Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Kebaikan semesta


__ADS_3

Dua hari kemudian,


Langit masih redup meski penunjuk waktu sudah berada di angka enam pagi. Sejak menjelang pagi, gerimis mengguuyur kota Jakarta selatan. Udara dingin tentu terasa di sana, akan tetapi semua itu tidak membuat semangat orang-orang yang berlalu lalang di jalan hilang begitu saja. Mereka tetap memenuhi jalanan kota dengan tujuan yang berbeda.


Kepadatan lalu lintas kota yang padat menjadi pemandangan yang sedang diamati oleh Arvin sejak tinggal di apartment ini. Pria tampan itu sudah rapi dengan kemeja berwarna navy yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Entah mengapa, hari ini dia begitu malas untuk melakukan aktivitas apapun. Bahkan, dia pun belum pesan makanan untuk sarapan. Hidupnya terasa hampa dan hambar setelah berada di unit ini beberapa hari seorang diri.


Ting tong ... ting tong ....


Arvin membalikkan tubuh setelah mendengar suara bel dari pintu depan. Dia segera meninggalkan balkon unitnya untuk membuka pintu. Sepertinya, ART harian yang biasa membersihkan tempat tinggalnya telah datang.


"Fay!"


Arvin tekejut bukan main setelah membuka pintu unitnya. Sosok wanita yang dirindukannya selama beberapa hari ini berdiri di hadapannya. Arvin hanya bisa menelan ludah setelah melihat tatapan mata teduh milik wanita cantik yang ada di hadapannya itu.


"Boleh aku masuk?" tanya Fayre dengan suara yang terdengar sangat lembut. Tatapan matanya tersirat cinta yang begitu dalam dan hal itu berhasil membuat Arvin termangu di tempatnya.


"Arvin," ucap Fay sambil menggerakkan tangannya beberapa kali di hadapan Arvin.


"Ya. Silahkan masuk!" Arvin memberi jalan untuk Fayre. Ternyata di belakang tubuh sang istri menyusul seorang ART yang biasa bekerja di tempat ini.


Mereka masuk ke dalam unit mewah tersebut. Arvin dan Fayre masuk ke ruang keluarga, sementara ART tersebut segera berlalu menuju dapur untuk melakukan tugasnya.


"Silahkan duduk!" titah Arvin sambil menunjuk sofa yang tak jauh darinya. Namun, Fayre lebih memilih duduk di sampingnya.


Tentu hal ini berhasil membuat degup jantung Arvin tak beraturan. Kerinduan yang terpendam dalam hati membuatnya menjadi gelisah. Apalagi setelah aroma parfum Fayre merasuk ke dalam indera penciumannya. Sungguh, hal ini membuat Arvin sangat tidak nyaman. Bagaimana bisa dia berpura-pura tidak mencintai wanita yang ada di sisinya itu, jika keadaannya seperti ini. Alam pun seakan ikut mendukung dengan memberikan suasana romantis di tengah gerimis.

__ADS_1


"Siapa yang memberitahumu jika aku tinggal di sini?" tanya Arvin dengan sikap yang tegas. Dia sedang mencoba untuk mengusir rasa gugup yang sedang melanda dirinya.


"Tanpa ada yang memberitahu, aku bisa menemukan keberadaanmu. Cinta yang membawaku bertemu denganmu," jawab Fayre seraya menatap Arvin dengan sorot mata penuh kasih.


Arvin segera mengalihkan pandangan ke arah lain setelah mendengar jawaban dari Fayre. Dia bertekad untuk tetap menjadi pria tak berperasaan agar Fayre membencinya. Arvin hanya bisa menghela napasnya yang berat ketika telapak tangan lembut itu berada di atas pahanya.


"Boleh aku minta sesuatu sebelum kita menghadapi sidang dan benar-benar berpisah?" tanya Fayre tanpa melepaskan pandangan dari wajah tampan yang terlihat resah itu.


"Katakan saja!" ucap Arvin seraya menatap Fayre sekilas.


"Sebelum hakim menyatakan kita bukan suami istri lagi dan kita melakukan pembatalan pernikahan di gereja, aku ingin menikmati hari-hariku bersamamu, Vin. Aku sangat merindukanmu." Fayre merebahkan kepalanya di bahu Arvin, "aku tahu jika kamu tidak mencintaiku, tapi untuk hari ini saja berpura-pura lah mencintaiku seperti biasanya. Biarkan aku menjadi istrimu untuk yang terakhir kalinya." Fayre semakin mengeratkan tangannya di lengan Arvin.


"Tapi aku harus bekerja," jawab Arvin. Dia tidak sanggup untuk banyak bicara setelah mendengar permohonan menyedihkan itu.


