Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Liburan panjang Horang kaya!


__ADS_3

"Selamat ya, atas jabatan barunya," ucap Fay seraya menatap Arvin dengan senyum yang sangat manis.


Arvin menerima uluran tangan lembut sang istri. Untuk pertama kalinya ia mengecup punggung tangan tersebut dengan mesra. Tatapan keduanya saling bersirobok, menyelami segala rasa yang ada dalam telaga bening itu.


"Terima kasih," ucap Arvin seraya tersenyum manis. Ia melepaskan genggaman tangannya.


"Harusnya ada kado spesial," pinta Arvin setelah duduk di sofa yang ada di kamarnya.


Ya, mereka baru saja pulang dari kantor tepat pukul satu siang. Mungkin, setelah ini mereka harus istirahat terlebih dahulu sebelum mengantar bu Linda dan pak Bram ke Bandara. Kedua orang tua tersebut akan berangkat malam ini ke juga menuju Swiss. Liburan panjang kali ini akan mereka habiskan di sebuah desa bernama Grindelwald. Salah satu desa yang ada di kaki gunung Eiger. Desa tersebut sangat cocok untuk menenangkan diri karena menyuguhkan pemandangan indah bukit dan danau di sekitarnya.


"Dih minta kado segala," cibir Fay sebelum meninggalkan Arvin di tempatnya. Fay masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beristirahat.


Sepeninggalan sang istri, Arvin menengadahkan kepalanya. Ia sedang memikirkan bagaimana nanti menjalani hari-hari sepi tanpa orang tuanya dan tentunya dengan status yang baru. Setelah ini kemungkinan besar Arvin akan disibukkan dengan segala urusan kantor.


"Ck. Ternyata gue udah tua! Udah ngurus istri dan perusahaan!" Arvin berdecak setelah membayangkan waktu hang out bersama teman harus terkikis.


***


Detik demi detik terus berlalu, senja mulai hadir di cakrawala barat. Dua koper besar sudah siap di dalam bagasi mobil. Kini, Arvin dan Fay siap mengantar kedua orang tuanya ke bandara.


"Kalian jaga diri baik-baik ya saat Mami gak ada di rumah," ucap bu Linda setelah mobil yang dikendarai Arvin melaju di atas jalan raya.


"Iya, Mi," ucap Fay seraya menatap Bu Linda dengan senyum yang sangat manis.


Selama dalam perjalanan menuju bandara, bu Linda memberikan wejangan kepada anak dan menantunya. Banyak pesan yang disampaikan beliau untuk sepasang pengantin baru itu. Bu Linda hanya khawatir saja jika Arvin masih labil dalam menghadapi masalah.


"Setelah Mami pulang liburan nanti, semoga udah dapat kabar baik nih!" ucap bu Linda setelah selesai memberikan nasihat penting, "mungkin saja setelah Mami pulang nanti, ada cucu Mami di sini." Bu Linda tersenyum manis sambil mengusap perut rata Fay.

__ADS_1


Tentu saja apa yang dikatakan bu Linda berhasil membuat Fay terkejut. Pasalnya ia sendiri belum melakukan apapun dengan Arvin. Akan tetapi Fay tidak mau memikirkan hal ini sebagai beban pikirannya, karena masih ada banyak waktu untuknya belajar terbiasa bersama Arvin.


"Iya, Mi. Semoga saja!" sahut Arvin seraya menatap bu Linda dari spion dalam mobil.


"Harus dong! Anak Papi harus topcer!" Pak Bram menepuk bahu putranya. Beliau tersenyum tipis saat melihat Arvin yang ada di sampingnya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit lamanya. Pada akhirnya, mobil yang dikendarai Arvin sampai di Bandara. Bu Linda kembali berpamitan kepada menantunya sebelum melakukan beberapa serangkaian proses sebelum keberangkatan.


"Gak usah sedih gitu! Kalau kamu mau, kita juga bisa liburan kok! Bilang saja mau kemana! Sultan Arvin pasti akan mengabulkan!" ujar Arvin setelah melihat Fay mengusap bulir air mata yang membasahi pipi.


Fay tak menghiraukan ucapan tersebut. Ia sibuk menatap punggung mertuanya yang semakin menghilang dari pandangan. Ia sedih saja karena harus berada jauh dengan bu Linda. Padahal, ia baru merasakan betapa besarnya kasih sayang mertuanya itu.


