Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Masuk Rumah Sakit?


__ADS_3

Langit gelap mulai pudar karena siluet kuning telah hadir di cakrawala timur. Semakin lama, warna gelap itu berubah menjadi biru cerah karena sang raja sinar mulai menunjukkan keangkuhannya.


Ponsel hitam yang ada di atas nakas terus berdering, akan tetapi sang pemilik masih bersembunyi di balik selimut tebal. Sepasang suami istri itu seakan tak mendengar apapun di sana. Mereka tetap tidur pulas dengan tubuh saling memeluk erat. Mungkin mereka berdua terlalu lelah, karena hampir semalam suntuk di atas ranjang itu ada pertunjukkan ular sanca sedang mencari mangsa.


Beberapa menit kemudian, Arvin mengerjap pelan setelah merasakan alarm dari dalam tubuhnya. Ia menyingkap selimut tebal itu dan segera turun dari ranjang tanpa memakai apapun. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi meski belum sadar sepenuhnya.


Setelah menuntaskan semua cairan berwarna kuning itu, Arvin segera keluar dari kamar mandi. Sepertinya, ia harus kembali tidur karena rasa kantuk masih melanda kedua matanya. Lagi pula, Fay pun masih tidur pulas di tempatnya.


"Kenapa pagi ini dia terlihat sangat menggoda?" Arvin bergumam saat mengamati tubuh molek sang istri yang terpampang jelas.


Rasa kantuk yang sempat menerpa, mendadak hilang begitu saja. Nalurinya kembali merasuk ke dalam jiwa hingga menimbulkan sinyal-sinyal yang bisa membangunkan tidur nyenyak sanca. Arvin tersenyum simpul setelah melihat rambut acak-acakan sang istri. Ia masih ingat betul bagaimana permainan yang berlangsung tadi malam.


"Jadi pengen lagi," gumam Arvin sambil menyingkap selimut itu hingga tubuh Fay semakin terpampang jelas.


Jari jemari itupun mulai menjelajah bagian-bagian sensitif yang bisa membuat Fay bergetar. Hal itu, membuat sang empu membuka mata karena ada sesuatu yang mengusik tidur nyenyaknya.


"Arvin! Ngapain sih!" Fay menggeliat. Ia berusaha menghindari tangan nakal suaminya itu.


"Mau lagi," ucap Arvin seraya mendekatkan tubuhnya ke arah Fay.


Arvin berusaha menggoda sang istri agar mau melakukan olahraga pagi. Sinyal-sinyal dalam tubuh semakin kuat, hingga membuatnya terus berusaha untuk merayu Fay sebisa mungkin. Akan tetapi suara dering ponselnya berhasil menghentikan kegiatan itu. Ia harus menerima telfon yang ternyata dari Toni.


"Ada apa, Ton?" tanya Arvin setelah panggilan terhubung.


"Di rumah sakit? Kenapa dia?" Arvin terkejut setelah mendengar kabar dari Toni jika Raka dirawat di rumah sakit.


Rasa kantuk mendadak hilang begitu saja setelah Fay mendengar nama Raka disebut suaminya. Ia segera mendekat ke tempat Arvin berada saat ini untuk mendengarkan pembicaraan itu. Ia penasaran apa kiranya yang membuat Raka sampai masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Siapa yang sakit?" tanya Fay setelah Arvin meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Raka. Katanya dia over dosis obat kuat," ucap Arvin seraya menatap Fay, "terlepas dari masalah yang dia lakukan, jujur saja aku prihatin melihat kondisinya." Ya, sepertinya Arvin serius dengan ucapannya, Fay tahu itu dari raut wajahnya yang berubah.


"Gak usah prihatin sama dia! Untung bukan kamu yang masuk rumah sakit," ucap Fay seraya menatap Arvin, "orang jahat seperti dia pantas mendapatkan semua itu!" Fay menatap Arvin penuh arti.


"Apa maksudmu, Fay?" selidik Arvin.


Fay pun menceritakan detail kejadian yang sedang dialami oleh Raka. Ia menjelaskan jika Raka terkena perangkapnya sendiri. Tentu hal ini membuat Arvin meradang. Ekspresi wajahnya terlihat tidak baik-baik saja serta otot di leher terlihat menegang.


"Kurang ajar!" ujar Arvin setelah Fay selesai bercerita. Ia mencengkram bantal itu hingga lecek, "Aku harus memberi dia pelajaran!" Rahang yang membingkai wajah tampan itu terlihat mengeras.


