
"Sayang, kamu yakin tidak mau ikut kami?" tanya bu Linda saat menemui Fayre di teras belakang.
Fayre tak segera menjawab pertanyaan dari bu Linda karena dia tidak ingin pergi kemana pun saat ini, "tidak, Mi. Saya ingin di rumah saja. Tadi saya sudah menitipkan sesuatu kepada Arvin untuk diberikan kepada Dira," ucapnya dengan suara yang terdengar lirih.
Pagi ini Arvin, bu Linda dan pak Bram akan pergi ke rumah bu Lisa. Mereka ingin hadir di sana untuk yang terakhir kalinya sebelum jasad wanita tak bernyawa itu dikebumikan. Sudah dua hari jasad tersebut disemayamkan di rumah duka karena menunggu kondisi Dira pulih pasca melahirkan. Kesehatan wanita cantik itu semakin menurun setelah tahu jika ibunya meninggal.
"Ya sudah, kalau begitu Mami berangkat dulu," pamit bu Linda seraya tersenyum manis. Wanita paruh baya itu segera pergi dari hadapan Fayre.
Fayre membuang napasnya kasar setelah kepergian sang mertua. Keputusan ini adalah yang terbaik bagi Fayre karena dengan begitu dia bisa berdamai dengan hatinya. Menginjakkan kaki di rumah peninggalan mendiang ayahnya sama saja dengan menancapkan duri di hati. Hanya luka yang tersisa di sana yang membuat hati terasa pedih.
"Semoga Anda tenang di sana," gumam Fayre ketika wajah bu Lisa hadir dalam pikirannya.
Berada di rumah jauh lebih baik daripada harus bertemu dengan Dira. Fayre sudah bisa memastikan bagaimana nanti respon Dira saat bertemu dengannya. Kesedihan yang menyesakkan pasti akan dirasakan apabila mendengarkan curahan wanita malang itu. Bukan karena membenci tapi hanya tidak ingin ikut terlarut dalam kesedihan yang dialami Dira.
Fayre merebahkan diri di kursi sun longer yang dia tempati saat ini. Pemandangan langit yang biru membuat pikiran semakin tenang, apalagi ditambah dengan suara musik relaksasi dari ponselnya, Fayre semakin merasa tenang dan damai.
Kelopak mata itu kembali terbuka setelah merasakan beberapa kali gerakan dari dalam perutnya. Fayre tersenyum simpul karena hal itu, dia merasa bahagia setiap bayinya menunjukkan pergerakan yang sangat aktif.
"Hallo, kesayangan Mommy," gumam Fayre sambil mengusap perutnya dengan lembut. Dia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar dengan kaki tetap berselonjor agar tetap nyaman, "duh gerakannya semakin aktif saja, mau jadi pemain sepak bola ya, Nak?" gumamnya lagi saat merasakan gerakan dari dalam perutnya.
__ADS_1
Fayre terus mengusap perutnya sambil berbicara beberapa hal, seakan bayi yang ada dalam kandungannya bisa berkomunikasi dengannya. Dengan begini, Fayre lupa akan kesedihan yang sempat dia rasakan karena keputusan yang sudah diambilnya. Pagi itu Fayre menghabiskan waktu di teras belakang sambil menikmati riak air kolam renang dan kenyamanan yang ada di sana.
***
Pakaian serba hitam seakan menjadi lambang akan sebuah kedukaan yang mendalam. Sama halnya yang dipakai ketiga orang yang baru saja tiba di kediaman mendiang pak Hardi, mereka memakai pakaian serba hitam saat memutuskan datang ke rumah ini.
Rumah megah tersebut terlihat ramai karena kehadiran beberapa keluarga dari bu Lisa dan kolega Dira. Mereka semua akan mengikuti upacara sebelum keberangkatan bu Lisa menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Arvin berjalan di depan orang tuanya saat memasuki rumah megah tersebut. Dia membawa buket bunga mawar putih dan sebuah lukisan yang sudah dibungkus Fayre dengan rapi. Kedua barang ini adalah titipan dari sang istri untuk Dira.
