
"Kamu kan yang membunuh anakku!" tuduh bu Lisa hingga membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, salah satunya termasuk Arvin.
Fayre mengepalkan tangannya setelah mendengar tuduhan tanpa bukti yang dilayangkan ibu sambungnya. Rahangnya terlihat mengeras karena menahan gemuruh yang begitu besar dalam dirinya. Niat baik yang dia tanamkan, nyatanya mendapat balasan lebih dari kata buruk dari bu Lisa. Keheningan terasa di sana, semua orang sedang menunggu kedua wanita yang bersitegang itu. Tidak ada yang ingin bicara untuk melerai bu Lisa dan Fayre, termasuk Arvin.
"Jaga bicara Anda, Nyonya Lisa!" Fayre mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah sembab milik wanita paruh baya itu.
"Saya bisa menjebloskan Anda ke penjara saat ini juga atas tuduhan keji yang Anda layangkan! Apakah perlu saya menjebloskan Anda atas semua penipuan yang sudah Anda lakukan kepada saya?" ujar Fay dengan suara yang lugas dan tegas.
Bukannya takut, bu Lisa malah tertawa lepas setelah mendengar ancaman dari Fayre. Tak lama setelah itu, beliau menghentikan tawanya dan berkacak pinggang di hadapan Fayre. Sungguh, bu Lisa seperti seseorang yang sedang depresi, tidak tahu tempat dan waktu untuk meluapkan segala rasa yang ada dalam hatinya.
"Untuk apa kamu datang ke rumah ini? Aku tidak butuh ucapan bela sungkawamu! Jangan jadi wanita bermuka dua!" sarkas bu Lisa dengan mata merah yang melebar sempurna.
"Kamu bahagia 'kan melihat keadaan Reno saat ini? Kamu pasti puas 'kan dengan semua yang terjadi kepada anakku!" teriak bu Lisa dengan suara yang bergetar, "aku ucapkan selamat atas kebahagiaanmu saat ini! Pasti setelah ini kamu akan berpesta atas kematian anakku!" teriak bu Lisa sambil mengarahkan jari telunjuknya ke dekat wajah Fay.
"Mama! Cukup!" Dira menginterupsi karena ibunya sudah tidak bisa mengontrol diri, "Ma, kita sedang berduka, tidak sepantasnya Mama melakukan semua ini! Fayre hanya ingin datang karena dia masih perduli, Ma." Dira mencoba menenangkan ibunya.
"Diam kamu, Dira!" Bu Lisa mengalihkan pandangannya ke samping, "kamu tidak pernah tahu siapa wanita ini!" Semakin lama tuduhan bu Lisa semakin ngelantur.
"Memangnya, menurut Anda saya ini wanita seperti apa?" Fayre sudah tidak tahan lagi jika hanya diam saat dipermalukan di depan banyak tamu.
"Kamu itu wanita licik! Kamu yang membuat Reno menderita. Dia dipenjara dan hidupnya berantakan. Semua ini gara-gara kamu!" teriak bu Lisa dengan diiringi tangisan yang terdengar pilu.
__ADS_1
Darah yang mengalir dalam tubuh Fayre rasanya semakin mendidih setelah mendengar semua tuduhan bu Lisa. Mungkin sudah saatnya Fayre membalas semua ucapan bu Lisa yang semakin liar itu.
"Jangan pernah menyalahkan orang lain atas semua yang terjadi kepada Anda sekeluarga! Apa perlu yang mengatakan di sini, atas semua yang sudah Anda lakukan kepada saya selaku putri kandung tuan Hardinata, pemilik rumah ini!" Mata indah yang biasanya terlihat teduh itu, kini melebar sempurna dengan kilatan amarah yang begitu besar.
"Sampai kapanpun, Anda tidak akan bisa hidup bahagia dengan harta hasil rampasan dan penipuan! Apa Anda pikir saya tidak tahu, jika surat wasiat ayah saya sudah Anda rubah bersama pengacara ayah saya? Mungkin, semua yang menimpa Anda saat ini adalah balasan atas semua kejahatan yang Anda lakukan!"