Kata-kata permohonan yang diucapkan Fayre seperti belati yang menusuk hati. Sakit dan perih. Bagaimana mungkin Arvin sanggup menolak semua permintaan itu sedangkan dirinya pun merasakan hal yang sama.


Arvin semakin merasa bersalah setelah mendengar semua permohonan sang istri. Sosok yang biasanya tidak banyak bicara dan berani mengungkapkan bagaimana perasaannya, kini mendadak berubah hanya karena sebuah kerinduan.


"Aku pun begitu, Fay," jawab Arvin dalam hatinya. Tidak mungkin dia mengungkapkan semua itu di hadapan sang istri.


"Baiklah, hari ini aku milikmu. Tetaplah di sini bersamaku jika memang semua ini bisa membuatmu bahagia," ucap Arvin dengan suara yang lirih.


Fayre tersenyum penuh arti setelah mendengar jawaban itu. Sepertinya dewi keberuntung ada di pihaknya. Semesta pun memberinya jalan untuk mencapai sebuah tujuan. Rintik hujan semakin lama semakin lebat, suara guntur mulai menggelegar seperti sebuah pertanda jika permainan sang nyonya muda segera dimulai.


Arvin menutup kelopak matanya saat tangan lembut Fayre mulai menjelajah paha yang tertutup celana hitam itu. Gerakan tangannya sangat lembut hingga membuat tubuh Arvin meremang. Apalagi, setelah merasakan napas Fayre yang berhembus di lehernya. Sungguh, Arvin tidak sanggup lagi untuk berdiam diri. Sanca yang sudah lama disembunyikan di sarangnya kini mulai meronta untuk mencari mangsa.

__ADS_1


Pagi ini Fayre dengan berani memulai permainan yang bisa membuatnya terbang ke nirwana. Padahal, selama dua tahun ini dia tidak pernah mau untuk memulai permainan itu. Dia malu jika terlihat agr3sif di atas ranjang, tetapi kali ini dia menyingkirkan semua itu.


Fayre tiba-tiba saja duduk di atas pangkuan Arvin. Kedua bibir itu pun saling bertautan. Kerinduan akan sebuah rasa nikmat dari bertukar saliva kini telah terobati. Fayre mengalungkan kedua tangannya di leher Arvin. Keduanya sama-sama terpejam saat melakukan kegiatan awal yang akan membawa mereka pada puncak tertinnggi


Fayre mencengkram erat tengkuk Arvin ketika dia merasakan usapan lembut di pahanya. Tangan itu pun mulai menjelajah setiap jengkal paha mulus yang terlihat jelas karena dress tanpa motif itu telah tersingkap.


Lenguhan manja terdengar di sana. Fayre menengadahkan kepala saat Arvin mulai bermain-main di leher mulus itu. Jejak kepemilikanpun beberapa kali tercetak di sana. Sebuah kebiasaan yang dilakukan Arvin setiap kali berc!nta.


"I am your's, Baby," gumam Fayre di sela-sela lenguhannya.


Napas Arvin mulai tersengal setelah mendengar ucapan sang istri. Sepertinya dia tidak bisa unfuk menahan lebih lama lagi. Tangan itu pun mulai membuka kancing dres untuk melihat keindahan bukit yang sudah lama tidak didaki.


"Katakan padaku! Apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Arvin dengan napas yang memburu.


"Aku hanya ingin terbang ke awan bersamamu. Hanya bersamamu, Baby!" ucap Fayre dengan suara yang lirih.


Senyum manis mengembang begitu saja dari kedua sudut bibir Arvin setelah mendengar jawaban itu. Dia meraih tas slempang milik sang istri dan dikalungkan di lehernya dengan posisi tas ada di punggungnya. Tidak lama setelah itu, Arvin pun mengangkat tubuh Fayre untuk digendong. Kedua kaki mulus yang ada di balik tubuh Arvin pun langsung mengunci rapat agar tidak sampai jatuh.


"Aku akan membawamu terbang seperti yang kamu inginkan, Fay," ucap Arvin dengan suara yang lirih.


Apa yang dilakukan keduanya telah disaksikan langsung oleh ART harian yang sedang bersembunyi di balik meja yang ada di ruang makan. Wanita berusia lima puluh tahun itu hanya bisa mengelus dada melihat sang majikan membawa wanita ke dalam kamarnya. Wanita paru baya itu tidak tahu jika Arvin telah memiliki istri.


"Ya ampun, kenapa aku yang malu ya saat melihat mereka bermesraan," gumam ART tersebut sebelum melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruang tamu.


...🌷Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍Lanjut gsk nih sanca berburu mangsanya?🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2