Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Fitting Gaun,


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


Satu persatu persiapan pernikahan diantara Fay dan Arvin telah diselesaikan. Setelah mengikuti KPP(Kursus Persiapan Pernikahan) dan kanonik, kini mereka tinggal menunggu beberapa minggu saja menuju pemberkatan.


Undangan dan segala macam kebutuhan pesta sudah disiapkan WO yang bertugas. Sebelum mengikuti proses KPP, Fay dan keluarga Bramasta sempat pergi ke Amerika, karena Fay harus mengikuti wisuda magister. Arvin dan Fay pun melakukan foto prewedding di sana, bersama fotografer cukup terkenal di Amerika.


Kini, tinggal satu langkah yang belum mereka lakukan, yaitu Fitting baju di salah satu butik langganan bu Linda. Mungkin, pagi ini calon pengantin tersebut akan pergi ke butik setelah pulang dari gereja untuk melengkapi beberapa hal.


"Kita langsung ke butik kah?" tanya Arvin setelah keluar dari gereja. Mereka sedang berjalan menuju mobil milik Arvin yang terparkir di antara pohon cemara.


"Ya," jawab Fay dengan singkat tanpa menatap Arvin. Ia segera masuk ke dalam mobil setelah Arvin sendiri yang membukakan pintu tersebut.


Komunikasi di antara Fay dan Arvin berjalan lancar, meskipun mereka jarang bertemu. Arvin sendiri sibuk dengan pekerjaan di kantor, ia harus mempersiapkan segala hal, karena setelah menikah pak Bram resmi menyerahkan segala urusan kantor utama kepada Arvin. Pria paruh baya itu benar-benar menepati janjinya kepada Arvin.


"Fay, kamu yakin ingin mengundang ibu tirimu dan putrinya?" tanya Arvin tiba-tiba setelah teringat jika Fay mengundang bu Lisa ke pernikahannya nanti atas nama pak Bram.


"Tentu, aku sangat yakin." Fay menatap Arvin untuk sekilas dan setelah itu, ia mengalihkan pandangan ke depan.


Sebentar lagi, kejutan untuk bu Lisa telah siap. Fay penasaran saja, bagaimana nanti respon bu Lisa setelah melihatnya menikah. Apalagi, Fay akan menjadi menantu konglomerat terkenal di negara ini. Pasti momen itu sangat mengesankan bagi Fay.

__ADS_1


"Dia pasti terkejut setelah membaca undangannya. Apalagi setelah membaca namamu di sana, Fay," ucap Arvin dengan diiringi senyum tipis.


"Memang itu yang aku harapkan." Fay tersenyum simpul saat mengatakan hal ini.


Arvin kembali fokus dengan kemudinya karena tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Mobil terus melaju menuju butik rekan bu Linda. Semua pakaian pernikahan sengaja dipesan di sana karena kualitasnya tidak diragukan lagi.


Setelah berada di jalanan selama beberapa puluh menit, pada akhirnya mereka sampai di butik yang dimaksud. Fay keluar dari mobil setelah Arvin yang membukakan pintu untuknya. Arvin meraih tangan Fay untuk digenggamnya, meski Fay kurang nyaman dengan hal itu.


"Udahlah lepasin tanganku! Jangan seperti orang mau nyebrang kenapa sih!" protes Fay setelah masuk ke dalam butik. Ia berbisik kepada Arvin.


"Diam! Jangan banyak protes!" ujar Arvin dengan suara yang lirih. Ia tak sedikitpun menatap Fay yang ada di sisinya.


"Ini gaun untuk Nona Fay," ucap pemilik butik tersebut seraya menunjukkan gaun mewah yang ada di manequien, "silahkan dicoba," lanjutnya.


Fay segera masuk ke dalam ruang ganti dengan diikuti pegawai butik tersebut. Setelah menyerahkan gaun berwarna putih tulang itu, pegawai butik segera keluar dari ruang ganti. Sementara Arvin memilih duduk di sofa panjang saat menunggu Fay.


Beberapa menit kemudian, Fay keluar dari ruang ganti. Ia berdiri tepat di hadapan Arvin yang sedang menatapnya tanpa berkedip. Arvin tercengang melihat kecantikan calon istrinya saat ini.


"Cantik! Aku suka!" Hanya itu komentar yang dilontarkan Arvin untuk gaun yang melekat di tubuh Fay saat ini.

__ADS_1


Pemilik butik itu mengamati gaun yang dipakai oleh Fay. Beberapa bagian ada yang perlu dipermak agar gaun tersebut menjadi sempurna. Bentuk tubuh Fay yang proposional semakin membuat gaun tersebut semakin indah.


"Bisa tidak bagian dada nya ditutup? Biar tidak terlalu terekspos seperti ini?" tanya Fay setelah mengamati penampilannya di kaca yang ada di depan ruang ganti. Jujur saja Fay sedikit risih melihat model gaun tersebut.


"Maaf, Nona. Saya tidak berani dengan calon suami Nona, karena dia sendiri yang meminta model gaun seperti ini," ucap pemilik butik tersebut dengan nada penuh sesal.


Fay segera mengalihkan pandangan ke arah Arvin. Ia menatap calon suaminya itu dengan tatapan sinis. Fay semakin kesal karena Arvin hanya tersenyum tanpa rasa berdosa sedikitpun.


"Dasar pria mesum! Gak malu apa ya, liat calon istrinya tampil terbuka seperti ini!" umpat Fay dalam hati.


...🌹Selamat Membaca🌹...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo pemirsah😎 aku ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian😍 Kuy kepoin karya author CovieVy dengan judul Super God System: HEALER. Serius dah ini novel keren banget❤️



...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2