Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Malam menyebalkan!


__ADS_3

Tiga hari kemudian,


"Lebih cepat, Sayang!" Arvin mendesis dengan suara yang sangat lirih saat merasakan kenikmatan dari tangan lembut sang istri.


Ya, hari ini adalah hari di mana Arvin harus melakukan pemeriksaan di laboratorium. Awalnya ia tidak mau melakukan pemeriksaan tersebut, mengingat sp*rm* nya harus dikeluarkan saat di Laboratorium. Mau tidak mau Arvin harus melakukannya atas desakan dari Fay. Wanita tersebut benar-benar ingin hamil secepatnya.


"Mana wadahnya! Siapkan wadahnya!" titah Arvin saat merasakan sesuatu yang dahsyat di dalam tubuhnya. Fay pun harus mempercepat tugasnya agar susu kental asem itu segera keluar dari tempatnya.


Berkat bujuk rayu keduanya, akhirnya pihak rumah sakit mengizinkan Fay ikut bekerja sama mengeluarkan bibit unggul milik Arvin di kamar mandi. Sungguh, ini adalah pengalaman paling gila bagi Arvin. Ia harus menahan er*ngannya agar tidak ada siapapun yang mendengar di luar toilet. Kran air pun terus menyala untuk meredam suara yang timbul akibat kulit yang bergesekan itu. Fay mempercepat gerakan tangannya setelah merasakan sanca mual-mual dan ingin memuntahkan bisa nya.


"Awas tumpah!" Fay mengingatkan Arvin agar berhati-hati saat menggenggam wadah berisi cairan susu kental asam yang baru saja keluar dari sumbernya.


"Lebih baik kamu keluar dulu deh, Fay! Bawa wadah sialan itu ke petugas laboratorium!" ujar Arvin dengan napas yang terengah-engah. Ia merasa kesal karena seperti dikerjai oleh pihak rumah sakit.


Andai saja boleh membawa sp*rma* dari rumah, maka, ia tidak akan berakhir di kamar mandi seperti saat ini.


Sebelum keluar dari kamar mandi, Fay menyempatkan untuk meraup bibir sang suami. Cumb*an mesra terjadi di sana dalam kurun waktu beberapa detik saja. Arvin segera melepaskan bibirnya agar permainan itu segera berakhir.


"Setelah ini kita harus melanjutkan permainan ini," ucap Fay sambil mengerlingkan matanya genit sebelum keluar dari kamar mandi.


Arvin harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi. Ia harus membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Sebelum keluar dari kamar mandi, tak lupa pria tampan itu memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya.


"Semoga di luar tidak ada orang!" gumamnya sambil menarik handel pintu kamar mandi.


Arvin mengumpat dalam hati ketika berpapasan dengan petugas laboratorium yang ada di depan. Untung saja ia memakai masker, jadi wajahnya yang bersemu merah tidak akan ketahuan oleh siapapun. Petugas wanita itu terlihat mengulum senyum saat berpapasan dengan Arvin. Mungkin, wanita itu pun tahu jika Arvin dan Fay bekerja sama di kamar mandi.

__ADS_1


"Sudah selesai?" tanya Arvin ketika sampai di tempat Fay berada.


"Sudah. Sekarang mari kita pulang. Hasilnya nanti diserahkan kalau kita kontrol hari sabtu," ucap Fay seraya menatap Arvin untuk sesaat, "check in, yuk!" bisik Fay setelah berjalan meninggalkan laboratorium.


Arvin menjauhkan wajahnya seraya tersenyum smirk setelah mendengar bisikan dari sang istri, "semakin ke sini kamu semakin mesum," sarkas Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik Fay.


"Ya sudah kalau gak mau!" Mungkin karena malu setelah mendengar sarkasme dari Arvin, Fay berlalu begitu saja. Ia meninggalkan Arvin yang sedang berkacak pinggang di tempatnya saat ingin.


Arvin mempercepat langkahnya karena sang istri benar-benar meninggalkannya di sana. Lagi pula tidak ada salahnya menginap di hotel untuk menghabiskan malam di tempat lain.


