
Tatapan mata bu Linda tak lepas dari sosok yang terbaring lemah di atas brankar itu. Kedua sudut bibirnya mengembang sempurna ketika melihat kelopak mata itu mengerjap pelan. Sepertinya, tidak lama setelah ini, Fay akan sadar.
Fay menggerakkan kelopak matanya beberapa kali. Ia menyesuaikan cahaya lampu IGD yang menyala terang. Setelah sadar sepenuhnya, ia mengalihkan pandangan ke samping. Air mata luruh begitu saja setelah melihat kehadiran bu Linda di sana.
"Mami," gumam Fay dengan suara yang bergetar. Entah mengapa, rasanya ia ingin menangis saat melihat mertuanya itu.
Bu Linda menarik kursinya agar lebih dekat dengan Fay. Kali ini beliau sendiri yang harus turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan di pernikahan seumur jagung ini. Wanita paruh baya itu sedang memikirkan cara yang tepat untuk mengambil hati menantunya.
"Jangan ditahan, Sayang!" ujar bu Linda seraya menggenggam tangan Fay, "cerita dulu sama Mami, apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Keluarkan semuanya, Nak," bujuk bu Linda seraya menatap manik hitam itu.
Benar saja, setelah mendengarkan ucapan bu Linda, bulir air mata mengalir deras. Fay tidak tahu harus dari mana menceritakan apa yang selama ini terpendam dalam hati. Semuanya begitu menyakitkan untuknya. Setelah tangisnya reda, wanita itu pun mulai menceritakan semua kejadian versi dirinya. Apa yang sudah dilakukan oleh Arvin tak luput dari pembicaraan di dalam bilik IGD itu, meski dengan suara yang lirih.
"Apa yang dilakukan Arvin memang keterlaluan!" ujar bu Linda dengan rahang yang mengeras. Rasanya sangat berbeda saat mendengarkan cerita versi putranya dan Fay. Hatinya semakin terasa perih.
Bu Linda tengah merangkai kata agar bisa menenangkan Fay dan membawanya kembali ke Jakarta. Ada rasa prihatin ketika melihat wajah sendu menantunya itu. Beliau merasa jika hidup Fay selalu dalam kesedihan.
"Nak, Mami tahu, kamu pasti merasakan sakit yang begitu dalam. Sebagai ibu yang melahirkan Arvin, Mami minta maaf atas semua yang terjadi. Mami gagal mendidik Arvin menjadi pria yang baik," ucap bu Linda tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan Fay. Bulir air mata pun tak bisa lagi dibendung bu Linda.
"Tidak. Mami jangan minta maaf. Mami tidak salah," ucap Fay dengan suara yang lirih agar tidak terdengar pasien lain.
"Mami sangat berharap kamu kembali ke Jakarta, kembali tinggal bersama kami semua," ucap bu Linda dengan sorot mata penuh harap, "setelah ini kamu mau 'kan Mami antar ke psikiater atau psikolog untuk menyembuhkan traumamu." Bu Linda menatap Fay dengan intens.
__ADS_1
Fay hanya bisa mengangguk pelan saat mendengar permohonan sang mertua. Jujur saja, ia tidak tega menolak permintaan bu Linda meskipun sebenarnya ia tidak ingin kembali. Berada di dekat Arvin rasanya begitu menyakitkan.
"Nak, dengarkan Mami bicara. Mami hanya sekadar ingin mengingatkanmu," ucap bu Linda seraya menatap manik hitam itu.
"Pernikahan itu bisa bertahan jika kita mau memaafkan kesalahan pasangan kita. Terkadang kita harus melupakan rasa sakit di hati apabila kita mengingat kembali janji suci sudah kita ucapkan disaat pernikahan,"
"Jangan seperti Mami dulu, memilih pergi meninggalkan papi mu karena terbakar amarah. Padahal kita semua tahu jika agama melarang kita untuk bercerai. Ego yang tinggi membuat Mami lupa semua janji suci yang sudah Mami ucapkan saat menikah dulu. Pada akhirnya, Arvin yang menjadi korban atas semua sikap Mami,"
"Mami memilih kembali menata rumah tangga, setelah Mami bertemu dengan seorang pendeta. Dia yang menyadarkan Mami, jika semua yang Mami lakukan tidak benar. Mami merenungi semuanya, mencoba membuang ego dalam diri dan berusaha memaafkan semua kesalahan Papi. Dari situ, Mami sadar jika pertengkaran kami tidak membuahkan kebahagiaan, melainkan sebuah rasa sakit untuk kami berdua dan Arvin."