"Ayo kita pulang!" ujar Arvin setelah mendengar pengumuman jika pesawat yang ditumpangi orang tuanya siap berangkat.


"Kita mampir ke toko buku, ya," ucap Fay saat berjalan menuju tempat parkir.


Arvin mengangguk pelan setelah mendengar permintaan sang istri. Ia pun ingin membeli beberapa buku tentang bisnis, sepertinya Arvin harus kembali belajar beberapa ilmu bisnis yang belum ia dapatkan sebelumnya. Mobil pun akhirnya melaju kencang menuju toko buku yang dimaksud oleh Fayre


Malam telah hadir membawa warna gelap pekat di langit. Bintang bertaburan untuk menghiasi hamparan gelap itu. Semilir angin malam berhembus mesra, menelusup ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka.


Kamar bernuansa abu-abu itu terasa sunyi sepi, karena sepasang suami istri itu, sedang asyik membaca buku. Arvin berada di sofa, sementara Fay duduk bersandar di headboard ranjang. Keheningan itu terus berlanjut hingga suara dering ponsel Arvin terdengar di sana.


Pandangan Fay tetap fokus ke buku tentang seni lukis itu, sementara telinganya mencuri dengar pembicaraan Arvin. Jujur saja ia penasaran, siapakah yang menelfon suaminya itu di jam seperti ini.


"Fay, aku mau keluar menemui teman-temanku," ucap Arvin setelah panggilan selesai, "kamu mau ikut?" Arvin beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju sisi ranjang.


"Kemana?" Fay menutup bukunya, ia menatap Arvin dengan intens.

__ADS_1


"Seperti biasanya! Ini kan hari sabtu," ucap Arvin seraya tersenyum simpul.


"Clubbing?" Fay menaikkan satu alisnya saat mencoba menerka kemana suaminya akan pergi, "kenapa harus clubbing sih? Kamu tuh jangan minum alkohol terus!" ujar Fay setelah melihat anggukan yang menjadi jawaban suaminya.


"Udahlah! Lagian cuma seminggu sekali aku kumpul sama mereka! Kalau mau ikut, ayo!" kilah Arvin sebelum berlalu menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


Fay kesal melihat kebiasaan suaminya itu. Seringkali Arvin keluar malam untuk berkumpul dengan temannya di club malam. Ada rasa khawatir yang menjalar dalam diri karena Fay pun tahu bagaimana keadaan di club malam. Sejauh ini, Fay tidak tahu club mana yang ditempati Arvin bersama teman-temannya.


"Jadi ikut?" tanya Arvin setelah keluar dari walk in closet. Ia kembali menghampiri Fay yang masih ada di tempatnya.


"Aku di rumah aja! Jangan pulang terlalu larut apalagi sampai pagi! Besok pagi antar aku ke Gereja!" ujar Fay dengan ekspresi wajah cemberut.


"Oke, baiklah!" Arvin pun bersiap berangkat berkumpul dengan tiga temannya yang sudah berada di club malam.


Fay menghela napasnya setelah melihat Arvin keluar dari kamar. Ada rasa kesal yang menjalar dalam hati melihat Arvin yang suka pergi meninggalkannya di hari sabtu. Apalagi, suaminya itu pergi ke club malam, di mana banyak wanita genit yang suka menggoda pria seperti Arvin.


"Semoga dia tidak melenceng dan mengingkari janjinya sendiri." Fay bergumam sambil membuka kembali bukunya.


Udara segar kembali menyapa karena jendela yang dibiarkan terbuka. Fay tidak menghiraukan hal itu, karena ia terlalu fokus dengan buku barunya. Ada tiga buku yang dibeli Fay sepulang dari bandara tadi, di antaranya—Buku seni lukis, Psikologis dan novel romantis karya penulis terkenal.


Tidak ada yang tahu kapan badai akan menghantam, kita hanya bisa menunggu kapan saat itu akan terjadi.


...🌹Selamat Membaca🌹...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Selamat hari selasa😎Bagi kalian yang lagi gabut dan butuh bacaan novel keren😍 Kuy othor kasih rekomendasi. Coba baca novel karya author Nazwa Talita dengan judul Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku. Jangan sampai gak baca ya🤭

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2