Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Tentang Rencana Pernikahan,


__ADS_3

"Aku memiliki seorang putri, dia tinggal sementara di Amerika karena kuliah di sana. Jujur saja, aku lebih tenang jika putriku ada di sana. Dia jauh dari jangkauan orang-orang jahat di sekitarku, Bram,"


"Aku menitipkan dia padamu jika suatu saat aku meninggal. Aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan hidup. Entah, dia kamu jadi anak angkat atau apalah itu, yang pasti aku tidak percaya dengan istriku. Tolong jaga putriku sebagai bentuk dari persahabatan kita, Bram. Aku menitipkan dia kepadamu, karena aku tahu, kamu pasti mampu membiayai putriku."


Semua angan tentang kenangan terakhir bersama pak Hardi menari-nari dalam pikiran pak Bram. Beliau baru saja tiba di rumah utama setelah mengunjungi Fay di apartment. Pak Bram termenung di ruang keluarga sampai bu Linda datang dengan membawa makanan untuk beliau.


"Kenapa melamun sih, Pi?" tanya bu Linda setelah duduk di sisi pak Bram.


"Papi sedang memikirkan putrinya Hardi. Menurut Mami apa yang harus kita lakukan setelah mengetahui kenyataan dan pesan terakhir dari Hardi?" tanya pak Bram seraya menatap istrinya dengan intens.


Bu Linda hanya diam saja setelah mendapatkan pertanyaan tersebut. Beliau pun ikut memikirkan masa depan gadis malang yang ada di apartment. Entah mengapa, perasaan bu Linda menjadi sedih setelah melihat sendiri keadaan Fay saat ini. Rasa iba memenuhi hati wanita cantik itu.


"Ah, Mami ada ide! Tapi jika Papi setuju ya ini!"


"Apa?"


"Nikahkan saja Arvin dan Fay! Dengan begitu kita bisa menjalankan amanat dari Hardi kan?" Bu Linda menatap pak Bram penuh arti.


"Mami yakin Arvin mau mengikuti keinginan kita?" Pak Bram meyakinkan pendapat sang istri.


"Paksa dong, Pi! Ancam dia atau bagaimana gitu! Dia sudah waktunya menikah, tiga puluh tahun loh, Pi!" Bu Linda menatap sang suami penuh arti, "kalau dia tidak dipaksa menikah, dia tidak akan bisa melupakan wanita bersuami itu! Memang Papi mau, anak kita terus memikirkan mantannya itu! Macam gak ada wanita lain di dunia ini!" cecar bu Linda tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain.


Pendapat bu Linda tidak ada salahnya. Pak Bram menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil memikirkan pendapat sang istri. Beliau sedang mencari cara agar bisa menaklukkan hati putranya. Selama ini Arvin enggan untuk membahas cinta apalagi pernikahan. Entahlah, sampai kapan putranya itu akan hidup dalam bayang-bayang cinta dari mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Papi sudah menemukan cara untuk menaklukkan Arvin! Mami harus membantu rencana Papi kali ini!" ujar pak Bram seraya tersenyum penuh arti, "telfon dia biar keluar dari kamarnya!" ujar pak Bram seraya meraih ponsel bu Linda yang ada di atas meja.


Selang beberapa menit kemudian, derap langkah Arvin saat menuruni anak tangga menggema di ruang keluarga. Pria tampan itu mengayun langkah menuju ruang keluarga untuk menemui kedua orang tuanya. Ia harus meninggalkan semua pekerjaan begitu saja ketika mendengar perintah ibunya.


"Ada apa, Mi?" tanya Arvin setelah duduk di sofa tak jauh dari bu Linda.


"Papi mau bicara sama kamu tuh!" ujar bu Linda seraya menatap pak Bram.


Arvin mencoba menerka apa kiranya yang akan disampaikan oleh ayahnya. Ia tahu pasti ada hal yang sangat penting hingga pak Bram sendiri yang harus menyampaikan. Apalagi, setelah melihat ekspresi wajah ayahnya, Arvin pun semakin tidak sabar untuk mendengar berita tersebut.


"Apa kamu ingat om Hardi, Vin?" tanya pak Bram seraya menatap putranya dengan lekat.


"Om Hardi?" Arvin menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan untuk mengingat sosok tersebut, "teman Papi itu 'kan?" tanya Arvin setelah ingat dengan sosok yang disebutkan pak Bram.


