
Beberapa bulan kemudian,
Aroma obat-obatan menyeruak ke dalam indera penciuman. Suara alat-alat kesehatan bagai melodi yang menemani Dira selama beberapa hari ini. Dengan kondisi perut yang sangat besar, dia harus merawat bu Lisa di rumah sakit. Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke tiga puluh enam. Menurut dokter, hari perkiraan lahir pun kurang beberapa hari lagi akan tetapi wanita cantik itu masih menunggu sosok yang terlihat sangat lemah itu.
"Ma, Dira suapin ya. Mama harus makan biar cepat sembuh," bujuk Dira dengan suara yang terdengar lembut.
Sementara bu Lisa hanya menggelengkan kepalanya saat sendok berisi bubur itu ada di dekat bibirnya. Sudah dua hari ini bu Lisa kekurangan nutrisi makanan yang membuat kondisi tubuhnya semakin menurun.
"Mama harus semangat sembuh biar bisa melihat cucu Mama lahir sebentar lagi." Dira tersenyum simpul saat mengatakan hal itu.
Namun, bukannya membalas senyuman dari putri bungsunya, bu Lisa malah menangis hingga air matanya mengalir deras. Tentu keadaan ini membuat Dira menjadi bingung. Dia takut bu Lisa merasakan sakit di bagian tubuhnya.
"Ma, ada apa, Ma?" Dira terlihat panik. Dia meletakkan piring berisi makanan di atas nakas dan setelah itu diraihnya tangan dingin bu Lisa ke dalam genggaman tangannya.
"Mama mau dipanggilkan dokter?" tanya Dira lagi. Dia beranjak dari tempat duduknya dan membungkukkan tubuh untuk mendekatkan telinganya di bibir bu Lisa. Wanita paruh baya itu sudah tidak bisa berbicara dengan suara yang lantang seperti dulu.
"Maafkan semua kesalahan Mama, ya, Nak. Mama dan kakakmu yang membuat kamu menjadi seperti ini. Kamu harus menanggung semua beban ini sendiri dan kamu harus berjuang melahirkan anakmu tanpa seorang suami," ucap bu Lisa dengan suara yang lirih dan tidak seberapa jelas karena diselingi dengan isak tangis.
Mendengar ungkapan penyesalan dari wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini, membuat Dira tak kuasa menahan air mata. Tentu dia tergugu karena sisi kelam yang dia sembunyikan akhir-akhir ini terus meronta di dalam hati. Wanita berbadan dua yang sedang merengkuh tubuh ibunya itu nyatanya tidak sekuat biasanya. Perasaan dalam hatinya menjadi tak karuan dalam situasi ini.
"Mama jangan bilang begitu. Semua ini adalah takdir Tuhan. Dira bisa menerima semua ini kok, Ma. Dira hanya ingin Mama cepat sembuh agar bisa menemani Dira menyambut kehadiran cucu Mama ini," bisik Dira di sela-sela tangisnya.
Kedua wanita berbeda generasi itu saling menguatkan dalam keadaan yang membuat napas tersengal. Dira harus menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja terasa di perut bawahnya. Lagi dan lagi dia harus merasakan kontraksi palsu.
__ADS_1
"Nak, kamu harus kuat!" batin Dira sambil mengusap perutnya.
Rasa sesal yang begitu dalam telah dirasakan oleh bu Lisa. Setelah terpuruk akibat kepergian Reno untuk selama-lamanya, masalah yang besar pun menghantam putrinya. Apalagi yang tersisa dari seorang ibu selain kehancuran setelah melihat kehidupan buah hatinya harus berantakan. Menyesal pun tidak ada gunanya karena semua sudah terlanjur terjadi.
"Bagaimana Mama bisa sembuh, sementara Mama sendiri tidak bisa memaafkan diri Mama sendiri," batin bu Lisa, "setiap hari rasa bersalah selalu menghantui, bukan hanya kepadamu, Nak melainkan kepada mas Hardi dan Fayre. Mama pernah berbuat jahat kepada mereka. Bahkan, Mama menghianati ayah tirimu itu dengan berkencan dengan pengacaranya di saat dia terbaring di rumah sakit," lanjut bu Lisa dengan air mata yang tak henti mengalir.
