
"Nyonya muda,"
Fayre menengadahkan kepala saat mendengar suara yang familiar di indera pendengarannya. Dia tergugu karena rasa sakit yang begitu hebat menghujam hati. Tubuhnya terasa lemas karena kehilangan semua tenaganya. Kenyataan pahit membuat hatinya hancur tak tersisa. Dia tidak perduli meski saat ini masih berada di lingkup kantor atau lebih tepatnya di depan toilet yang ada di dekat pantri khusus. Di hadapannya berdiri sepasang kaki yang sedang menunggunya.
"Sebaiknya Nyonya tidak menangis di sini. Mari ikut saya ke ruangan yang lebih aman," ucap Rofan saat mengulurkan tangannya ke arah Fay. Dia merasa prihatin melihat nasib malang yang menimpa Fayre saat ini.
Tidak ada yang bisa dilakukan saat ini selain mengikuti pria yang sudah mengabdi bertahun-tahun di perusahaan ini. Ternyata, Fayre diarahkan Rofan menuju ruang kerjanya. Dia mempersilahkan Fayre duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya, sementara dia duduk di kursi kerja.
"Silahkan Nyonya muda menangis di sini, jika sudah selesai, mari kita bicara," ucap Rofan dengan suara yang lirih.
Kehancuran yang sudah terlanjur terjadi, membuat Fayre berderai air mata. Tidak perduli meski di hadapan Rofan, dia tetap tergugu untuk meluapkan segala rasa sesak di dada. Untung saja ruangan tersebut kedap suara hingga tidak ada yang mendengar semua pembicaraan di dalam.
"Kenapa Arvin melakukan semua ini, Pak Rofan! Apa salah saya!" Fayre meluapkan semuanya kepada Rofan. Mugkin, hanya pria di hadapannya yang bisa mendengar keluh kesahnya.
"Tanpa sebab yang jelas dia menggugat cerai saya! Salah saya di mana? Saya sudah menyerahkan semua rasa cinta yang saya miliki. Saya percaya jika dia bisa membahagiakan saya, tapi sekarang dia justru melakukan hal gila ini!" Napas Fayre tersengal saat mengeluarkan segela duri yang menyakitkan hati.
"Kita akan bicara jika Nyonya muda sudah tenang." Rofan masih bersikap tenang. Padahal, pikirannya saat ini mulai berkelana jauh untuk menemukan jalan keluar atas permasalahan ini.
Kali ini Rofan pun tidak mau ambil diam. Kebaikan pak Bram selama ini menjadi dasar yang kuat untuk pria matang itu. Dia tidak mungkin membiarkan rumah tangga pria yang dianggapnya sebagai adik sendiri harus hancur berantakan. Apapun akan dia lakukan demi keutuhan rumah tangga Arvin dan Fayre. Sungguh, kesetiaan Rofan patut untuk dibanggakan. Tidak sia-sia pak Bram memberikan fasilitas kepadanya layaknya seorang keluarga.
"Apa yang harus saya lakukan, Pak Rofan?" tanya Fayre setelah tangisnya reda.
__ADS_1
"Apa perlu saya memberi kabar ini kepada Tuan besar?" Sebelum menyusun rencana selanjutnya, hal penting ini lah yang pertama kali harus dilakukan.
"Jangan, Pak!" cegah Fayre sambil menatap Rofan penuh harap. Dia menerima tissu pemberian Rofan dan segera membersihkan sisa air mata yang membasahi pipi.
"Apa Nyonya muda masih mencintai tuan muda?" selidik Rofan tanpa melepaskan pandangan dari wajah Fayre.
"Pertanyaan macam apa ini, Pak?" Fayre mengernyitkan dahinya, "tentu saja saya sangat mencintai Arvin. Saya pun sebenarnya tidak mau berpisah!" ujar Fayre dengan tegas.
Senyum tipis terbit dari bibir Rofan setelah mendengar jawaban tersebut. Setidaknya dia tidak kesulitan untuk membantu mempertahankan rumah tangga seumur jagung ini. Rofan termenung untuk beberapa saat, dia sedang mengatur strategi yang tepat.
