Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Alasan yang terungkap,


__ADS_3

Tepat pukul sembilan malam rombongan mobil yang membawa Raka, Toni dan dokter Winda telah sampai di kantor polisi. Mereka digiring menuju ruang introgasi untuk melakukan pemeriksaan awal, karena bukti-bukti sudah dikantongi oleh pihak yang berwenang.


"Saya mohon izin bicara dengan saudara Toni, Pak," ucap Arvin kepada salah satu polisi yang bertugas. Toni pun dibawa ke salah satu ruangan diikuti dengan Fabi dan Arvin.


Kini, di dalam ruangan tersebut hanya ada tiga pria yang masih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Toni hanya bisa menatap ke arah lain, sementara Fabi terus menatapnya. Dia tidak habis pikir saja melihat Toni ikut terseret dalam masalah ini.


"Lu ada masalah apa sama gue?" tanya Arvin tanpa melepaskan pandangannya dari wajah sahabatnya itu.


"Tidak ada." Hanya itu jawaban singkat yang lolos dari bibir Toni. Sikapnya terlihat tenang meski sorot matanya terlihat resah.


"Lalu kenapa lu dan nyokap lu melakukan semua ini? Kenapa lu dan Raka malah membuat rencana ini?" tanya Arvin.


"Nyokap gue terpaksa melakukan semua ini. Semua ini adalah rencana Raka." ujar Toni seraya menatap manik hitam Arvin.


Pada akhirnya, Toni menceritakan awal mula dia dan ibunya terperangkap dengan rencana Raka. Semua berawal dari uang. Entah bagaimana awalnya, investor pembangunan rumah sakit di Jakarta pusat tiba-tiba menghilang dengan membawa seluruh dana pembangunan. Kala itu tante Winda sangat membutuhkan suntikan dana yang sangat besar. Toni pun ikut membantu mencarikan pinjaman untuk membayar biaya pembangunan. Putra bungsu dokter Winda itu sempa datang ke rumah Arvin untuk meminta bantuan. Namun, rumah tersebut kosong karena Arvin berada di Swiss. Akhirnya, Toni mendatangi Raka dan sahabatnya itu menggelontorkan dana dengan nilai fantastis hingga rumah sakit tersebut selesai.


"Setelah rumah sakit selesai dan ditempati, Raka datang membawa surat perjanjian. Dia menekan kami untuk mengikuti semua rencananya. Aku sudah menolak keras untuk tunduk kepada dia, akan tetapi tanpa sepengetahuanku, Mama menerima tawaran itu."


Helaan napas yang sangat berat terdengar di sana. Toni mengeluarkan semua isi hatinya di hadapan Arvin tanpa ada yang ditutupi. Dia tahu apa yang sudah dilakukannya adalah kesalahan yang sangat besar. Tetapi yang sebenarnya terjadi, Toni tidak ikut andil dalam konspirasi itu. Peran dokter Winda lah yang terlihat mencolok dalam kasus ini.


"Gue pasrah atas semua ini, Vin." Kali ini tatapan Toni beralih ke tempat lain.


"Gue tidak ikut menentukan apa hukuman lu. Terserah polisi bagaimana menangani kasus ini dan satu hal yang pasti, gue tidak akan mencabut laporan ini. Semua yang sudah kalian sangat fatal." ujar Arvin sebelum beranjak dari tempatnya. Pria tampan itu segera keluar dari ruangan tersebut.


Kini, tinggallah Fabi dan Toni di sana. Helaan napas berat berhembus dari pria yang sedang menautkan alisnya itu. Ya, Fabi marah kepada Toni karena sudah melakukan semua ini. Dia tidak menyangka saja Toni bisa masuk ke dalam perangkap Raka. Semua ini terjadi gara-gara uang.

__ADS_1


"Gue gak bisa bantu lu, Bro! Jujur gue kecewa sama lu!" ucap Fabi sebelum mengikuti jejak Arvin keluar dari ruangan tersebut.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Suara alarm ponsel terus menggema di dalam kamar bernuansa abu-abu itu. Sang pemilik ponsel pun mencari keberadaan benda pipih tersebut tanpa membuka mata. Ya, pemilik ponsel itu adalah Fayre. Dia meraba ke sekeliling tempat tidurnya untuk menemukan benda yang terus berdering itu.


"Fay!" desis Arvin tatkala benda keramatnya diraba oleh tangan lembut sang istri.