"Mau ke hotel mana?" Arvin bertanya kepada Fay setah berhasil menyusul Fay.


"Terserah, sih! Hotel mewah yang belum pernah kita kunjungi tentunya." Fay menatap Arvin penuh arti.


"Tenang saja! Semua sudah aku siapkan di mobil. Kamu saja yang tidak tahu." Satu sudut Fay tertarik ke dalam setelah mengatakan hal itu.


Setelah berhasil keluar dari gedung rumah sakit tersebut, mereka berdua segera berjalan menuju tempat parkir. Sepertinya malam ini, sepasang suami istri itu akan menghabiskan malam panas di hotel bintang lima.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Sementara itu, di tempat lain, ada seorang ibu yang sedang cemas memikirkan nasib anaknya. Ya, dia adalah bu Lisa. Wanita paruh baya itu sedang panik karena sudah dua hari ini Reno tidak bisa dihubungi. Prasangka buruk terus memenuhi pikirannya karena takut terjadi sesuatu dengan putra sulungnya itu. Suara derap langkah seseorang yang menuruni tangga terdengar jelas di indera pendengaran bu Lisa.


"Dira, kamu mau kemana?" tanya bu Lisa setelah berdiri dari tempatnya. Beliau menghampiri Dira yang sedang termenung di anak tangga paling bawah.


"Dira mau keluar. Mau cari udara segar biar gak setres!" ujar Dira dengan ekspresi wajah yang datar.

__ADS_1


Wanita karir itu begitu kesal menghadapi sikap ibunya. Pasalnya, bu Lisa tidak bisa bersikap tegas kepada Reno dan yang paling penting sampai saat ini, bu Lisa belum bisa menemukan jalan keluar atas permasalahan ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu sendirian, Nak?" tanya bu Lisa setelah melihat penampilan Dira saat ini.


Putri yang menjadi kebanggannya itu sedang memakai pakaian terbuka yang mengekspos kulit mulus tanpa goresan luka itu. Hotpants setengah paha dan kaos tanpa lengan oversize melekat di tubuh tersebut, sementara jaket jeans berwarna navy tersampir di tangannya.


"Tidak. Aku berangkat dulu, Ma," pamit Dira sebelum berlalu begitu saja dari hadapan ibunya.


Tanpa perduli dengan izin dari bu Lisa, gadis yang sedang dirundung masalah itu, segera pergi. Ia membawa mobilnya tanpa seorang sopir. Malam ini, Dira ada janji bersama sekretarisnya di kantor untuk datang ke club malam. Ia butuh penyegaran otak untuk melepaskan semua beban berat yang dipikulnya.


Setelah berada di jalan selama hampir tiga puluh menit, pada akhirnya Dira sampai di club malam milik tante Nella. Setelah melakukan registrasi, gadis cantik itu segera masuk ke dalam. Ia mencari tempat yang sudah disebutkan oleh Sekretarisnya saat di kantor tadi siang.


"Di mana dia?" Fay bergumam setelah mencari temannya di antara kerumunan orang-orang yang sedang asyik berjoget.


Suara dentuman musik yang dimainkan oleh DJ terkenal di Indonesia, begitu memekikkan indra pendengaran Dira. Bukannya melanjutkan mencari temannya, Dira malah asik meliuk-liukkan tubuh mengikuti alunan musik yang merasuk ke dalam telinga.


"Kemana sih dia ini? Aku nyari dari tadi gak ketemu." Meski tubuhnya asyik menari-nari, akan tetapi matanya tetap mencari keberadaan sekretarisnya.


Karena sibuk mencari sekretarisnya, Dira sampai tidak sadar jika tubuhnya menabrak tubuh seorang pria, "maaf." Hanya itu. yang terucap dari bibir Dira setelah beradu pandang dengan seorang pria asing itu.


"Kamu orang baru di sini?" tanya pria tersebut dan mendapatkan jawaban anggukan pelan dari Dira, "perkenalkan, namaku adalah Raka," ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangannya.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka❀️🌷...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2