"Saya bisa saja membantu Nyonya muda. Asal kita bekerja sama. Bagaimana?" Rofan memastikan jika Fayre bersedia untuk bangkit dan memperbaiki semuanya.
"Memangnya apa yang harus saya lakukan?" Fayre terlihat bingung saat mendengar tawaran dari Rofan.
Fayre mencoba mencerna statment yang dijelaskan oleh Rofan. Ya, setelah dipikir, alasan yang dikatakan Arvin sangat tidak masuk akal, "lalu apa yang harus saya lakukan?" Fayre menatap Rofan penuh arti.
"Bertemu dengan teman dekat Tuan muda," ucap Rofan penuh arti, "Nyonya pasti tahu siapa teman dekat tuan muda. Nyonya harus bekerja sama dengan teman Tuan muda yang bisa dipercaya, agar bisa mengetahui penyebab Tuan muda menjadi seperti ini." Rofan tak melepaskan pandangan dari wajah cantik Fayre.
"Saya pun akan mencari tahu penyebab kejadian ini dengan cara saya sendiri." Rofan bersekedap, "dan satu hal yang minta kepada Nyonya muda, tolong jangan meninggalkan rumah utama. Nyonya harus tetap tinggal di sana, biarkan saja Tuan muda pergi. Mungkin dia butuh waktu sendiri," ucap Rofan dengan serius.
Mereka berdua membahas beberapa rencana untuk mengungkap alasan Arvin yang sebenarnya. Rofan memberikan waktu kepada Fayre untuk menenangkan diri sambil menunggunya menyusun rencana yang matang. Itupun jika Fayre masih bersedia mempertahankan rumah tangga ini.
__ADS_1
"Ya, akan saya pikirkan lagi rencana pak Rofan. Sekarang saya mau pulang saja." Fayre membuang napasnya kasar.
Setelah pamit kepada asisten pribadi suaminya, Fayre segera pergi dari ruangan tersebut. Tidak lupa dia memakai masker dan kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya yang sembab.
Selama dalam perjalanan menuju rumah megah pak Bram, Fay terus menitikkan air matanya. Kaca mata hitam dan masker masih menutupi wajahnya dari sopir yang sedang fokus dengan kemudinya.
Permainan apalagi ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang membuat Arvin menjadi seperti ini? Lalu apa tujuan dari perceraian ini?
Ya, begitulah sederet pertanyaan yang memenuhi kepala Fayre hingga berdenyut. Semua ini seperti mimpi buruk yang datang di tengah indahnya malam. Perpisahan bukanlah sebuah impian, lalu bagaimana caranya bertahan seorang diri? Sedangkan separuh jiwa menginginkan pergi?
"Bodoh!" umpat Fayre setelah keluar dari mobil yang sudah berhenti di halaman luas kediaman milik pak Bram.
Fayre mempercepat langkahnya menuju kamar yang ada di lantai dua. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan segala sesak di dada. Mungkin, menangis di kantor rasanya berbeda dengan menangis di kamar seorang diri. Lebih bebas dan tentunya tidak perlu menjaga sikap.
Suara isak tangis terdengar di dalam kamar bernuansa abu-abu itu. Fay menghempaskan diri di atas ranjang empuk dan segera membenamkan wajahnya di atas bantal. Air mata tak terbendung lagi saat teringat kembali bagaimana pengakuan Arvin saat di kantor tadi. Sakit. Hanya itu yang dirasakan Fay ketika pengakuan Arvin terngiang di indera pendengarannya. Cukup lama Fayre menumpahkan segala rasa yang menghujam hatinya dan kini dia bangkit dari ranjang.
"Aku tidak boleh terlihat lemah seperti ini! Aku harus kuat! Aku harus bisa melawan Arvin! Pria pengecut, tak berhati!" Fayre mengumpati wajah tampan yang selama ini menghiasi hari-harinya.
Fayre bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju walk in closet. Lantas apa yang dilakukan Fayre di sana?
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...