
"Tolong siapkan room di Club xxx nanti malam untuk menjamu tuan Fedrick. Siapkan wanita terbaik di ruangan itu. Saya tidak mau pria itu kecewa dan membatalkan kerja sama!" ucap tuan Bramasta sebelum mengakhiri panggilan bersama orang kepercayaannya.
Langit perlahan berubah menjadi warna jingga, karena sang raja sinar mulai bergerak ke arah singgasananya. Mobil hitam yang membawa Tuan Bramasta dan istrinya melenggang dari Bandara. Konglomerat terkenal itu baru saja tiba di Indonesia, setelah menempuh perjalanan bisnis dari Korea selatan selama beberapa hari. Istrinya tidak pernah absen menemani pak Bramasta kemana pun beliau pergi.
"Bagaimana Arvin? Apa dia masih suka Clubbing?" tanya pak Bram seraya menatap sang istri yang ada di sampingnya.
"Entahlah. Beberapa hari ini dia sepertinya berada di rumah. Coba lihat foto ini!" Istri pak Bram menyerahkan ponselnya.
Yoana Melinda, begitulah nama lengkap istri pak Bramasta. Pernikahan pak Bram dengan bu Linda dikarunia seorang putra, yang tak lain adalah Arvin. Sepasang suami istri itu, tidak bisa memiliki anak lagi setelah bu Linda mengalami kecelakaan di saat hamil kedua. Rahimnya terpaksa harus diangkat karena keadaan darurat yang membahayakan nyawa bu Linda.
"Bagus! Papi harap setelah ini Arvin berubah. Semoga saja setelah ini putra kita bertemu dengan jodohnya!" ujar pak Bram setelah menyerahkan kembali ponsel tersebut.
Menjadi pengusaha sukses membuat pak Bram harus pintar membagi waktu. Seperti saat ini, beliau belum istirahat setelah dari luar negeri, akan tetapi beliau harus menjamu kolega dari Kalimantan yang datang ke Jakarta.
"Kenapa harus sewa wanita sih, Pi? Awas saja kalau macam-macam!" protes bu Linda seraya menatap tajam ke arah suaminya.
"Mami mau ikut? Biar gak curiga terus!" ujar pak Bram.
Mendengar percakapan tersebut, membuat asisten pribadi pak Bram yang duduk di depan, tersenyum tipis. Sudah bukan hal mengejutkan lagi bagi pria bernama Rofan itu, ketika mendengar hal menggelitik yang diucapkan istri bos nya.
"Ogah! Mending Mami di rumah nemenin Arvin!" ucap bu Linda sinis, "Eh, Pi, bagaimana kalau Arvin kita jodohkan saja dengan putrinya Hardi, dengan begitu kita bisa menjaga putrinya sesuai permintaan Hardi waktu itu kan!" Sebuah ide cemerlang tiba-tiba terlintas dalam pikiran bu Linda.
"Memangnya Arvin mau? Dia itu susah kalau urusan dengan wanita! Papi sampai khawatir, takut dia gak tertarik sama wanita lagi!" ujar pak Bram tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Bu Linda melebarkan mata setelah mendengarkan ucapan suaminya. Beliau mencengkram lengan tersebut karena tidak terima putra kesayangannya dicurigai penyuka sesama jenis, "Papi gak usah ngaco deh! Tega banget sama anak sendiri! Arvin itu normal, Pi!" Bu Linda mengerucutkan bibirnya karena hal itu.
"Aduh sakit, Mi!" Pak Bram menjauhkan tubuh dari istrinya, "oh, ya, Fan. Cari tahu bagaimana kabar Hardi sekarang? Apa dia sudah keluar dari rumah sakit?" ujar pak Bram setelah teringat kabar sahabatnya itu.
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab Rofan setelah mengubah posisinya menghadap ke belakang.
Rofan segera membuka ponselnya untuk menghubungi seseorang. Terdengar di sana jika Rofan sedang memerintahkan seseorang untuk melihat langsung bagaimana kondisi pak Hardi di rumah sakit. Rofan kembali tersenyum setelah mendengar obrolan receh di antara pak Bram dan bu Linda. Ia tidak menyangka saja, di balik sosok tegas dan berwibawa, ternyata pak Bram memiliki kasih sayang yang begitu besar kepada anak dan istrinya. Rofan salut akan hal itu.
"Maaf, Pak. Ada berita buruk," ucap Rofan setelah beberapa puluh menit menunggu kabar dari anak buahnya, "pak Hardi sudah meninggal sejak dua hari yang lalu," ucap Rofan setelah membaca semua pesan yang disampaikan anak buahnya.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Bola raksasa telah tenggelam bersama rona jingga yang mengiringi. Langit pun berubah menjadi gelap gulita karena sang dewi malam belum hadir menghiasi cakrawala.