Fayre segera menyingkirkan tangannya setelah menyentuh sesuatu yang sedang berdiri tegak. Dia membuka kelopak matanya dan menyingkap selimut tebal itu untuk menemukan ponselnya.


"Lagi dong, Sayang," gumam Arvin dengan suara yang sangat lirih. Dia mengerjap pelan karena benda keramat itu semakin tegak dan membutuhkan tempat untuk dituntaskan.


"Ogah!" jawab Fayre tegas. Bahkan wanita cantik itu tidak mau menatap sang suami. Ponsel pun akhirnya ditemukan dan Fayre menyimpannya di atas nakas.


"Keluarin aja sendiri!" jawab Fayre sekenanya. Dia turun dari ranjang dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Arvin mengusap wajahnya kasar setelah mendapat penolakan dari sang istri. Ya, pria tampan itu sedang merasakan hukuman dari Fayre atas semua yang sudah terjadi. Entah sampai kapan masa hukuman itu berlaku untuknya.


"Sabar ya, sanca. Sepertinya pawang ularnya rada susah dirayu," gumam Arvin seraya memandang sesuatu yang tersembunyi di balik celana piyamananya.


Enam puluh menit kemudian, sepasang suami istri itu sudah rapi dengan pakaian santai. Arvin tidak pergi ke kantor karena sekarang adalah weekend. Sepertinya tidak ada jadwal apapun hari ini dan untuk kasus yang sudah dia laporkan, sudah diurus pengacara dan pihak yang berwajib.


"Good morning," sapa Arvin setelah sampai di ruang makan bersama Fayre. Ternyata pak Bram dan bu Linda sudah duduk di sana.


"Morning Baby," jawab bu Linda seraya menatap Fayre dan Arvin dengan senyum yang sangat manis.

__ADS_1


Mereka berempat menikmati menu sarapan yang tersaji di atas meja makan tanpa ada yang bicara. Semua fokus pada piring masing-masing hingga tidak ada makanan yang tersisa lagi di sana.


"Maaf, Tuan dan Nyonya ... saya hanya ingin memberitahu jika ada tamu yang mencari Tuan besar dan Tuan muda," ucap ART tersebut saat berada di ruang makan.


"Suruh masuk dan buatkan minum terlebih dahulu. Katakan untuk menunggu dua menit lagi," ujar pak Bram setelah meletakkan gelas yang ada dalam genggamannya.


"Baik, Tuan," ucap ART tersebut sebelum kembali ke ruang tamu.


Setelah selesai, anak dan ayah iru segera beranjak dari tempatnya. Mereka berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang mencarinya di waktu seperti ini. Arvin pun menghentikan langkahnya setelah melihat kedua orang tua Raka di sana.


"Selamat pagi," sapa pak Bram setelah sampai di ruang tamu. Beliau duduk di sofa bersebelahan dengan Arvin.


"Selamat pagi," ucap ayahnya Raka seraya menatap pak Bram.


Tanpa basa-basi pria paruh baya itu meminta maaf kepada keluarga besar ini atas semua ysng sudah dilakukan oleh Raka terhadap keluarga ini. Sementara wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya Raka sampai memohon agar putranya dibebaskan dari hukuman.


"Saya mohon, Nak. Raka jangan dihukum. Tidak ada lagi yang tersisa dari kami jika Raka masuk penjara. Anak pertama saya di Kalimantan, Veronica di rumah sakit jiwa dan sekarang jika Raka di penjara, siapa lagi yang akan kami lihat," ucap ibunya Raka dengan suara yang bergetar.


Sebagai orang tua pak Bram pun terenyuh setelah mendengar keluh kesah wanita paruh baya itu. Beliau sendiri tidak tahu harus bagaimana jika berada di posisi tersebut. Akan tetapi apa yang sudah dilakukan Raka sudah keterlaluan. Sudah sepantasnya pria tersebut dihukum agar jera dan tidak mengulang semua kesalahannya.


"Saya mohon maaf, Tuan dan Nyonya. Keputusan keluarga kami sudah bulat. Kasus ini harus diurus sampai tuntas karena putra kalian sudah melakukan tindakan yang berbahaya. Sepertinya Tuan dan Nyonya harus lapang dada menerima semua ini," ucap pak Bram dengan tegas. Beliau pun tidak mau mundur karena semua tindakan Raka sudah membahayakan Arvin.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2