Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Hasil Laboratorium,


__ADS_3

Satu minggu kemudian,


"Kita mau ngapain ke tempat ini?" tanya Arvin setelah keluar dari mobilnya yang terparkir di halaman luas laboratorium.


Fayre hanya menatap sinis setelah mendengar pertanyaan itu. Sudah jelas jika mereka berdua sedang berada di Laboratorium, akan tetapi Arvin belum paham saja tentang tujuan datang ke tempat ini.


"Beli soto ayam!" jawab Fayre dengan ketus. Dia meninggalkan Arvin begitu saja karena terlanjur kesal menghadapi pria yang membuatnya merasa jengkel akhir-akhir ini.


Langkah demi langkah telah dilalui Fayre hingga sampai lobby laboratorium. Dia menunjukkan surat pengambilan hasil pemeriksaan tempo hari kepada resepsionis yang bertugas. Setelah reservasi, dia segera masuk ke ruang konsultasi diikuti Arvin di belakangnya.


"Selamat malam," sapa Fayre setelah membuka pintu ruangan tersebut. Dia melihat dokter tempo hari yang menangani pemeriksaan sperm* dan obat-obatan darinya.


"Selamat malam, silahkan masuk, Nyonya," ucap dokter laboratorium setelah melihat kehadiran Fayre di ambang pintu.


Setelah mempersilahkan Fayre dan Arvin duduk di kursi yang di depan meja kerja, dokter tersebut membuka hasil laporan pemeriksaan yang sudah dilakukan oleh Fayre.


"Boleh saya meminta hasil pemeriksaan yang Nyonya miliki dari rumah sakit Permata Bunda?" tanya dokter tersebut.


Fayre segera membuka tasnya dan mengeluarkan dua hasil pemeriksaan yang berbeda dan segera diserahkan kepada dokter tersebut. Fayre terlihat cemas saat dokter tersebut menganalisa ketiga hasil pemeriksaan.


"Baiklah, saya akan menjelaskan hasil tes sperm* terlebih dahulu sebelum hasil tes obat dari sampel yang Nyonya serahkan," ucap dokter tersebut setelah selesai membaca ketiga hasil tersebut.


Hasil pemeriksaan sempel sperm* terbaru yang dikirim Fayre tempo hari mendekati dengan hasil pemeriksaan yang diketahui oleh Fayre dan Arvin. Sementara hasil pemeriksaan yang ditemukan oleh Fayre di mobil Arvin, sama sekali tidak akurat. Bahkan, jumlah dan kesimpulan hasil tes tersebut sangatlah berbeda. Dokter tersebut bisa menyimpulkan jika hasil laboratorium tersebut palsu. Selain dari hasil yang tertulis di sana, dokter pun curiga karena tidak ada logo rumah sakit dalam hasil tersebut.

__ADS_1


"Berarti yang menyatakan saya mandul itu palsu, dok?" Arvin tercengang setelah mendengar sendiri penjelasan dari dokter tersebut.


"Kemungkinan besar iya, Tuan. Hasil analisa terbaru, meski sperm* yang diberikan Nyonya Fayre kurang sempurna, hasilnya tidak seperti itu. Memang ada sedikit kendala dengan sel telur Anda, akan tetapi semua itu tidak menyebabkan Anda mandul. Ada obat yang bisa memperbaiki masalah yang ada hadapi ini. Untuk lebih lanjut saya sarankan Anda berdua melakukan pemeriksan ke rumah sakit saja." Dokter tersebut menjelaskan dengan rinci hasil pemeriksaannya.


Arvin hanya bisa ternganga setelah mendengar semuanya. Dia tidak menyangka jika dokter Winda tega melakukan semua ini kepadanya. Lagi dan lagi pria tampan itu hanya bisa menyesal atas semua kejadian yang dialaminya.


"Lalu bagaimana sempel obatnya, dok?" tanya Fayre setelah selesai membahas masalah hasil pemeriksaan yang dipalsukan.


"Baiklah, akan saya jelaskan secara rincinya saja ya tentang apa saja kegunaan obat tersebut," ucap dokter bernama Nabila itu.


Obat pertama yang dijelaskan dokter Nabila adalah sampel obat yang ditemukan Fayre di dalam mobil Arvin. Dokter Nabila menyebutkan jika obat tersebut adalah obat untuk dikonsumsi seorang pria agar kandungan sperm* menjadi tidak subur atau bisa dikatakan jika obat penunjang agar sperm* menjadi tidak normal dan tidak akan bisa membuahi sel telur.


