
Rasa panas tentu saja terasa di pipi pria tampan itu. Tamparan dari sang istri mendarat keras di sana. Tentu tamparan itu adalah bentuk dari rasa sakit yang menghujam hati wanita cantik yang malang itu. Digugat cerai tanpa tahu letak kesalahannya.
"Omong kosong macam apa ini?" tanya Fayre dengan mata yang terbelalak.
"Ini bukan omong kosong. Tapi ini adalah kenyataannya Fay! Aku sudah muak menjalani drama yang sudah berjalan hampir dua tahun ini! Aku lelah karena tidak menemukan cinta untukmu!" ujar Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang istri.
"Kamu pikir aku wanita bodoh?" Urat-urat leher Fayre terlihat mengeras karena menahan amarah di dada. Matanya pun mulai merah karena tak sanggup menahan bendungan besar di sana.
"Bukankah kamu sudah tahu jika agama kita melarang sebuah perceraian? Apakah kamu lupa saat kita menikah, imam pernikahan mengatakan apa?" cecar Fayre tanpa mengalihkan pandangannya dari Arvin, "baiklah! Jika kamu lupa, maka akan aku ingatkan!" Nada bicara Fayre penuh penekanan.
"Kalian bukan lagi dua, tapi sudah menjadi satu. Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia, kecuali oleh kematian!" ujar Fayre dengan suara yang lantang.
"Lalu bagaimana bisa ada surat gila ini datang untukku?" Fayre menunjukkan surat tersebut di dekat wajah Arvin.
Keheningan tiba-tiba saja terasa di sana. Arvin tidak bisa menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir Fayre. Ada rasa tidak tega saat melihat bulir air mata yang membasahi pipi mulus itu. Sungguh, rasanya dia ingin lari dari situasi ini.
"Aku sudah mencoba untuk belajar mencintai kamu selama kita menikah. Namun, sampai detik ini aku belum menemukannya, Fay! Aku sudah lelah berpura-pura di hadapan semua orang!" Arvin tetep keukeh pada pendiriannya, "lagi pula aku pun sudah mendapatkan semuanya dari Papi. Aku sudah sah menjadi pemilik perusahaan ini!" ujarnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
Sakit tapi tak berdarah. Mungkin inilah yang sedang dirasakan Fayre saat ini. Sedikitpun dia tidak percaya dengan semua alibi yang dikatakan oleh Arvin. Bohong. Ya, Fayre tahu jika Arvin sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Adelia Winata! Amelia Wardah! Apakah salah satu di antara kedua wanita ini yang menjadi alasan kenapa kamu ingin menceraikan aku?" tanya Fayre ketika teringat nama-nama keramat tersebut.
Arvin tertegun setelah mendengar tuduhan itu. Dia tidak menyangka jika Fayre akan menyeret dua nama yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua ini, "jangan menyeret orang lain dalam permasalah kita, Fay!" kilah Arvin dengan tangan yang bersedekap.
Seketika, Fayre tergugu di hadapan Arvin. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan semua rasa yang ada dalam hatinya. Masalah ini tiba-tiba saja datang menghampiri. Fayre sama sekali tidak menduga jika akhir-akhir ini Arvin berusaha menjauh darinya karena menginginkan perpisahan. Wanita malang itu seperti berada di tengah badai yang melanda saat musim kemarau. Terombang-ambing dalam arus deras yang datang tanpa permisi.
Arvin menghindar dari hadapan Fayre. Dia duduk di kursi kebesarannya dengan kaki kanan yang disilangkan di atas kaki kiri. Tangan kanannya diletakkan di atas pinggiran kursi. Kepalanya tertunduk karena tidak sanggup menatap tubuh yang sedang bergetar itu.
Cukup lama Fayre menumpahkan tangisnya di sana tanpa ditenangkan oleh pria yang dicintainya. Bayang-bayang kedua mertuanya tiba-tiba saja hadir dalam ingatan, hingga membuat tangis itu seketika reda.
