
"Arvin!"
Fay termangu karena tiba-tiba saja Arvin mengukung tubuhnya. Irama jantungnya semakin tak beraturan karena wajah tampan itu semakin mendekat ke arahnya. Fay menutup kelopak matanya begitu saja karena tidak tahan melihat tatapan penuh arti sang suami.
"Jangan seperti ini, Vin! Ini di teras!" ujar Fay tanpa berani membuka kelopak matanya.
"Berarti kalau di kamar boleh seperti ini?" tanya Arvin dengan suara yang lirih.
Fay membuka kelopak matanya lagi setelah mendengar pertanyaan itu. Ia menatap lekat manik hitam itu. Berusaha keras untuk melawan rasa takut yang merayap dalam hati. Fay kembali menutup kelopak matanya karena Arvin semakin mendekatkan wajah. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini.
"Ngarep banget dicium, ya?" bisik Arvin dengan suara yang lirih, "jangan GR! Karena aku hanya ingin mengatakan satu hal," ucap Arvin tanpa mengubah posisinya.
"Lanjutkan pijatanmu, Fay!" ujar Arvin dengan suara yang bergetar karena harus menahan tawanya.
Arvin segera berdiri dari tempatnya saat ini. Ia tertawa lepas setelah duduk membelakangi sang istri. Sungguh, ekspresi wajah sang istri menurutnya sangat lucu. Ia sampai menggeleng beberapa kali akan hal itu.
"Ih! Nyebelin banget!" umpat Fay dalam hati. Rahangnya mengeras karena kesal melihat sikap tengil sang suami. Rasanya, ia menyesal karena memberitahu semua ini kepada Arvin.
"Ayo! Buruan!" ujar Arvin seraya menepuk pundaknya beberapa kali, "kamu harus membayar semuanya! Pijat sampai rasa nyerinya hilang!" titah Arvin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Masih muda, udah kek Aki-aki saja! Nyeri segala! Dasar tuwir!" Fay menggerutu sambil membuka minyak urut yang ada di tangannya.
"Meskipun tua, tapi kamu tetep aja tuh mau menikah denganku!" ujar Arvin dengan bangganya.
"Dih! Gak usah GR! Aku terpaksa kali menikah sama kamu!" Fay tak mau kalah dengan Arvin.
"Omong kosong! Dasar kamunya aja yang mau menikah sama pria tua!" sarkas Arvin dengan diiringi tawa lirih.
__ADS_1
"Gak! Aku pokoknya terpaksa menikah sama kamu! Buktinya sampai sekarang kita belum jadi suami istri yang sesungguhnya tuh!" ujar Fay setelah menutup kembali botol minya urut tersebut.
Arvin berdiam diri untuk sesaat. Ia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk melawan argumen istrinya itu. Kali ini Arvin tidak boleh kalah, ia harus menang telak mengenai perdebatan tidak penting ini.
"Ya sudah, kalau begitu ayo pindah ke kamar! Kita jadi suami istri beneran deh!" ujar Arvin seraya beranjak dari tempatnya.
"Ogah! Kamu bau minyak urut!" jawab Fay tanpa menatap Arvin.
"Aku mandi deh! Ayo, buruan berdiri!" Ekspresi wajah Arvin terlihat sangat serius.
Tentu saja, Fay menjadi gelagapan setelah mendengar tantangan dari Arvin. Ia menelan ludah setelah melihat sorot mata sang suami. Dari lubuk hati yang paling dalam, Fay belum siap melakukan hal itu. Ia bingung harus mulai dari mana saat melakukan hubungan tersebut.
"Vin, aku tidak bisa melakukannya sekarang," ucap Fay seraya menatap Arvin penuh arti.
"Loh kenapa? Katanya udah sembuh, terus tadi nantang jadi suami istri beneran. Kenapa sekarang gak mau?" tutur Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik itu.
Arvin tersenyum simpul setelah mendengar jawaban sang istri. Benar saja, ternyata ucapannya berhasil membuat Fay menjadi terbawa perasaan. Arvin tidak mau berbuat konyol seperti dulu, ia harus kuat menahan hasratnya. Apalagi, setelah dirinya tahu betapa indahnya ciptaan Tuhan yang tertutup kemeja berwarna putih tulang yang dipadukan dengan celana jeans warna putih itu.
