
Dua bulan kemudian,
Langit tampak redup karena hujan baru saja membasahi bumi. Padahal, waktu masih terlalu pagi untuk merasakan dinginnya udara di musim hujan. Fayre masuk ke dalam rumah setelah mengantar keberangkatan sang suami sampai di teras. Arvin membawa koper kecil berisi beberapa pakaian karena dia akan ke Solo untuk meninjau proyek yang ada di sana selama beberapa hari ke depan.
"Duh, ngapain ya, jam segini di rumah sendiri? Mana udaranya cocok banget buat tidur," gumam Fayre setelah sampai di ruang keluarga, "lebih baik aku nonton saja lah, pasti banyak drakor baru minggu ini," lanjutnya sambil menekan tombol remote.
Duduk bersandar sambil menyaksikan adegan romantis film yang dibintangi oleh artis favoritnya Ji Cha Wook, membuat Fay betah duduk di sofa panjang itu. Apalagi, dipangkuannya ada satu toples camilan yang menemani, bisa sampai siang menantu bu Linda itu duduk di sana.
"Hei! Apa-apaan kalian ini! Kenapa bertengkar!" gerutu Fayre saat melihat pemeran utama dalam film tersebut bertengkar dengan pasangannya.
Sesekali Fayre menitikkan air mata karena terbawa suasana dalam film yang diperankan oleh Ji Chang Wook. Sepertinya dia sedang mendalami peran menjadi lawan main aktor tampan tersebut.
Detik demi detik terus berlalu. Tidak terasa waktu sudah berada di angka sebelas siang. Akan tetapi Fayre masih betah duduk di ruang keluarga dengan kegiatan yang sama. Pandangannya harus teralihkan dari layar televisi setelah ART yang bekerja di rumahnya datang menghampiri.
"Maaf, Nyonya muda. Ada surat untuk Nyonya," ucap ART tersebut sambil menyerahkan amplop cokelat kepada Fayre.
"Terima kasih, Bi," ucap Fayre saat menerima surat tersebut.
"Pengadilan Negeri?" Fayre bergumam setelah melihat kop surat yang ada di bagian depan amplop tersebut.
Tangannya tiba-tiba saja gemetar saat membuka amplop tersebut. Dia mencoba menerka kesalahan apa yang membuatnya harus dipanggil oleh pengadilan negeri. Sungguh, Fayre merasa takut saat ini. Selembar kertas yang dilipat itu telah terbuka dan Fayre membaca isi surat panggilan untuknya itu. Alangkah terkejutnya wanita berdarah Jepang itu setelah membaca isi surat tersebut sampai selesai.
"Apa-apaan ini? Gugatan cerai dari Arvin?" Fayre seperti membuka bungkus petasan yang siap meledak. Terkejut dan shock.
Napasnya memburu setelah meletakkan surat tersebut di sofa. Dia mengusap dada beberapa kali karena degup jantungnya berdetak tak karuan. Tubuh yang terbalut midi dress itu tiba-tiba saja terasa lemas karena tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
"Ini serius atau hanya prank saja?" Fayre bergumam dengan suara yang lirih. Tidak terasa, air matanya tiba-tiba saja mengalir deras. Dia tergugu di sana karena tidak sanggup menghadapi semua ini.
__ADS_1
"Aku harus ke kantor! Aku harus bertemu Arvin! Tidak perduli meski aku harus menyusulnya ke Solo." Fayre beranjak dari tempatnya saat ini. Dia berlari menuju lantai dua untuk mengambil ponsel dan tas slempangnya.
Fayre harus cepat sampai di kantor karena Arvin akan berangkat ke Solo setelah makan siang. Fayre pergi tanpa mengganti pakaian ataupun memoles wajahnya dengan make up. Dia berbekal masker dan kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya yang sembab. Kali ini dia berangkat bersama sopir dan tidak lupa dia pun membawa surat yang membuatnya hampir gila.
****
Sementara itu, di ruangan utama gedung yang menjulang tinggi, ada dua orang pria yang sedang berbicara serius. Tatapan mata keduanya saling bersirobok saat membahas masalah penting yang sudah terjadi.
"Pak Rofan, untuk kali ini, tolong jangan beritahu Mami dan Papi. Saya tidak mau mereka memikirkan masalah saya. Tolong, Pak." Sorot mata penuh harap terpancar dari mata Arvin, "saya ingin menyelesaikan masalah saya sendiri." Arvin menghela napasnya setelah mengatakan hal itu.