"Selamat pagi," ucap Arvin setelah sampai di tempat Dira berada saat ini. Arvin prihatin melihat kondisi Dira yang terlihat kacau, sementara di sisinya ada stroller berisi bayi mungil yang sedang tertidur pulas.
Dira menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Seketika dia terhenyak dari tempatnya setelah melihat kehadiran Arvin. Namun, tidak lama setelah itu dia mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan seseorang.
"Maaf dia tidak bisa ikut karena harus istirahat di rumah. Kami baru saja mengadakan baby shower kemarin. Dia kelelahan." Arvin beralasan dengan tidak mengatakan bagaimana yang sebenarnya. Semua dilakukan untuk menjaga perasaan Dira.
Wanita yang baru saja melahirkan itu terlihat kecewa setelah sosok yang diharapkan kehadirannya ternyata tidak bisa hadir di sana. Air mata menggenang di pelupuk mata karena kesedihan yang mendalam.
"Ini ada titipan dari istriku untukmu," ucap Arvin sambil memberikan barang titipan dari Fayre.
Dira menerima dua barang tersebut. lantas, dia mengambil kartu ucapan yang ada di dalam buket bunga mawar putih itu. Dira sangat berharap Fayre menuliskan sesuatu yang bisa membuat hatinya merasa tenang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
Aku turut berbahagia sekaligus berduka atas semua yang terjadi. Aku bahagia atas kelahiran anak pertamamu dan aku berduka atas kepergian ibumu. Terima lah hadiah dariku ini karena bunga mawar putih ini melambangkan sebuah kesucian di atas luka. Aku harap setelah ini kehidupanmu jauh lebih baik dari sebelumnya. Berbahagialah bersama anakmu untuk memperbaiki semuanya. Ada satu lukisan yang aku buat khusus untukmu sebagai tanda permintamaafan dariku.
^^^Fayre.^^^
Air mata semakin mengalir deras setelah membaca isi surat yang ditulis langsung oleh Fayre. Dira segera membuka kertas yang menutupi lukisan tersebut untuk melihat objek apa yang dilukis Fayre untuknya. Sebuah lukisan keluarga, di mana ada dirinya dan juga bu Lisa. Dalam pangkuan Dira ada bayi mungil yang sedang tersenyum lebar serta pemandangan kota yang ada di sekitarnya. Dira tahu jika lukisan yang dibuat Fayre ini memiliki makna agar dirinya melanjutkan hidup dengan baik di masa depan.
"Ya Tuhan," gumamnya dengan suara yang terdengar lirih.
Perasaan Dira sulit untuk dijabarkan karena semua peristiwa yang sudah dilaluinya saat ini. Kehadiran bayi lucu berjenis kelamin laki-laki menjadi anugerah terindah dalam hidupnya. Akan tetapi kepergian bu Lisa berhasil menghancurkan segalanya. Dia merasakan rasa sakit di saat yang bersamaan. Sungguh, luar biasa jalan hidup yang diberikan Tuhan untuknya.
"Permisi Nona muda, saya hanya ingin memberitahu jika imam sudah datang. Acara akan segera dimulai," ucap ART yang baru saja datang dari ruang tamu.
"Terima kasih, Bi. Saya akan segera ke depan," ucap Fayre sambil mengusap sisa air mata yang membasahi pipi.
Bu Linda sendiri merasa terenyuh berada di sana. Beliau rasanya tidak tahan setelah melihat bagaimana kondisi Dira saat ini. Tentu hidup wanita yang sedang merapikan mantila di kepalanya itu sangatlah berat. Namun, harus bagaimana lagi karena semua ini adalah takdir Tuhan, menghindar pun rasanya tidak mungkin dilalukan.
"Mari kita ke depan untuk mengikuti acaranya," ajak pak Bram setelah Dira pergi menuju ruang tamu. Sama halnya dengan sang istri, pak Bram pun merasa prihatin atas semua ini.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·...