
Indonesia.
Mobil putih milik Dira sampai di tempat parkir rumah tahanan di Jakarta selatan. Setelah beberapa kali datang ke tempat ini dan tidak mendapat izin untuk bertemu Raka, akhirnya tibalah saatnya Raka diperbolehkan untuk dijenguk. Pasca sidang keputusan tersangka kasus yang menjerat itu. Pihak kepolisian melarang keras siapapun bertemu dengan tersangka.
"Silahkan Nona tunggu dulu. Nanti akan saya panggil jika sudah giliran Nona," ucap seorang petugas lapas yang ada di bagian depan.
Dira mengikuti perintah dari petugas itu. Dia duduk di bangku panjang yang ada di ruang tunggu untuk menunggu giliran. Wanita itu terlihat cemas karena takut jika Raka tidak mau menerima semua kenyataan ini. Telapak tangan itu terus mengeluarkan keringat dingin karena degup jantung yang tak beraturan.
Suara panggilan atas nama Dira terdengar di sana. Sang petugas lapas mengantar Dira ke salah satu ruangan untuk bertemu dengan Raka. Dia duduk di sana di kursi tunggal yang tersekat meja persegi menunggu kedatangan Raka.
"Dira,"
Sang pemilik nama menegakkan wajahnya setelah mendengar suara bariton itu. Tatapan mata keduanya bersirobok, mengisyaratkan perasaan yang terpendam dalam diri masing-masing. Bibir wanita itu terasa keluh setelah melihat wajah tampan yang terlihat lesuh itu.
"Duduklah!" ujar Raka setelah melihat Dira beranjak dari tempatnya.
Entah mengapa, Dira mendadak sedih ketika melihat wajah pria yang selama ini menemani hari-harinya. Tangan itu pun reflek menyentuh perut yang masih rata, lalu diusapnya dengan lembut perut itu dengan pandangan yang tak lepas dari Raka.
"Bagaimana kabarmu?" Pada akhirnya Raka memecah keheningan yang terasa di antara keduanya.
Raka mendadak bingung melihat sikap yang ditunjukkan Dira saat ini. Gadis yang biasa terlihat ceria kini hanya bisa menatapnya dengan sorot mata sendu. Raka mencoba menerka apa kiranya yang sudah terjadi dengan wanita yang menarik perhatiannya selama ini.
"Ada apa, Dir? Apa kamu sedang berada dalam masalah?" tanya Raka dengan sorot mata menyelidik.
__ADS_1
Tanpa diduga, bulir air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata. Raka semakin bingung menghadapi Dira saat ini, "waktu kita tidak banyak, Dir. Katakan saja apa yang membuatmu menangis seperti ini?" tanya Raka sekali lagi.
Dira mengusap air matanya, tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas dan menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Raka. Dia menyuruh pria itu untuk membuka amplop tersebut agar mengetahui isinya.
"Apa ini?" Raka menautkan alisnya setelah melihat foto gelap yang ada di dalam sana.
"Aku hamil." Akhirnya Dira mengatakan hal itu kepada Raka. Lantas dia membantu Raka mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalam amplop tersebut. Ada surat dari dokter dan juga tespek yang dulu dia simpan.
Raka terbelalak sempurna setelah mendengar kabar mengejutkan itu. Dia mengusap wajahnya kasar karena satu masalah mulai muncul kembali dalam hidupnya. Dia tidak menyangka jika perbuatannya selama ini menumbuhkan benih di rahim patnernya selama ini.
"Aku hamil empat minggu," ujar Dira seraya menatap Raka dengan sendu.
Pria bertubuh kekar itu menggeleng beberapa kali karena shock atas kabar yang disampaikan oleh Dira. Dia tidak percaya jika semua ini adalah kenyataan yang harus diterima atas semua perbuatan yang sudah dia lakukan.
Tentu saja hal ini membuat Dira terkejut bukan main. Dia terhenyak dari tempatnya dengan sorot mata penuh amarah kepada pria yang sedang termenung itu, "apa maksudmu bertanya seperti itu? Aku hanya melakukannya denganmu, Ka!" Emosi Dira mulai tersulut.