"Ya. Dia meninggal beberapa hari yang lalu. Dua hari yang lalu Papi baru bisa datang ke rumah duka," ucap pak Bram.


"Beberapa hari sebelum Hardi meninggal, dia menitipkan pesan kepada Papi, untuk menjaga putrinya yang kuliah di Amerika. Papi sudah menemukan putrinya om Hardi dan ternyata dia sedang ada di Indonesia." Pak Bram menatap Arvin penuh arti.


Kini, Arvin mulai paham kemana arah pembicaraan ayahnya itu. Pasti semua ini tidak jauh dari pernikahan. Sungguh, Arvin sangat malas jika harus membahas masalah pernikahan lagi. Ia belum mempunyai keinginan untuk ke jenjang tersebut, apalagi belum mengenal sama sekali tentang wanita yang dimaksud ayahnya.


"Terus?" tanya Arvin dengan ekspresi yang berubah menjadi datar.


"Papi harap kali ini kamu memenuhi permintaan Papi. Menikahlah dengan dia. Papi yakin dia pasti bisa menjadi istri yang baik untukmu!" ujar pak Bram dengan sorot mata penuh harap.

__ADS_1


Arvin menghela napas berat setelah mendengar permintaan itu. Sudah berkali-kali bu Linda ataupun pak Bram menyuruhnya untuk menikah. Jawaban yang ia miliki tetaplah sama, ia belum ingin menikah. Bujuk rayu bu Linda terdengar di sana. Arvin pun tetap menolak keinginan ibunya itu hingga pada akhirnya, pak Bram pun mengucapkan satu hal yang berhasil membuat Arvin membeku.


"Jika kamu menolak pernikahan ini. Maka kamu akan Papi coret dari hak waris Papi. Jangan harap kamu bisa menjadi pemimpin perusahaan ataupun memiliki semua aset Papi di masa depan. Papi tidak mau lagi memberimu fasilitas seperti saat ini. Pikirkan ini baik-baik, Vin!" Ancaman itupun akhirnya terucap dari bibir pak Bram, "Papi tidak main-main kali ini!" tegas pak Bram seraya menatap Arvin dengan intens.


Setelah mengucapkan ancaman tersebut, pak Bram pun beranjak dari tempatnya. Beliau pergi meninggalkan ruang keluarga dan sepertinya berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Bu Linda hanya bisa menghela napasnya setelah melihat wajah masam putranya itu.


"Arvin! Pikirkan ini baik-baik! Tidak ada salahnya kamu menikah dengan putrinya Hardi. Dia cocok kok menjadi pendampingmu! Mami sudah bertemu dengan dia. Jangan membuat Papimu marah. Ingat! Papimu tidak pernah ingkar dengan ucapannya, Sayang," ucap bu Linda sebelum berlalu dari ruang keluarga untuk menyusul sang suami.


Arvin memukul sofa yang ditempatinya saat ini. Ancaman tersebut benar-benar membuatnya resah, karena tidak mungkin ia bisa bertahan tanpa semua fasilitas dari ayahnya. Hidup sebagai anak tunggal membuat Arvin begitu tergantung dengan kekayaan orang tuanya. Meskipun, ia sendiri belum memiliki jabatan tinggi di perusahaan milik orang tuanya. Kali ini Arvin tidak mau bertindak bodoh yang akan membuatnya susah di masa depan.


"Kenapa harus menikah sih!" gumam Arvin setelah berdecak.


Arvin termenung di ruang keluarga cukup lama. Ia sedang menerka gadis seperti apa yang menjadi pilihan orang tuanya itu. Ia takut tidak bisa memberikan hati dan cintanya untuk wanita tersebut, karena selama ini Arvin masih mencintai mantan kekasihnya. Belenggu cinta wanita berhijab yang sudah mempunyai suami itu pun masih menawan hatinya. Arvin belum bisa melupakan pesona wanita kalem tersebut.


"Sial! Pilihan yang sulit!" umpat Arvin karena tidak menemukan solusi yang tepat atas permasalahan ini.


...🌹Selamat membaca🌹...


.


βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–


Ada rekomendasi novel keren untuk kalian nih😍 Kalian wajib baca karya dari author Desy Puspita dengan judul My Possessive Billionair . Serius dah, kalian wajib baca😍

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2