Rasa bersalah tentu sangatlah besar, apalagi beliau tidak bisa memohon pengampunan kepada suami yang memberinya kehidupan layak. Bayang-bayang dosa yang begitu besar membuat dada bu Lisa berdenyut hebat hingga membuatnya tersengal-sengal.
"Mama! Mama ini kenapa, Ma?" Dira terkejut ketika melihat kondisinya ibunya saat ini. Mata melotot dengan napas yang tersengal. Wanita berbadan dua itu segera meraih tombol nurse call agar segera mendapat pertolongan.
Tidak sampai satu menit, dua orang suster masuk ke dalam ruangan inap itu. Mereka pun terlihat panik setelah melihat kondisi bu Lisa saat ini. Salah satu di antaranya berinisiatif untuk membawa bu Lisa ke ruang ICU saja agar mendapat perawatan intensif.
"Tolong, Mama saya, Sus. Lakukan yang terbaik!" ujar Dira saat kedua suster tersebut mendorong bed pasien yang ditempati bu Lisa.
Langit yang biru telah berubah menjadi gelap, pertanda datangnya sang dewi malam. Suasana di rumah sakit semakin lama semakin sepi. Bahkan, derap langkah pun tidak terdengar lagi di sekitar ruang tunggu pasien ICU.
"Non, Jangan sampai tidak makan. Kasihan bayi Nona," ujar ART yang menemani Dira sejak tadi sore.
"Saya tidak lapar, Bi," jawab Dira dengan
suara yang lirih. Hati dan pikirannya sedang tidak tenang karena memikirkan kondisi bu Lisa saat ini.
Wanita paruh baya itu dinyatakan dokter mengalami koma. Kondisinya begitu memprihatinkan karena kelopak matanya tidak bisa ditutup serta rahangnya mengeras hingga membuat bibir pucat itu ternganga. Tim dokter sudah melakukan beberapa langkah yang terbaik, akan tetapi belum berhasil membuat keadaan bu Lisa normal kembali.
__ADS_1
"Kenapa perutku sakit banget ya," batin Dira saat merasakan kontraksi hebat pada perutnya hingga dia meringis karena menahan sakit.
"Apa Nona muda sakit?" tanya ART tersebut setelah melihat ekspresi wajah sang majikan.
"Perut saya sakit banget, Bi," keluh Dira sambil mencengkram ujung jaketnya.
"Apa mungkin Nona muda mau melahirkan?" tanya wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu, "lebih baik kita ke IGD saja ya, Non." Asisten rumah tangga itu terlihat panik setelah melihat keadaan Dira.
Dira pun akhirnya mengikuti saran wanita yang ada di sisinya saat ini, karena takut terjadi sesuatu kepada janinnya. Dia berjalan menuju IGD yang ada di bagaian depan gedung ini dengan berjalan kaki bersama asisten rumah tangganya.
Langkah demi langkah telah dilalui dengan rasa sakit yang begitu hebat. Dira akhirnya sampai di tempat tujuan. Seorang dokter jaga segera menghampiri Dira yang sudah berbaring di atas bangkar.
"Kalau dilihat dari tanda-tandanya sih sepertinya Nona mau melahirkan ini," ucap dokter tersebut setelah melakukan pemeriksaan.
"Melahirkan, Dok? Secepat ini kah?" Dira tidak menyangka jika berada dalam situasi yang sulit ini.
Helaian napas berat terdengar di sana karena Dira belum siap dengan semua ini. Bahkan, perlengkapan melahirkan yang sudah disiapkan pun masih ada di rumah. Dira tidak tahu harus bagaimana menyambut kelahiran anaknya di tengah badai yang menerjang ini. Satu hal yang pasti dia butuh seseorang yang bisa menemaninya nanti. Dira pun meraba tas slempang yang ada di sisinya untuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Dua kali sudah dia berusaha menelfon pria yang ada di seberang sana.
"Aku akan melahirkan. Aku tidak tahu bagaimana caranya, bawa Raka ke rumah sakit untuk menemaniku dalam perjuangan berat ini. Kalau kamu tidak bisa, akan aku membuang keturunan keluarga Nugroho ini!" Dira terpaksa mengancam Erico agar mencari cara untuk menjemput Raka walau untuk sesaat.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1