
Dua hari kemudian,
Suara isak tangis Fayre menggema di dalam ruang tamu. Sementara dua pria yang duduk di sofa yang bersebrangan dengan Fayre hanya bisa diam dan menatapnya dengan rasa iba. Rekaman suara Arvin terdengar di sela-sela suara tangisan Fayre.
"Pak Rofan, kenapa Arvin sebodoh ini sih?" Rasa sedih bercampur kesal membaur menjadi satu dalam diri Fayre setelah selesai mendengar pengakuan Arvin.
"Bi, temanmu ini sebenarnya bagaimana? Kenapa dia seperti ini?" tanya Fayre sambil menatap Fabi.
Ya, kedua pria itu adalah Rofan dan Fabi. Mereka sengaja berkumpul di rumah utama keluarga bramasta untuk membahas informasi yang didapatkan oleh Fabi. Tentu saja, informasi itu telah membuat Fayre shock dan sedih. Dia sama sekali tidak tahu jika Arvin menyembunyikan rahasia sebesar ini.
"Kenapa dia tidak bicara padaku jika memang seperti itu hasilnya! Kenapa dia harus menanggung beban ini sendirian!" Fayre bergumam di sela-sela isak tangisnya.
Fabi hanya bisa diam karena dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia sendiri ragu jika hasil tes yang dimaksud Arvin adalah sebuah kebenaran. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di antara Arvin dan Fayre? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Toni ataupun Raka?
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Fay? Apa kamu akan melepaskan pernikahan ini?" tanya Fabi seraya menatap Fayre.
"Tidak. Aku akan memperjuangkan pernikahan ini. Aku tidak mau hanya diam saja setelah tahu alasan Arvin yang sebenarnya." Fayre menghapus air mata yang membasahi pipi mulusnya.
"Lalu, apa yang Nyonya muda inginkan saat ini?" tanya Rofan.
"Bantu saya untuk menyelidiki dokter Winda, Toni dan Raka. Saya tidak percaya dengan mereka semua," ucap Fayre seraya menatap Rofan penuh arti.
"Baik. Saya akan melakukan tugas tersebut." Dengan senang hati Rofan menerima tugas mudah tersebut.
"Apa mungkin mereka tega melakukan semua ini kepada Arvin?" Fabi bergumam dalam hati setelah tahu kemana arah pembicaraan Fayre dengan asisten sahabatnya itu.
"Aku pun akan membantumu, Fay. Jika ada informasi baru tentang mereka, pasti aku akan memberimu kabar." Kali ini Fabi pun tidak mau hanya diam saja. Dia pun harus mencari tahu ada teka-teki apa yang sedang berlangsung saat ini.
__ADS_1
Fayre termenung setelah mendengar jawaban dari Fabi. Dia mencoba untuk mengingat semua yang sudah terjadi di masa lalu. Dia sedang berpikir bagaimana caranya memastikan jika hasil laboratorium dari dokter winda adalah benar.
"Pak Rofan, bisakah Bapak membantu saya untuk menggeledah mobil ataupun tas kerja Arvin?" tanya Fayre setelah sebuah ide cemerlang muncul dalam kepalanya.
"Tentu. Memangnya Nyonya muda ingin melakukannya kapan?" tanya Rofan.
"Kalau bisa besok pagi atau siang," jawab Fayre.
Sambil menunggu Fayre dan Rofan berbicara mengenai rencana mereka, Fabi mencoba membuka aplikasi chat. Dia mengajak Toni dan Raka untuk bertemu setelah pulang dari sini. Fabi berdalih jika ada hal penting yang harus disampaikan kepada kedua temannya itu.
"Oh ya, Fay. Aku mau pamit dulu karena ini sudah terlalu sore," pamit Fabi setelah menyimpan ponselnya di dalam saku jaketnya.
"Terima kasih sudah membantuku, Bi." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Fayre atas segala bantuan yang dilakukan oleh Fabi.
Rofan pun ikut pamit saat Fabi beranjak dari tempatnya. Dia pun meminta agar Fay lebih sabar dan kuat menghadapi prahara ini. Rofan berjanji akan membantunya mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh Fayre.
