
Warna biru yang mendominasi kini berubah menjadi gelap setelah sang mentari kembali ke peraduan. Fayre baru saja mengerjapkan mata setelah kembali dari alam mimpi yang indah. Wanita cantik itu meregangkan otot-otot tubuhnya ke kiri dan ke kanan sebelum mengubah posisi. Kepalanya terasa berdenyut sejak pulang dari pengadilan hingga sampai saat ini. Rasa malas pun menjalar dalam diri hingga turun dari ranjang saja rasanya begitu berat.
"Baru bangun?" tanya Arvin setelah berada di dalam kamar. Dia berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi ranjang tepat di samping Fayre.
"Hmmm ... kepalaku pusing," gumam Fayre sambil memijat pangkal hidungnya.
"Mungkin karena kamu telat makan, Fay, sekarang sudah jam delapan malam tuh," ujar Arvin saat menatap jam dinding yang ada di sana.
"Serius? aku tidur selama itu ternyata." Fayre terbelalak setelah melihat penunjuk waktu yang ada di sana.
Fayre menyandarkan tubuh di headboard ranjang. Pandangannya tertuju kepada Arvin yang sedang duduk dengan tubuh yang sedikit membungkuk. Pria tidak peka itu sibuk dengan ponselnya hingga tidak sadar jika Fayre sedang mengamatinya saat ini.
"Sial! Kenapa dia terlihat menggoda gitu sih!" umpat Fayre dalam hati ketika melihat penampilan Arvin saat ini.
Fayre hanya bisa menelan ludah ketika melihat peluh keringat di wajah tampan itu. Kaos oblong berwarna putih tanpa lengan serta celana pendek sport mencetak tubuh tegapnya. Sepertinya Arvin baru saja selesai berolahraga di ruang gym jika dilihat dari penampilannya saat ini.
"Duh, kenapa jadi pengen gini sih!" batin Fayre sambil menggigit bibirnya karena rasa itu tiba-tiba saja hadir.
Tentu semua itu adalah hal yang wajar karena sejak dirinya kembali ke rumah ini, tidak ada hubungan apapun yang terjadi di antara keduanya. Arvin harus menahan semua gejolak di dalam tubuhnya karena hukuman berat yang diberikan oleh Fayre. Kini, hukuman tersebut seperti senjata yang menyerang tuannya sendiri.
"Gak! Aku harus menahan semua ini! Aku gak mau ngajak dia duluan! Bisa hancur harga diriku." Fayre menggeleng beberapa kali saat bergumam dalam hatinya.
"Ada apa?" tanya Arvin setelah melihat tingkah aneh sang istri.
Fayre termangu setelah mendengar pertanyaan itu. Sepertinya dia harus mencari alasan yang tepat agar hasrat terpendam yang ada dalam dirinya tidak diketahui oleh Arvin, "emm aku hanya lapar saja," kilah Fayre seraya menatap Arvin.
"Kalau begitu ayo makan malam, aku pun belum makan sejak tadi karena menunggumu." Arvin beranjak dari tempatnya saat ini dan mengulurkan tangannya kepada Fayre.
__ADS_1
"Tapi aku belum mandi, Vin," kilah Fayre.
"Udah gak papa. Lagian mami dan papi tidak ada di rumah. Mereka pergi sebelum makan malam berlangsung. Mungkin, mereka lagi kencan kali ya," gumam Arvin seraya menatap Fayre.
Mendengar hal itu, membuat Fayre segera turun dari ranjang. Tanpa mandi atau pun cuci muka, wanita cantik itu segera keluar dari kamar. Dia membenarkan tatanan rambut sambil berjalan menuju dapur. Rambut berwarna hitam itu terkuncir asal-asalan setelah dia sampai di ruang makan.
"Udah laper banget ya?" tanya Arvin setelah sampai di tempat Fayre, dia pun menarik kursinya dan segera duduk di sana.
"Aku udah laper banget seperti gak makan lima hari," gumam Fayre sambil mengambil nasi, "kamu mau diambilkan sekalian atau mengambil sendiri?" tanya Fayre tanpa menatap Arvin.