Bu Linda menitikkan air matanya setelah mengingat kembali semua guncangan yang pernah terjadi di masa lalu. Beliau sangat bersyukur akhirnya bisa membina rumah tangga sampai detik ini.
"Mami tidak meminta kamu untuk memaafkan Arvin dengan cepat. Akan tetapi, kamu harus belajar perlahan. Jangan lari dari masalah karena semua itu akan membuatmu lelah. Hadapi, Nak! Biar kamu semakin kuat." Bu Linda sedang memberikan semangat kepada menantunya, "mungkin dengan melapangkan hati dan bersedia memaafkan semua kejadian buruk yang pernah kamu alami, rasa traumamu perlahan akan menghilang. Kamu pasti bisa menjadi wanita yang hebat, Nak."
Fay menutup kelopak matanya karena tidak sanggup lagi melihat sorot mata teduh sang mertua. Bulir air mata seakan tak pernah ada habisnya meski mata itu tertutup rapat. Fay merenungi semua nasihat yang baru saja diucapkan oleh mertuanya. Ia pun mengingat kembali semua janji suci dan khutbah pernikahan kala pemberkatan. Ya, Fay tahu, sejauh apapun ia berlari menghindari Arvin, ia tidak akan bisa berpisah dengannya, karena kalimat panjang yang diucapkan Imam pemberkatan.
"Kalian bukan lagi dua, tapi sudah menjadi satu. Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia, kecuali oleh kematian!"
Fay membuka kelopak matanya setelah mengingat semua nasihat itu. Mungkin, pelariannya selama ini tidak ada gunanya. Ia tidak menemukan titik terang dari hidupnya karena lari dari masalah. Mungkin, mencoba nasihat bu Linda tidak ada salahnya, melawan semua rasa takut untuk menyelesaikan semua yang terjadi.
"Maafkan saya, Mi," ucap Fay dengan suara yang lirih. Ia menatap bu Linda dengan sorot mata sendu.
__ADS_1
"Semua orang tua pasti memaafkan kesalahan anak-anaknya. Jangan khawatir akan hal itu," jawab bu Linda seraya mengusap rambut Fay dengan gerakan yang lembut.
"Bagaimana? Kita pulang ke Jakarta ya setelah ini." Bu Linda kembali mengajak Fay untuk pulang.
Fay mengangguk pelan. Ya, ia sudah yakin untuk kembali ke Jakarta dan pergi berobat. Ia harus bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang rasa takut dan sakit. Ia sadar apa yang dilakukan Arvin, tidak sepenuhnya salah. Semua itu ada campur tangan Fay sendiri. Mungkin, ketidak jujuran yang membuat semua ini terjadi.
"Tapi, Mi, ada satu hal yang membuat saya takut kepada Arvin," ucap Fay setah teringat uang untuk biaya rumah sakit Mia.
"Apa itu?" Bu Linda penasaran perihal tersebut.
"Saya mengambil banyak uang dari kartu debit pemberian Arvin untuk membiayai operasi putrinya bi Atin," ucap Fay tanpa berani menatap wajah bu Linda.
Apa yang diucapkan oleh Fay berhasil membuat bu Linda tersenyum manis. Beliau bangga melihat jiwa sosial yang tertanam dalam diri menantunya itu. Tentu, tidak ada yang marah jika Fay mengeluarkan uang untuk membantu bi Atin.
"Nak, kartu debit itu adalah hakmu. Kamu bebas untuk memakai kartu itu. Arvin tidak mungkin marah jika kamu memakai uangnya untuk membantu orang lain. Mungkin, dia akan marah jika uangnya kamu pakai untuk membiayai pria lain," ucap bu Linda dengan dibumbui candaan.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Terima kasih untuk kalian semua yang sudah membaca dan memberikan Vote, bunga, kopi, like dan komentar di karya ini. Semoga kalian diberikan kesehatan dan rezeki yang barokah. Satu lagi ... semoga semuanya diberikan mertua seperti bu Linda ya❤️🤭...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1