Keputusan besar telah diambil Arvin tanpa berbicara kepada Fayre. Dia tetap keukeh menyembunyikan kebenaran akan dirinya dari Fayre. Rasa frustasi karena program hamil yang dia jalani tak kunjung membuahkan hasil, membuatnya mengambil keputusan besar yang konyol dan menentang aturan agama.
"Baiklah. Untuk kali ini saya akan menjaga rahasia ini. Saya harap Tuan muda memikirkan hal ini sekali lagi. Cepat atau lambat Tuan Bram pasti mendengar kabar ini meski bukan saya yang memberi tahu," ucap Rofan setelah memikirkan permintaan Arvin.
Pria matang tersebut bukan tanpa sebab menyetujui semua itu. Dia hanya ingin melihat sejauh mana pikiran Arvin dalam menghadapi masalahnya. Mungkin, ini lah saat yang tepat untuk membiarkan Arvin berpikir lebih dewasa lagi.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih," ucap Arvin dengan senyum tipis, "bagaimana dengan apartment yang saya inginkan?" tanya Arvin setelah teringat pesanannya satu minggu yang lalu.
Ya, pergi ke Solo hanya sebuah alasan Arvin pergi membawa beberapa barangnya dari rumah. Dia memilih untuk tinggal di tempat lain dan membiarkan Fayre tinggal di rumah utama. Ini adalah salah satu cara yang terbaik menurut Arvin.
"Saya harap Tuan muda memikirkan ini sekali lagi." Rofan masih berusaha membujuk pria yang menjadi atasannya itu, karena dia merasa ada yang tidak beres dengan semua yang dihadapi oleh Arvin.
"Keputusan saya sudah bulat, Pak. Saya tidak bisa menjalani hari-hari penuh kepalsuan ini," ucapnya tanpa menatap Rofan.
Beberapa saran telah diucapkan Rofan untuknya. Sifat keras kepala dan ceroboh yang dimiliki Arvin, telah membuatnya menjadi seperti ini. Dia tetap pada keputusan bodohnya dengan menggugat cerai sang istri.
Brak!
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka keras. Arvin pun berdiri dari tempatnya setelah melihat kehadiran Fayre di sana. Meski sebagian wajahnya tertutup Masker, Arvin tahu jika wanita yang sedang berjalan ke arahnya itu sedang murka.
"Saya permisi, Tuan muda," pamit Rofan setelah melihat kehadiran Fayre di sana. Asisten setia itu hanya memberi ruang kepada sepasang suami istri itu untuk bicara.
Napas Fayre tersengal saat beradu pandang dengan Arvin. Dia mencoba untuk menetralkan degup jantungnya terlebih dahulu sebelum membahas semua kegilaan yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Apa ini?" Fay menunjukkan surat panggilan dari Pengadilan Negeri kepada Arvin.
"Seperti yang kamu baca," jawab Arvin tanpa ekspresi.
"Ini serius atau hanya Prank?" tanya Fayre tanpa melepaskan pandangan dari wajah tampan di hadapannya itu.
"Serius!"
"Aku sedang tidak ulang tahun, Arvin! Kejutan macam apa ini?" tanya Fayre dengan mata yang berembun.
"Aku sudah lelah menjalani drama rumah tangga ini!" ujar Arvin hingga membuat Fayre semakin terkejut.
"Katakan dengan jelas!" titah Fayre sambil menatap manik hitam sang suami.
Setelah termenung beberapa detik, Arvin pun menyampaikan alasan yang membuat surat panggilan tersebut harus diterima oleh Fay, "aku tidak mencintaimu. Selama ini aku hanya berpura-pura saja! Aku menikahimu karena terpaksa dan sampai saat ini aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu!" ujar Arvin saat pandangannya bersirobok dengan Fayre.
Plak. Satu tamparan keras mendarat begitu saja di pipi kiri Arvin. Sebuah hadiah dari Fayre untuknya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
Note:
__ADS_1
Ada yg emosi melihat karakter Arvin di sini? Oke, jadi begini ya emak-emak kesayangan othor. Di sini memang othor sengaja membuat karakter pria seperti Arvin. Othor tidak bisa membuat karakter maha sempurna. Sekadar info saja, karakter Arvin othor ambil dari seseorang yang ada di real life🤭 jadi setelah ini siapkan tenaga untuk menyerang Arvin😎
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...