Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Ditemukan!


__ADS_3

Langit gelap tanpa warna mulai pudar setelah sang mentari hadir di cakrawala timur. Perlahan, sinarnya menyebar di seluruh kota untuk memberikan kehangatan kepada semua penghuni kota yang baru saja merasakan udara dingin.


"Aku tidak menemukan apapun di sini," gumam Fay setelah membuka laci terakhir di meja kerja Arvin.


Ya. Sejak kemarin Fayre mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk atas semua kejadian yang dialaminya. Namun, pencarian itu ternyata tak membuahkan hasil dan pagi ini dia melanjutkan kembali pencarian tersebut dan hasilnya sama, tidak ada apapun di ruangan ini.


"Aku harus bagaimana setelah ini?" Fayre bergumam dalam hati, "sedangkan sidang pertama akan dilakukan tiga hari lagi." Fayre menghempaskan tubuhnya di kursi kerja yang biasa dipakai Arvin. "Sebenanrnya sejak kapan dia mendaftarkan perceraian ini? Kok udah masuk sidang pertama aja!" gerutu Fayre.


Wanita cantik itu memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan setelah mengetahui alasan sang suami meminta cerai. Setidaknya masih ada cinta yang patut untuk diperjuangkan. Tidak mungkin jika dia membiarkan rumah tangganya hancur karena orang-orang licik seperti Raka dan sekutunya.


Fayre sudah mendengar kabar yang disampaikan oleh Fabi tentang penyelidikannya kepada Raka. Tinggal menunggu penyelidikan dari orang-orang kepercayaan Rofan untuk menguatkan bukti jika ada konspirasi di balik program hamil yang berjalan selama ini.


Dering ponsel yang ada di atas meja membuat semua lamunan Fayre buyar begitu saja. Dia segera menggeser icon hijau setelah melihat nama Rofan di sana. Pembahasan tentang rencana penggeledahan mobil Arvin menjadi topik pembahasan panggilan yang sedang berlangsung itu. Fayre mendengarkan dengan seksama rencana yang sudah disusun asisten suaminya itu.


"Baik, Pak. Saya akan bersiap setelah ini," ucap Fayre sebelum panggilan tersebut terputus.


Setelah selesai melakukan panggilan bersama Rofan, Fayre segera keluar dari ruangan yang dipenuhi banyak buku dan berkas. Dia segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri karena sejak tadi belum mandi, meski dia sudah selesai sarapan.


Kesedihan yang sempat dirasakan, kini telah menghilang. Hanya ada rasa kesal yang merasuk dalam hati saat mengetahui ada pemain lama yang ikut campur dalam urusan rumah tanganganya. Fayre sampai lupa dengan hobinya yang bisa menghasilkan banyak karya indah itu karena masalah yang sedang menerpa rumah tangganya.


"Gak! Aku gak boleh kalah!" Sekali lagi Fayre meyakinkan diri jika dia bisa melalui semua ini, "aku akan berjuang memperjuangkan rumah tanggaku bersama si bodoh—Arvin—demi cintaku kepadanya, aku tidak akan menyerah!" Tekad Fayre sudah bulat untuk membuka drama besar ini.


Setelah bersiap cukup lama pada akhirnya Fayre keluar dari kamar. Dia harus sampai terlebih dahulu di tempat yang sudah ditentukan oleh Rofan. Entah, dia sendiri tidak tahu bagaimana asisten suaminya itu berhasil membawa mobil kesayangan Arvin.

__ADS_1


"Saya mau bawa mobil sendiri," ucap Fayre saat melihat sopir pribadinya bersiap membukakan pintu untuknya.


"Baik, Nyonya," ucap sopir tersebut sebelum membuka pintu depan untuk sang nyonya.


Fayre mengendarai mobil putih itu dengan kecepatan tinggi karena jalanan kota cukup lenggang. Selama dalam perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh Rofan, dia terus berpikir, apa yang pertama harus dilakukannya setelah menemukan sesuatu yang tersimpan di mobil Arvin.


"Ya. Aku harus menemukan hasil laboratorium yang diberikan dokter winda tanpa sepengetahuanku," gumam Fayre dengan pandangan yang fokus dengan jalan kota di hadapannya.