Setelah selesai menjelaskan sempel obat pertama, dokter Nabila menjelaskan sempel obat kedua yang tak lain adalah pemberian dari dokter Winda yang diketahui Fayre. Ternyata obat tersebut memang obat asli yang dipakai untuk menambah kesuburan bagi seorang pria.


"Tapi saya tidak pernah minum obat tersebut, dok," sangkal Arvin, "saya selalu membuang obat itu di dalam closet karena dokter Winda melarang saya untuk mengkonsumsi obat tersebut," ucap Arvin seraya menatap dokter Nabila.


"Lantas apakah obat yang pertama bisa membahayakan suami saya, dok?" tanya Fayre seraya dokter nabila.


"Kemungkinan tidak, Nyonya. Akan tetapi jika Nyonya mengingkan memiliki keturunan, maka Nyonya harus konsultasi ke dokter terlebih dahulu agar dokter bisa memberi penyubur," ucap dokter Nabila.


Konsultasi bersama dokter laboratorium berlangsung cukup lama. Kali ini Arvin ikut aktif bertanya mengenai semua obat, hasil palsu dan beberapa hal mengenai analisa sperm* miliknya. Ada perasaan lega yang hadir dalam hatinya setelah tahu jika dia masih bisa memiliki peluang untuk memiliki keturunan.


"Terima kasih, dok. Terima kasih sudah membantu saya," ucap Fayre setelah pamit kepada dokter Nabila.

__ADS_1


"Sama-sama, Nyonya. Semoga setelah ini Nyonya mendapat kabar baik," ucap dokter Nabila saat menjabat tangan Fayre.


Sepasang suami istri itu keluar dari ruangan dokter Nabila. Sebelum meninggalkan Laboratorium, Arvin membayar semua biaya pemeriksaan dan konsultasi yang baru saja dilakukan. Lantas, mereka segera keluar dari laboratorium dan berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman luas Laboratorium.


Helaan napas berat berhembus dari wanita cantik yang sedang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Tatapannya lurus ke depan dengan wajah yang terlihat sangat serius. Sepertinya dia sedang merancang rencana selanjutnya.


Sementara Arvin, pria tampan itu hanya bisa menyesali semua yang terjadi. Kedua tangannya mencengkram erat setir mobil yang ada di hadapannya. Setelah ini dia harus memberi pelajaran kepada semua orang yang sudah membuatnya seperti ini. Dia mencoba menerka siapa saja yang terlibat dalam masalah ini. Agaknya dia membutuhkan bantuan banyak orang untuk mencari dalang dibalik semua kejadian yang menimpanya.


"Fayre, aku minta maaf atas semua yang sudah terjadi. Ya, aku tidak akan menyangkal jika setelah ini kamu menghujatku karena kebodohanku," sesal Arvin seraya menatap wanita yang ada di sisinya.


Fayre segera mengalihkan pandangannya ke samping setelah mendengar kalimat panjang itu. Amarah yang besar terlihat jelas di wajah cantik wanita itu. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini kepada Arvin.


"Ih! Aku kesel banget sama kamu!" Tiba-tiba saja Fayre mencubit lengan Arvin dengan keras hingga sang empu berteriak kesakitan.


"Ampun, Fay! Sakit, Fay!" teriak Arvin karena Fayre menancapkan kukunya di lengan tersebut.


"Sekarang kamu tahu kan jika teman-teman itu toxic! Dulu udah diajak pindah dokter gak mau! Inikah yang dinamakan dokter terbaik versimu!" Fayre meluapkan emosinya kepada Arvin. Dia tak henti memukul lengan Arvin.


"Maaf. Aku memang salah, maaf!" Hanya itu saja yang mampu terucap dari bibir Arvin.


"Makanya kalau dibilangin istri itu nurut!" ujar Fayre dengan geram.


Arvin hanya bisa meringis kesakitan ketika Fayre tak henti melampiaskan emosi kepadanya. Permasalahan yang perlahan terbuka ini membuat Arvin sadar jika wanita yang sedang menunjukkan taringnya itu adalah sosok bidadari surga yang dikirim Tuhan untuknya. Arvin menerima semua rasa sakit yang diberikan Fayre kepadanya saat ini, karena semua ini tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang dialami oleh Fayre beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2