Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Kedatangan keluarga Bramasta,


__ADS_3

"Jam sembilan pagi, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap," ucap seorang perawat saat keluar dari ruang ICU untuk memberi tahu keluarga Mia.


Fay mengangguk pelan sebelum Perawat tersebut berlalu dari hadapannya. Operasi kaki Mia berjalan lancar. Akan tetapi setelah selesai operasi, Mia harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Ada keadaan yang membuat Mia harus dipantau tenaga medis secara berkala dan pagi ini, kondisinya dinyatakan membaik.


"Semoga bi Atin cepat datang ke sini," gumam Fay dengan suara lirih. Wanita paruh baya itu pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti dan membawa sarapan untuk Fay.


Mendengar kabar jika keadaan Mia baik-baik saja, tentu berhasil membuat Fay bahagia. Ia tidak perduli meskipun setelah ini harus berurusan dengan Arvin. Menurutnya, apa yang dilakukannya saat ini sudah benar. Tidak mungkin bukan ia membiarkan bi Atin kesusahan.


"Bagaimana jika Arvin datang kesini?" Fay menggigit jari telunjuknya karena tiba-tiba saja merasa takut. Kemarahan dan kekerasan yang dilakukan Arvin kala itu masih melekat dalam memorinya, bahkan untuk membayangkan saja Fay tidak sanggup.


Rasa bosan mulai melanda wanita cantik itu, karena tidak ada kegiatan apapun yang ia lakukan di sini. Fay hanya bisa melihat orang yang berlalu lalang melewati koridor rumah sakit.


"Kenapa melamun, Nak?" tanya bi Atin setelah duduk di samping Fay.


"Loh, sejak kapan Bi Atin datang?" tanya Fay karena tidak tahu sejak kapan wanita paruh baya itu duduk di sampingnya.


"Bibi baru sampai kok." Bi Atin tersenyum simpul, "lebih baik kamu sarapan dulu. Biar gak ikut sakit," ucap bi Atin sambil menyerahkan satu porsi bubur ayam untuk Fay.


Tatapan mata bi Atin tak lepas dari sosok wanita cantik yang ada di sampingnya itu. Beliau tidak sanggup berkata apa-apa lagi melihat ketulusan hati Fay. Sebenarnya, beliau sendiri takut karena menyembunyikan Fay di sini. Bi Atin bisa saja menelfon bu Linda untuk memberitahu keberadaan Fay. Akan tetapi beliau terlanjur terikat janji dengan Fay, jika tidak akan memberitahu siapapun tentang keberadaannya. Wanita paruh baya itu pun merasa miris atas nasib yang dialami oleh Fay.


"Bi, ada apa?" tanya Fay ketika melihat bi Atin termenung dengan mata yang berembun.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu dari Fay, berhasil membuat bi Atin tersadar dari lamunan. Beliau tersenyum manis saat beradu pandangan dengan Fay, "tidak ada apa-apa, Nak." Bi Atin mengusap dengan gerakan lembut bahu Fay.


Sekali lagi, bi Atin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Fay. Beliau sampai tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan menantu mantan majikannya itu. Rasanya, bi Atin berutang budi kepada gadis berparas cantik itu.


"Oh ya, Bi. Jam sembilan nanti, Mia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap loh," ucap Fay ketika teringat pemberitahuan dari perawat tadi.


"Alhamdulillah!" ujar bi Atin dengan suara yang keras. Beliau sangat bersyukur jika memang keadaan putrinya sudah membaik.


Waktu yang telah dinanti akhirnya tiba. Tepat pukul sembilan pagi, pintu ruang ICU terbuka lebar. Terlihat dua orang perawat mendorong brankar pasien. Bi Atin dan Fay pun segera beranjak dari tempatnya saat ini untuk mengikuti kedua Perawat tersebut menuju ruang rawat inap. Fay sengaja pesan kamar kelas satu di rumah sakit ini, agar Mia tidak satu ruang dengan beberapa orang. Jujur saja, Fay tidak nyaman akan hal itu. Ia mencari kamar inap dengan fasilitas ada bed lain untuk penunggu pasien.


"Nanti dokter akan visite sore karena sekarang masih ada operasi besar." Suster tersebut menyampaikan pesan kepada bi Atin, "jika membutuhkan sesuatu silahkan menekan tombol nurse call, ya, Bu," ucap Perawat tersebut sebelum berlalu pergi.


...๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ...


"Ini masih lama, Pak?" tanya Arvin. Sepertinya ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Fay.


"Kurang lebih tiga puluh menit lagi, Pak," ucap sopir tersebut tanpa mengalihkan pandangan dari depan.


Tidak sampai tiga puluh menit, mobil hitam tersebut akhirnya sampai di Rumah sakit Gatoel Mojokerto. Mereka semua segera turun untuk mencari keberadaan Fay di Rumah sakit ini. Rofan langsung datang menemui petugas medis yang duduk di meja informasi untuk bertanya keberadaan kamar Melati 003. Asisten andalan pak Bram itu sudah mengantongi informasi dari anak buahnya tentang siapa yang dirawat di sini.


"Terima kasih," ucap Rofan sebelum berlalu dari hadapan tenaga medis tersebut.

__ADS_1


Degup jantung Arvin semakin tak beraturan kala mereka mulai memasuki area ruang melati. Jujur saja, ia takut jika Fay menolak kehadirannya di sana. Rasa bersalah atas kejadian malam itu masih memenuhi kepalanya. Arvin jadi ragu untuk bertemu langsung dengan Fay.


"Papi saja lah yang masuk duluan!" ujar Arvin ketika mereka semua sampai di depan ruang melati 003.


"Ogah! Kamu dulu sana yang masuk!" kilah pak Bram seraya menjauh dari putranya.


"Iya lah! Kamu dulu yang harus masuk, Vin!" Bu Linda pun menyuruh Arvin agar masuk terlebih dahulu.


Arvin membuang napasnya kasar setelah ketiga orang tersebut kompak menolak untuk masuk. Sesuai rencana sebelumnya, ketiga orang tersebut akan masuk jika nanti Fay melakukan penolakan.


Setelah meyakinkan diri beberapa waktu di depan pintu tersebut, pada akhirnya Arvin mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Lantas, ia mendorong gagang pintu itu dan segera melangkah masuk. Ia bisa melihat jika wanita yang dicarinya saat ini sedang berbincang dengan pasien yang terbaring di brankar.


"Fay!" ujar Arvin dengan suara yang lantang hingga membuat ketiga wanita yang ada di sana melihat ke arahnya.


Fay terhenyak dari tempat duduknya setelah melihat kehadiran pria yang dihindarinya selama ini. Bahkan, ia terlihat ketakutan ketika tatapan matanya beradu pandang dengan Arvin. Fay berjalan mundur hingga tubuhnya berhenti di dinding rumah sakit. Keringat dingin mulai mengalir deras di tubuhnya, saat Arvin berjalan mendekat.


"Stop! Jangan mendekat ke arahku!" Fay berusaha agar Arvin menghentikan langkahnya.


Arvin terpaku melihat respon yang ditunjukkan oleh istrinya itu. Ia bisa mengartikan lewat sorot mata itu jika istrinya sedang ketakutan saat ini. Sungguh, Arvin tidak tahu lagi harus bagiamana mengawali semua ini.


"Pergi dari sini!" teriak Fay seraya menunjuk arah pintu.

__ADS_1


...๐ŸŒนSelamat Membaca๐ŸŒน...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2