara yang lirih.


"Jangan menginginkan sebuah perpisahan jika kita sudah menikah nanti. Aku hanya ingin memiliki rumah tangga yang utuh, tanpa ada dusta ataupun orang ketiga."


Pada akhirnya Arvin mengucapkan syarat tersebut kepada Fay. Lantas, ia menceritakan bagaimana kisah kelam keluarganya. Arvin pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi korban broken home. Pak Bram dan Bu Linda pernah berpisah karena orang ketiga. Setelah cukup lama, demi kebahagiaan Arvin. Pada akhirnya mereka memilih rujuk dan rumah tangga itu pun kembali utuh hingga saat ini.


"Aku hanya tidak mau, suatu saat anakku merasakan kesepian karena keegoisan orang tuanya." Arvin menatap Fay penuh Arti.


"Kamu yakin hanya itu alasan di balik syarat itu?" tanya Fay. Ia merasa bukan hanya itu saja yang menjadi alasan Arvin.


"Tidak. Aku pernah memiliki kisah pahit masalah cinta. Aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan, padahal aku sangat mencintainya." Arvin mengalihkan pandangannya dari Fay. Ia menatap lurus ke depan.


Setelah mengucapkan alasan itu, Arvin hanya diam. Ia seakan kembali tenggelam dalam kenangan di masa lalu. Fay menyimpulkan jika pria yang ada di sampingnya itu belum bisa melupakan seseorang yang dia cintai. Agaknya kondisi ini membuat Fay menjadi berpikir panjang. Ia takut saja, jika suatu saat Arvin kembali bersama mantannya.


Fay pun menyatakan keberatan setelah mendengar jawaban itu. Akan tetapi Arvin berhasil meyakinkan jika dirinya tidak akan mungkin kembali ke masa lalu, meskipun di hatinya masih ada nama wanita pujaannya dulu. Arvin tipikal pria setia. Ia tidak suka memiliki banyak pasangan untuk bersenang-senang.


"Baiklah. Jika memang itu syarat yang kamu minta, aku menerimanya. Akan tetapi aku pun memiliki syarat untuk bisa kamu penuhi," ujar Fay seraya menatap Arvin penuh arti.


Arvin mengernyitkan keningnya setelah mendengar ucapan Fay. Ia tidak menyangka saja jika Fay memilik syarat untuk pernikahan ini. Mau tidak mau Arvin pun harus mengikuti apa yang diminta Fay.

__ADS_1


"Setelah menikah, beri aku waktu untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. Aku memiliki trauma dengan seorang pria. Jujur saja aku sangat takut saat membayangkan hubungan suami istri," ucap Fay tanpa menatap Arvin, "dekat denganmu seperti ini saja sudah membuat tubuhnya meremang. Aku sedang menahan rasa takut yang sering menghantuiku saat dekat seorang pria!" Fay menunjukkan tangannya kepada Arvin.


Melihat pori-pori kulit Fay yang berubah, membuat Arvin semakin heran. Ia melihat bulu halus di tangan Fay berdiri seperti seseorang yang sedang melihat setan, "kenapa bisa seperti ini?" tanya Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari tangan mulus milik Fay.


Pada akhirnya, Fay menceritakan kenangan buruk saat dirinya masih duduk di bangku SMA dulu. Ternyata, Fay pernah mendapat perlakukan buruk dari kakak tirinya, yang tak lain adalah putra sulung bu lisa atau kakaknya Dira. Sosok kakak yang dianggap Fay sebagai pelindung, nyatanya sempat melakukan perbuatan buruk kepada gadis itu. Untung saja aksi tersebut diketahui oleh pak Hardi sendiri. Pada akhirnya, anak sulung bu Lisa itu dipenjarakan oleh pak Hardi.


"Apa dia sudah melihat bagian tubuhmu?" tanya Arvin tanpa berpikir panjang.


"Tidak! Dia masih berusaha melepas seragam sekolahku. Untung saja saat itu ayah datang tepat waktu. Tapi aku sempat dipukul hingga ada luka memar di wajahku," ucap Fay dengan suara yang bergetar.


"Brengsek sekali dia!" Arvin geram mendengar cerita itu.