"Aku mau ambil sendiri," ucap Arvin.
Makan malam pun berlangsung tanpa ada yang bersuara. Keduanya sibuk menikmati makanan yang ada di piring masing-masing hingga piring tersebut kosong. Arvin mengembangkan senyumnya saat mengamati wajah cantik yang ada di sisinya.
...π π π π π ...
"Ya ampun kenapa kepalaku masih pusing padahal udah makan dan minum obat," gumam Fayre dalam hatinya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana menyembuh rasa sakit kepala itu.
Kelopak mata itu terbuka lebar setelah mendengar pintu kamar mandi terbuka lebar. Fayre menautkan alisnya setelah melihat kehadiran Arvin di dalam kamar mandi. Dia melihat pria yang sejak tadi memenuhi fantasinya itu sedang melepas kaos oblong tanpa lengannya di sana.
"Eh mau ngapain?" tanya Fayre setelah melihat sang suami melepas celana pendek berwarna hitam itu.
"Mau mandi lah! Nunggu kamu selesai lama banget!" protes Arvin setelah menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
Gemericik air yang keluar dari shower terdengar di sana. Arvin memilih mandi di sana agar lebih cepat selesai. Dia harus menahan semua gejolak dalam diri yang terus meronta ketika membayangkan betapa nikmatnya tubuh yang tersembunyi di dalam busa itu.
Fayre membuang muka ke arah lain setelah melihat pergerakan sanca. Dia sendiri sebenarnya ingin merasakan kenikmatan yang diberikan sanca saat mengoyak gua keramat miliknya. Sungguh, keadaan ini membuat Fayre semakin pusing.
__ADS_1
"Hei! Itu bathrobe ku!" teriak Fayre setelah melihat Arvin meraih bathrobe miliknya.
"Pinjam dulu! Aku lupa gak bawa handuk," ucap Arvin tanpa berani menatap Fayre. Dia segera keluar begitu saja dari kamar itu.
Helaan napas berat terdengar di sana. Fayre harus memutar otak untuk mencari cara agar bisa menuntaskan semuanya tanpa harus menjatuhkan harga dirinya. Dia tetap bersikukuh ingin Arvin yang memulai ini terlebih dahulu. Agaknya dia harus memasang umpan agar sang suami menerkamnya.
"Ck. Apa-apaan aku ini! Aduh!" Fayre menepuk keningnya setelah menemukan ide gila.
Untuk saat ini, Fayre memutuskan untuk mengukuti apa kata hatinya. Dia segera keluar dari bathup dan membilas tubuh di bawah guyuran shower. Setelah selesai dia segera meraih handuk berwarna putih yang sangat mini itu untuk menutupi tubuh saat keluar dari kamar mandi itu.
"Hmmm ... mudah-mudahan saja dia masih ada di kamar," gumam Fayre setelah melihat penampilannya di depan cermin yang ada di meja wastafel. Rambut yang basah dan berantakan dibiarkan tergerai karena handuk yang seharusnya melilit di kepala berganti fungsi untuk menutupi tubuh mulus itu.
Fayre menautkan alisnya saat tidak menemukan Arvin di dalam kamar. Ada rasa kecewa di dalam hati dengan situasi ini. Wanita cantik itu pun segera masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
"Astaga!" Fayre terkejut ketika melihat Arvin di sana.
"Ada apa sih?" tanya Arvin seraya menatap tubuh sexy yang hanya terbalut handuk mini itu.
"Aku terkejut lihat kamu di sini," ujar Fayre saat berjalan di hadapan Arvin. Dia sengaja melakukan hal itu agar pria yang sedang termangu itu tergoda.
Sikap acuh telah ditunjukkan oleh Fayre. Dia berpura-pura sibuk mencari pakaian di dalam almari. Padahal yang sebenarnya dia sedang menunggu Arvin menghampirinya.
"Yess! Berhasil!" seru Fayre dalam hati ketika merasakan kedua tangan Arvin berada di pinggangnya.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1