"Maaf, tapi aku belum bisa menerima kenyataan ini," ucap Raka tanpa menatap Dira, "aku tidak tahu bagaimana dirimu yang sesungguhnya, Dir. Apa aku salah jika bertanya tentang semua ini?" Raka seakan tidak memiliki hati lagi untuk wanita malang yang ada di hadapannya itu.
"Dasar pria brengsek!" teriak Dira di sela-sela tangisnya, "aku hanya melakukannya denganmu! Dia adalah darah dagingmu!" ujar Dira sambil menunjuk perutnya yang tertutup kemeja berwarna putih itu.
Setelah mengeluarkan isi hatinya, Dira pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Raka seorang diri di sana, padahal waktu besuk masih cukup panjang. Setelah kepergian Dira dengan membawa segenggam luka, Raka pun berteriak histeris di sana. Dia memukul meja itu hingga tangannya menjadi merah. Pria bertubuh kekar itu tidak tahu harus bagaimana lagi keluar dari situasi ini.
"Masalah satu belum selesai malah udah nambah masalah baru!" gerutu Raka sambil memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
Sementara itu, di luar rumah tahanan Dira menangis pilu. Dia tidak perduli meski banyak pasang mata yang memandang ke arahnya. Wanita malang itu bersandar di pintu mobilnya sambil menangis. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi setelah ini karena pria yang dia harapkan tega melakukan semua itu kepadanya. Padahal, kenyataannya memang seperti itu dan tidak salah jika Raka bertanya tentang kejelasan benih yang sedang tumbuh di rahimnya. Ya, ironisnya Dira sendiri tidak tahu pasti siapa ayah dari benih yang ada dalam kandungannya.
"Lebih baik aku pergi dari tempat ini!" ujar Dira seraya membuka pintu mobilnya.
Suara ponsel yang berdering membuat Dira harus mengurungkan niatnya saat bersiap mengarahkan setir mobil ke arah pintu keluar. Dia harus menjawab telfon itu terlebih dahulu siapa tahu ada kabar penting dari perusahaan. Mata sembab itu terbelalak sempurna setelah melihat nama keramat terlihat jelas di layar ponselnya.
"Rico? Untuk apa dia menghubungiku lagi?" Dira bergumam sebelum mengangkat telfon itu lagi.
Dua kali nomor pribadi Rico menghubunginya dan kali ini Dira harus mengangkatnya untuk mengetahui alasan pria beristri itu menghubunginya lagi, "ada apa?" pertanyaan itu langsung pada intinya.
"Aku sedang di Jakarta karena ada keperluan penting. Aku ingin bertemu denganmu, Honey," ucap Rico dengan suara yang terdengar berat.
"Gak! Perjanjian kita sudah berakhir sejak istrimu datang ke rumahku!" tolak Dira dengan tegas.
"Ingatlah, Honey! Perjanjian kita tertulis selama dua tahun dan surat itu kita tanda tangani berdua di atas materai. Jadi, jika aku menuntutmu ke jalur hukum, pasti kamu bisa masuk penjara, Honey. Lebih baik masuk hotel bersamaku bukan, kita main yang lebih seru dari sebelumnya," ucap Rico dengan diiringi gelak tawa yang membuat Dira harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aku tidak perduli! Aku benci keadaan ini!" teriak Dira sebelum memutuskan sambungan telfon itu.
Wanita malang itu tergugu dengan kepala tertunduk di atas setir mobil. Kali ini beban yang dipikulnya lebih berat daripada memikul beban hutang yang ditimbulkan oleh Reno. Rasanya, Dira tidak sanggup menghadapi semua ini seorang diri. Dia butuh teman untuk mengeluarkan semua beban di hatinya.
"Kenapa harus aku yang merasakan semua ini? Kenapa!" teriak Dira sambil memukul setir mobilnya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍 Btw ada yang minat gak kalau Dira dan Raka dibikinin novel sendiri😎komen yuk!"🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...