Fayre sangat bersyukur memiliki orang-orang yang perduli dengan keadaannya. Setelah kepergian dua pria tersebut, Fayre memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kerja Arvin. Dia mencoba untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan untuk petunjuk dan bukti nyata tentang semua kerumitan ini.
Sementara itu, mobil yang dikendarai Fabi melaju kencang di jalan raya. Dia memilih jalan alternatif menuju tempat berkumpul dengan Toni dan Raka. Meski jaraknya berubah menjadi lebih jauh, tetapi itu jauh lebih baik karena mobilnya tidak terjebak macet.
"Apa mungkin semua ini ada hubungannya dengan Raka? Selama ini dia yang mencoba untuk merusak kebahagiaan Arvin? Tapi kenapa? Apa yang membuatnya nekat seperti ini?" Fabi bergumam dengan pandangan lurus ke depan.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit, pada akhirnya mobil yang dikendarai Fabi sampai di tempat parkir Cafe elit di kota tersebut. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki cafe.
"Buatkan aku flat white seperti biasa," ucap Fabi setelah memberitahu barista yang sedang meracik kopi di balik coffe bar.
Setelah memesan minumannya, Fabi mencari tempat duduk yang nyaman dan tentunya agak jauh dari pengunjung cafe yang lain. Dia sudah tidak sabar ingin menyampaikan semua ini kepada Raka dan Toni.
__ADS_1
Setelah Fabi menunggu selama kurang lebih dua puluh menit, pada akhirnya Toni dan Raka muncul bersamaan. Sesuatu yang aneh menurut Fabi karena rumah Raka dan Toni berbeda arah.
"Kalian barengan?" tanya Fabi untuk memastikan praduganya.
"Yap. Kebetulan tadi si Raka ada di rumah gue
Jadi ya, aku angkut sekalian," jawab Toni asal setelah duduk di kursi yang ada di hadapan Fabi.
"Emang lu pikir gue karung beras kok main angkut aja." Raka terlihat tidak terima dengan ucapan Toni.
"Ah sudahlah, gak usah bertengkar!" Fabi melerai kedua temannya karena sudah tidak sabar ingin menyampaikan suatu hal, "lebih baik kalian pesan minum dulu deh sebelum menerima kabar dari gue," ucap Fabi sambil merambaikan tangan ke arah waiter.
Setelah memesan beberapa makanan dan minuman kepada waiter tersebut, Raka dan Toni mengalihkan pandangan ke arah Fabi. Mereka berdua penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Fabi.
"Ada apaan sih, Bi?" Toni terlihat resah saat melihat Fabi hanya diam saja dengan pandangan lurus ke dapan.
"Arvin menggugat cerai Fayre tanpa alasan yang jelas." ujar Fabi seraya menatap wajah Raka dan Toni bergantian.
Fabi mengamati ekspresi wajah keduanya saat mengatakan hal itu. Dia penasaran saja seperti apa respon mereka setelah mengetahui keretakan rumah tangga Arvin. Fabi melihat ekspresi wajah Toni berubah ketika mendengar berita itu, dia sepertinya sedang menahan sesuatu hingga membuat wajahnya merah padam. Sedangkan Raka, pria licik itu menampilkan senyum yang sagat tipis hingga membuat Fabi curiga.
"Benar apa kata Fayre, sepertinya mereka berdua mengetahui sesuatu. Apalagi Raka, kenapa dia terlihat senang saat mendengar Arvin akan bercerai dengan Fay. Apa mungkin dia suka dengan Fay?" Berbagai praduga muncul di kepala Fabi setelah mengamati kedua temannya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍 Oh, ya btw selamat kepada Bunda Dinna, karena menjadi pembaca teraktif minggu kemarin. Silahkan masuk GC othor/chat langsung di aplikasi Noveltoon. Othor ada sesuatu untuk bunda nih😀Btw sekarang setiap seminggu sekali ada laporan dari sistem siapa yang aktif membaca dan memberi dukungan loh😍Laporannya keluar setiap hari minggu, berhubung kemarin othor belum sempat up, jadi hari ini baru bisa memberi kabar. Kuy, rajin membaca, like dan komentar di karya ini, siapa tahu ada yang bisa menggeser bunda dinna minggu depan🤭🌹...
... 🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1