"Tenanglah. Aku tidak akan mengulang kesalahanku lagi. Lalu, setelah ini, kamu maunya kita bagaimana?" tanya Arvin setelah duduk di samping Fay.
"Aku ... aku tuh, emm ... aku maunya kita pacaran gitu. Biar aku tahu bagaimana pacaran di jaman sekarang ini," ucap Fay seraya menatap Arvin.
Apa yang baru saja diminta oleh Fay, berhasil membuat Arvin tergelak. Permintaan apalagi ini, sudah menikah malah minta pacaran. Pria tampan itu heran saja melihat ide konyol yang bersarang di kepala Fay. Arvin mengalihkan pandangan ke arah kolam renang. Terbesit sebuah ide jahil untuk membalas semua perlakuan istrinya itu. Arvin pun beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju kolam renang dan berhenti di sana. Tak lama setelah itu, Arvin membalikkan tubuh dan memanggil Fay agar mendekat ke arahnya.
"Sini! Aku ingin menunjukkan sesuatu," ucap Arvin seraya berkacak pinggang.
Tanpa menaruh rasa curiga, Fay beranjak dari tempatnya. Ia mengayun langkah menuju tempat Arvin berada saat ini. Ia penasaran saja apa kiranya yang akan ditunjukkan Arvin kepadanya.
__ADS_1
"Ada apa sih?" tanya Fay seraya mengubah posisinya sama seperti Arvin.
"Agak mundur sedikit biar kamu tahu!" titah Arvin seraya mundur satu langkah, "tuh, lihat ke atas!" Arvin menunjuk ke arah langit.
Fay tidak melihat apapun di sana. Ia terus mengikuti arah jari telunjuk Arvin dan tanpa sadar, ternyata tangan kanan Arvin sudah merengkuh pinggangnya. Arvin terus berusaha mengalihkan fokus Fay ke arah jari telunjuknya dan setelah itu ...
Byur.
Sepasang suami istri itu akhirnya masuk ke dalam kolam renang. Ternyata Arvin menarik tubuh Fay hingga ikut bersamanya masuk ke dalam kolam renang tersebut. Suara gelak tawa Arvin menggema di sana setelah ia berada di permukaan air. Sementara Fay masih berusaha keluar ke permukaan.
"Arvin!" teriak Fay dengan suara yang lantang. Mata indah itu terbelalak sempurna saat melihat Arvin tertawa lepas.
"Enak kan, siang-siang begini berendam!" Arvin menaik turunkan satu alisnya. Ia tersenyum puas setelah melihat wajah kesal istrinya itu.
"Panas, Vin! Duh, resek banget, sih!" Gurat kekesalan terlihat jelas di wajah cantik itu.
Fay segera menepi karena tidak mau kulitnya menjadi gelap, karena siang itu cuaca begitu panas. Akan tetapi Arvin malah menariknya lagi hingga Fay harus menabrak tubuh kekar itu. Jarak di antara kedua wajah itu sangatlah tipis. Bahkan, Fay bisa merasakan hembusan napas Arvin di wajahnya. Persekian detik kemudian, tiba-tiba saja bibir Arvin mendarat sempurna di bibir berwana merah muda itu.
"Aduh! Mata Mami ternoda!" ujar bu Linda setelah melihat adegan di kolam renang.
Ternyata, pak Bram dan bu Linda sejak tadi mengintip sepasang pasangan baru itu di jendela dapur. Tentu saja, keduanya mendengarkan segala pembicaraan Arvin dan Fay selama berada di teras belakang. Beberapa waktu yang lalu, setelah sampai di rumah, kedatangan mereka berdua disambut bi Narsih. Asisten senior itu memberitahu jika Arvin dan Fay berada di belakang. Rasa penasaran yang begitu besar membuat bu Linda memutuskan untuk melihat langsung bagaimana interaksi anak dan menantunya.
"Semoga hubungan mereka cepat membaik ya, Pi," gumam bu Linda dengan suara yang lirih,
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Unboxingnya ditulis gak nih? Atau langsung konflik lagi?...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...