Fay melepaskan genggaman tangan Arvin di lengannya. Dia sudah muak dengan semua yang dilakukan oleh bu Lisa. Tidak perduli lagi meski di tempat duka ini dia harus meluapkan semuanya. Sudah cukup bu Lisa mempermalukan dirinya.
"Anda sudah memanipulasi surat wasiat ayah saya! Anda sudah tega menjual saya! Anda tega mengusir saya dari rumah peninggalan orang tua saya! Anda sudah merampas apa yang menjadi hak mutlak yang seharusnya saya miliki!"
"Untuk masalah Reno, bukankah Anda sendiri tahu, jika putra sulung Anda yang bersalah! Dengankan saya baik-baik! Saya akan mengingatkan sekali lagi, jika putra Anda mencoba untuk melecehkan saya! Dia pantas untuk dipenjara atas kesalahannya!"
"Setelah ini tunggu saja, karma akan datang menghampiri Anda! Cepat atau lambat Anda pasti merasakan rasa sakit lebih dari ini! Selama ini Anda begitu angkuh dan tidak tahu diri!"
"Fay, tolong maafkan kesalahan Mama," ucap Dira sambil menatap Fayre penuh harap, "aku tahu aku dan Mama telah membuat kesalahan yang begitu besar, tolong maafkan kami," ucap Dira dengan sorot mata penuh harap.
"Ini adalah yang terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di rumah ini! Aku harap setelah ini kalian tidak muncul di hadapanku lagi dan semoga Tuhan tidak mempertemukan aku dengan kalian lagi!" ujar Fayre sambil menatap bu Lisa yang hanya diam tanpa menyangkal semua kebenaran yang diucapkan oleh putri sambungnya.
Setelah mengucapkan semua rasa sesak di dada, Fayre mengajak Arvin untuk pergi dari tempat ini. Suara desas desus pelayat yang menyaksikan perseteruan di antara bu Lisa dan Fayre mulai terdengar di saat Fayre dan Arvin berjalan keluar dari rumah megah itu.
Kini, semua orang tahu siapa sebenarnya menantu keluarga Bramasta dan siapa yang seharusnya menjadi pewaris kekayaan Hardinata. Selama ini mereka semua tidak pernah tahu jika Fayre adalah putri kandung pak Hardi.
__ADS_1
Arvin menghentikan langkah sang istri ketika sampai di depan mobil. Dia menatap warna putih yang sudah berubah menjadi merah itu dengan lekat. Arvin pun menangkup kedua pipi sang istri dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan.
"Jangan ditahan! Menangislah," ucap Arvin saat mendekap tubuh Fayre. Benar saja, tidak lama setelah itu tubuh yang terbalut pakaian serba hitam tersebut bergetar hebat.
Setelah cukup lama berdiri di sana dengan segala rasa sesal yang mulai datang menghampiri, Fay memutuskan masuk ke dalam mobil. Untuk saat ini, dia hanya ingin pulang ke rumah untuk menenangkan diri yang tersulut emosi. Arvin menghentikan langkahnya saat akan berjalan menuju sisi kanan mobil, ketika melihat mobil Raka terparkir di samping mobilnya. Dia mengernyitkan kening setelah melihat Raka keluar dari mobil.
"Lu di sini juga, Vin?" tanya Raka dengan tatapan mata penasaran.
"Iya. Lu sendiri mau ngapain di sini? Kenal sama Reno?" Arvin malah bertanya balik.
"Enggak. Gue hanya kenal adiknya saja. Dira adalah temanku," jawab Raka sambil mengamati Arvin, "masih saudara sama Lu?" tanya Raka penuh arti.
"Reno kakak tirinya bini gue." Tatapan Arvin terlihat datar saat mengucapkan hal ini, "gue duluan," pamit Arvin sebelum pergi dari hadapan Raka.
Tin, tin.
Raka mengangguk pelan setelah mendengar suara klakson mobil sahabatnya itu. Raka tidak segera masuk untuk bertemu Dira. Justru dia lebih memilih menyandarkan tubuhnya di pintu mobil sambil menatap mobil Arvin yang semakin jauh dari pandangan.
"Cukup menarik. Ternyata Fayre saudara tirinya Dira, hmmmm ...." Raka bergumam dengan tangan kanan yang dilipat di dada, sementara tangan kirinya mengusap dagunya.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·...