Pada akhirnya, setelah berkendara beberapa puluh menit lamanya, Fayre sampai di tempat tujuan. Dia menunggu kedatangan Rofan di dalam mobil karena di luar cuaca cukup panas. Hingga beberapa menit lamanya, Fayre melihat mobil hitam kesayangan Arvin berjalan ke tempatnya berada saat ini. Dia segera keluar saat mobil tersebut berhenti di depan mobilnya dan Rofan pun keluar.


"Silahkan, Nyonya muda," ucap Rofan sambil mempersilahkan Fayre untuk mencari sesuatu yang dia inginkan.


"Terima kasih, Pak," ucap Fayre sebelum meninggalkan Rofan yang sedang berjaga di luar mobil.


"Apa ini?" Fayre mengamati obat tersebut dan tanpa berpikir panjang, dia mengambil botol tersebut dan disimpan di dalam tasnya.


Setelah mengembalikan semua barang ke tempat semula, Fayre mengambil tas kerja Arvin yang ada di kursi belakang. Tanpa mengulur waktu, Fayre menggeledah tas tersebut. Satu persatu lembaran kertas yang ada di sana telah dibuka oleh Fayre.


"Ini pasti hasil laboratorium yang disembunyikan oleh Arvin dariku," gumam Fayre setelah membaca isi kertas yang ditemukan di antara kertas yang lain, "aku harus membawa surat ini dan mencocokkan dengan hasil yang tes yang ada di rumah," ucap Fayre sebelum merapikan kembali tas tersebut.


Wanita cantik itu tidak tahu apa yang sudah dilakukan Rofan hingga berhasil membawa mobil dan tas pribadi Arvin. Satu hal yang Fayre tahu, jika Rofan pasti melakukan cara-cara licin yang tidak mencurigakan.


"Terima kasih, Pak," ucap Fayre setelah keluar dari mobil dan menghampiri Rofan.

__ADS_1


"Sama-sama, Nyonya," ucap Rofan sambil membungkukkan tubuh sebagai tanda hormat, "apa nyonya muda menemukan sesuatu?" selidik Rofan.


"Ya. Saya menemukan botol obat dan hasil laboratorium. Rencananya saya akan mencocokkan hasil tersebut dengan hasil yang saya miliki di rumah. Mungkin, nanti saya akan membawa obat-obatan Arvin ke laboratorium untuk memastikan obat apa yang sudah dikonsumsi tanpa sepengetahuan saya." Begitu penjelasan dari Fayre kepada Rofan.


Cerdas. Itulah penilaian Rofan untuk sang nyonya muda. Dia sengaja membiarkan Fayre melakukan apa yang ada dalam pikirannya sendiri. Rofan pun sangat bangga kepada Fayre yang berani berjuang seorang diri atas permasalahan yang terjadi.


"Baiklah. Jika Nyonya muda membutuhkan sesuatu, silahkan menghubungi saya." Rofan tersenyum tipis setelah menanggapi rencana yang diucapkan oleh Fayre.


"Bagaimana dengan sidang pertama, Nyonya? Apa Nyonya tetap ingin menghadapi sidang tersebut tanpa pengacara?" tanya Rofan setelah teringat jika tiga hari lagi sidang pertama akan dilaksanakan.


"Ya. Saya bisa sendiri. Saya yakin gugatan itu akan dibatalkan dalam sidang pertama saat saya membawa bukti kuat dalam sidang tersebut," jawab Fayre dengan pandangan lurus ke depan.


"Baiklah. Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu. Saya harus menjemput Tuan muda di Restoran," pamit Rofan setelah tidak ada lagi pembahasan bersama Fayre.


Wanita cantik itu hanya menangangguk pelan setelah Rofan berpamitan. Namun, sebelum Rofan masuk ke dalam mobil, Fayre menghentikan langkahnya, "bagaimana kabar Arvin saat ini?" tanya Fayre seraya menatap Rofan dengan tatapan sendu.


Rofan mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil, dia menutup kembali pintu tersebut dan kembali ke tempat Fayre berada. Senyum tipis mengembang dari kedua sudut bibirnya ketika menemukan kerinduan yang begitu besar dalam sorot mata sang nyonya muda.


"Tuan muda tidak baik-baik saja. Dia lebih sering melamun. Sepertinya, Tuan muda merindukan Anda, Nyonya," ucap Rofan dengan tatapan mata penuh arti.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2