"Jangan!" sergah Fay, "dia pasti berkilah jika kamu langsung menuduhnya. Biarkan aku saja yang bicara sama dia, karena aku yang tahu tentang detail kejadiannya. Kamu harus pura-pura tidak tahu apapun, Vin! Kita harus bermain cantik," ucap Fay seraya menatap Arvin penuh arti.


Arvin merenungi saran yang diucapkan oleh istrinya. Ada benarnya jika saat ini Arvin harus berpura-pura. Ia ingin melihat sampai di mana Raka terus mengusik hidupnya. Lagi pula Arvin pun tidak mengerti, kenapa Raka ingin memberinya obat kuat.


"Kamu harus bersyukur kepada Tuhan, karena kamu masih dilindungi dari bahaya, Vin! Coba bayangkan jika kamu yang minum obat itu," tutur Fay seraya menatap Arvin.


"Kalau aku minum obat itu kan ada penawarnya, Fay! Seperti ini!" ujar Arvin sambil meraih tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Kegiatan panas seperti tadi malam pun terulang kembali di atas ranjang tersebut.


****


Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah. Waktu telah membawa sepasang suami istri itu sampai di tengah hari. Mereka berdua sedang menikmati makan siang di Restoran hotel dan rencananya setelah ini mereka akan pergi ke rumah sakit.


"Ayo, Vin." Fay beranjak dari tempatnya setelah selesai. Mereka harus mengejar waktu karena setelah dari rumah sakit, rencananya mereka akan pergi ke pantai.


Mereka akan pergi dengan mobil rental dari hotel. Perjalanan menuju rumah sakit menghabiskan waktu selama kurang lebih dua puluh menit. Mobil berwarna putih itu terparkir di halaman luas rumah sakit.

__ADS_1


"Ingat! Pura-pura gak tahu apa-apa! Jangan emosi!" Fay mengingatkan suaminya itu agar bersikap sesuai rencana awal.


Arvin hanya tersenyum tipis mendengar ucapan itu. Setelah membuka seatbeltnya, mereka berdua segera keluar dari mobil dan berjalan menuju lobby rumah sakit. Mereka harus bertanya kepada petugas rumah sakit di mana ruang rawat inap Raka saat ini.


"Terima kasih, Pak," ucap Arvin setelah mendapatkan informasi kamar yang ditempati Raka saat ini.


Langkah demi langkah telah dilalui sepasang suami istri itu sampai di gedung VVIP. Mereka mencari kamar nomor sepuluh sesuai dengan informasi dari petugas rumah sakit.


"Selamat siang," ucap Arvin setelah mengetuk pintu beberapa kali dan membuka pintu tersebut.


"Siang." Terdengar suara Fabi dari dalam ruangan tersebut, "eh, lu, Vin! Masuk!" ujar Fabi setelah melihat siapa yang datang.


Ternyata di dalam ruangan hanya ada Fabi yang menunggu Raka. Kondisi pria yang terbaring di atas bed pasien itu terlihat lemas. Fabi menceritakan jika pengaruh obatnya berhasil dinetralkan beberapa jam yang lalu.


"Toni kemana, Bi?" tanya Arvin setelah beberapa menit berbincang dengan Fabi dan Raka di sana.


"Dia kembali ke hotel. Gue suruh istirahat karena dia belum tidur sama sekali," jawab Fabi.


"Bi, kita keluar sebentar yuk! Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," bisik Arvin kepada Fabi.


"Lah, istri lu gimana, Bro?" tanya Fabi karena tidak enak hati dengan Fay.


"Biar dia di sini saja," ucap Arvin seraya beranjak dari tempatnya, "Sayang, kamu di sini saja sebentar. Aku mau keluar sama Fabi untuk menemui dokter," pamit Arvin seraya menatap Fay penuh arti.


Kini, di dalam ruangan tersebut hanya menyisakan Raka dan Fay. Pria yang terbaring lemah itu terlihat tidak nyaman tinggal berdua saja di ruangan ini. Sesekali ia menatap Fay yang hanya diam sambil mengamatinya.


"Jadi, bagaimana rasanya over dosis obat? Enak 'kan?" tanya Fay dengan tatapan mata sinis. Tentu pertanyaan itu berhasil membuat Raka terkejut.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2