Koper berukuran besar telah siap di ruang tamu bersama pemiliknya. Fay, baru saja tiba di rumah ayahnya setelah tadi siang berkunjung ke rumah yang dulu ia tempati. Fay mengemas semua barang berharga miliknya. Bukan beharga secara finansial, akan tetapi berharga karena kenangan yang ada.
Beberapa puluh menit merenung di ruang tamu, pada akhirnya semua angan itu hilang saat Fay mendengar derap langkah bu Lisa. Ia beranjak dari tempatnya setelah bu Lisa sampai di sana. Fay tersenyum tipis saat melihat wajah sumringah ibu sambungnya itu.
"Sepertinya ibu kesurupan ini," batin Fay setelah melihat rona bahagia ibu sambungnya itu.
Fay mengangguk pelan dengan diiringi senyum tipis. Sedikit kebahagiaan merasuk ke dalam hati setelah mendapat perlakuan baik dari bu Lisa. Tekad Fay sudah bulat untuk kembali ke Amerika. Ia segera menarik kopernya ketika bu Lisa mulai melenggang dari ruang tamu.
"Emm, maaf, Bu, Apa tiket saya sudah Ibu bawa?" tanya Fay setelah masuk ke dalam mobil.
"Sekarang kita akan mengambil tiketmu dulu." Bu Lisa menatap Fay dengan senyum yang sangat manis.
Fay pun ikut tersenyum melihat ekspresi wajah ibunya. Meski heran, akan tetapi Fay mencoba berpikir positif. Mungkin saja, bu Lisa bahagia karena dirinya akan menjauh dan tidak mengusik harta peninggalan ayahnya. Namun, semua pikiran itu mendadak musnah ketika mobil berhenti di halaman luas Club milik tante Nella. Kali ini Fay harus di hadapkan lagi dengan masalah.
"Ayo turun! Tiketmu ada di dalam!" ujar bu Lisa sebelum membuka pintu mobilnya.
"Cepat!" teriak bu Lisa karena Fay tak kunjung keluar dari mobil.
__ADS_1
Sopir yang mengantar Fay pun, sudah mengeluarkan koper milik Fay dari mobil. Sopir itu membawa koper Fay ke dalam club milik tante Nella. Mungkinkah bu Lisa menjual Fay kepada temannya itu?
"Ayo masuk!" Bu Lisa menarik pergelangan tangan Fay dengan kasar.
Setitik kebahagian yang baru saja dirasakan oleh Fay, telah dipatahkan dengan kenyataan. Ternyata, bu Lisa hanya berpura-pura baik di depan Fay, agar gadis tersebut tidak curiga. Fay terseok-seok mengikuti langkah ibu sambungnya itu hingga sampai di tempat tante Nella berada.
"Kamu mau uang untuk membeli tiket 'kan?" tanya bu Lisa dengan suara yang lantang, "kerja dulu! Setelah itu kamu bisa pergi dari negara ini!" ujar bu Lisa dengan senyum smirk.
"Nel, urus dia! Kalau dia kabur lagi dan mengecewakan tamu mu, tidak usah dibayar! Biarkan dia jadi gembel!" ucap bu Lisa seraya menatap tante Nella penuh arti.
"Oke, aku akan mengurusnya. Sekarang pulanglah! Biar gadis cantik ini menjadi urusanku!" Tante Nella tersenyum lebar setelah mengatakan hal itu.
Tante Lisa pergi begitu saja setelah mendengar jawaban temannya. Beliau meninggalkan Fay di sana dengan senyum penuh kemenangan. Tidak ada lagi yang menghalanginya untuk menguasai semua kekayaan pak Hardi. Wanita paruh baya itu, cuci tangan atas semua derita yang dialami oleh Fay.
"Hmmm ... penampilanmu malam ini lumayan juga, Cantik!" Tante Nella bergumam saat mengamati penampilan Fay saat ini, "kalau begitu langsung saja kamu datang ke ruang VVIP 02. Sepertinya Tuan Bram akan suka melihat gadis sepertimu," ucap tante Nella setelah menyentuh pipi mulus Fay.
"Antar dia ke room yang ditempati Tuan Bram!" titah bu Lisa setelah mengalihkan pandangan ke arah asistennya, Angel.
...🌹Selamat membaca 🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
...Hallo, happy weekend😍 Ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian semua😍Kuy kepoin karya dari author The Biggest dengan judul Pesona Istri Yang Terabaikan. Buruan kepoin biar gk ketinggalan ceritanya...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1