"Jika kamu mengingkan perceraian ini! Jangan berbuat curang dengan meminta bantuan kuasa hukummu! Mari sama-sama ikuti sidang di Pengadilan Negeri, karena hanya itu bukti terakhir yang menunjukkan jika kamu adalah seorang pria sejati, bukan pengecut!" sarkas Fayre sambil menatap Arvin dengan sorot penuh amarah.
"Sebelum aku pergi dari hadapanmu saat ini, aku hanya ingin mengingatkan satu perjanjian tak tertulis darimu, Arvin! Ingatlah perjanjian yang sudah kita sepakati bersama!" Fayre menatap pria yang hanya diam di tempatnya itu.
"Jangan menginginkan sebuah perpisahan jika kita sudah menikah nanti. Aku hanya ingin memiliki rumah tangga yang utuh, tanpa ada dusta ataupun orang ketiga." Fayre membacakan dengan tegas dan lantang tentang janji yang dia ingat sampai detik ini, "aku tidak pernah menyangka jika kamu sendiri yang menghianati perjanjian ini! Cih!" Fayre benar-benar kesal menghadapi Arvin.
__ADS_1
Arvin semakin merasa bersalah setelah Fayre mengingatkannya pada syarat yang pernah dia ajukan sebelum pernikahan. Pada kenyataannya kini Arvin sendiri lah yang meminta sebuah perpisahan dengan cara yang menyakitkan hati.
"Dengarkan aku baik-baik, Arvin! Ingatlah dengan jawaban yang aku ucapkan hari ini! Ingatlah dengan kata-kata yang terucap dari bibir wanita bernama Kyomi Fayre ini! Lihatlah wajahku, Brengs*k!" Sepertinya amarah Fayre benar-benar memuncak.
"Aku akan pergi jika kamu menginginkan hal itu, karena mencintai orang yang tidak mengharapkan kehadiranku, rasanya percuma saja. Waktuku bukan untuk mencintai pria tak berhati sepertimu. Camkan itu!" ujar Fayre dengan tegas.
Setelah mengeluarkan semua rasa sakitnya di ruangan itu, akhirnya Fayre memilih pergi. Dia meninggalkan Arvin di sana tanpa pamit. Hanya derai air mata yang mengiringi kepergian Fayre dari sisinya. Nyatanya, ketidakjujuran telah menghancurkan hubungan pernikahan yang indah itu. Keduanya sama-sama terluka hanya karena sebuah ego dan rahasia yang tertutup rapat. Rasa takut karena kelemahan hanya ada pada dirinya, membuat Arvin harus merasakan badai yang menerjang samudera pernikahannya. Hanya luka yang menjadi buah pernikahannya selama ini.
Sikap labil yang ditunjukkan oleh Arvin, nyatanya hanya membuat kehancuran. Keputusan yang diambil dengan pikiran yang tidak tenang, nyatanya telah menghancurkan segalanya. Cinta, kasih, kedamaian dan keindahan yang dirasakannya selama ini telah musnah begitu saja. Semua sudah terlanjur terjadi. Fayre sudah murka dan menyetujui semua ini. Lalu, apalagi yang diharapkan Arvin dalam hidupnya?
Tumpukan harta tidak akan bisa membuatnya hidup bahagia dalam bayang-bayang rasa bersalah. Separuh jiwanya telah terluka, mana mungkin dia bisa menikmati semua keindahan dunia. Apalagi, yang tersisa dalam perpisahan ini selain dari kenangan manis yang hanya sekadar menjadi bayang-bayang.
Arvin menegakkan tubuhnya. Pandangannya lurus ke depan. Dia bertekad untuk menerima segala konsekuensi atas semua keputusan sepihak ini. Dibenci Fayre adalah resiko yang mungkin ditanggung Arvin setelah ini. Entah dia sanggup atau menyerah dengan keadaan yang dia ciptakan sendiri.
"Maafkan aku, Fay! Aku melakukan semua ini karena aku hanya ingin, kamu hidup bahagia bersama pria lain yang bisa memberimu kebahagiaan. Aku tidak bisa membahagiakanmu. Nyatanya, cintaku hanya bisa membuatmu tenggelam dalam harapan. Cintaku tidak bisa merubah statusmu menjadi seorang ibu." Arvin bergumam dengan suara yang sangat lirih.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...