"Aku rasa cukup sudah kenangan buruk ini aku buka di hadapanmu. Aku tidak mau menceritakan lagi tentang kenangan itu. Jadi, bagaimana apa kamu sanggup untuk menahan hal itu sampai aku siap?" Kali ini Fay kembali menatap Arvin.


Arvin tak segera menjawab pertanyaan itu, ia berpikir untuk sesaat. Ia sedang menimbang apakah dirinya sanggup untuk tidak menyentuh gadis cantik yang ada di hadapannya itu. Akan tetapi, ia sendiri tidak tega melihat kondisi psikis Fay yang sebenarnya. Sungguh, ini pilihan yang sulit.


"Oke, baiklah! Aku menerima syarat darimu!" ujar Arvin tanpa berpikir lebih lama lagi.


"Deal?" Fay mengulurkan tangannya kepada Arvin.


"Deal!" Arvin menerima uluran tangan itu sebagai persetujuan syarat-syarat tersebut.


Obrolan ringan terdengar di sana setelah ikrar perjanjian tak tertulis itu. Arvin berusaha untuk mencari tahu, bagaimana sebenarnya karakter gadis yang ada di sisinya itu. Akan tetapi Arvin tetap kesulitan untuk mencari bahan obrolan bersama Fay. Gadis itu tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Sepertinya Fay hanya banyak bicara jika dirasa itu penting, begitu penilaian Arvin saat ini.

__ADS_1


****


Sementara itu, di kamar lain. Pak Bram terlihat resah. Beliau mondar-mandir di kamarnya karena memikirkan dua sejoli yang ada di dalam kamar lain. Keadaan itu jauh berbeda dengan bu Linda, wanita yang melahirkan Arvin itu terlihat sangat tenang di sofa.


"Papi ini kenapa? Tenang dong!" protes bu Linda setelah mengamati pak Bram yang sedang mondar-mandir di tepi ranjang.


"Mami ini bagaimana! Papi sedang memikirkan Arvin dan Fayre! Bagaimana kalau mereka melakukan sesuatu?" Pak Bram berkacak pinggang di sisi ranjang.


Bukannya ikut khawatir, bu Linda justru tertawa melihat ekspresi wajah suaminya. Bu Linda menyilangkan kedua tangannya di depan dada, karena heran saja melihat pemikiran sang suami.


"Pi, mereka tidak mungkin melakukan hal itu! Mami bisa menjaminnya!" ucap bu Linda tanpa rasa ragu sedikitpun.


"Fay adalah gadis yang taat. Mami melihat langsung bagaimana tadi saat dia beribadah di Gereja. Mami yakin, dia pasti mengikuti ibadah rutin di gereja! Sudahlah, Pi, tenang!" ujar bu Linda seraya menatap pak Bram.


Perdebatan pun terjadi di kamar tersebut. Bu Linda tetap pada pendiriannya, beliau tetap percaya tidak akan ada kejadian apapun di kamar putranya, sementara pak Bram masih saja tetap khawatir dengan hal itu.


"Eh, Pi, bagaimana kalau Arvin tahu jika Fay sempat bekerja di club malam? Papi tahu sendiri kan, Arvin itu tidak suka dibohongi. Mami jadi takut, jika dia membenci Fay." Kini giliran bu Linda yang resah karena hal itu.


Sama halnya dengan sang istri, pak Bram pun semakin resah. Beliau sudah tahu, bagaimana Arvin saat dibohongi. Gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajah tersebut.


"Sudahlah, Mi. Kita lihat saja nanti untuk urusan ini. Bukankah Fay yang meminta kita untuk menutup masalah ini? Mungkin dia akan bicara dengan Arvin sendiri." Pak Bram Akhirnya pasrah dan berdoa semoga kekhawatirannya tidak menjadi kenyataan.


...🌹Selamat Membaca🌹...

__ADS_1


...Hallo selamat datang untuk kalian semua😍 Oke, karena ada kesalahan teknis dan cacat logika🤭 Setelah ini othor akan mengganti judul karya ini😂 Karya ini akan ganti judul 'Tanpa Perpisahan'. Mohon maaf atas kesalahan ini🙏...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2