
Langit masih gelap meski rona kuning mulai muncul di cakrawala timur. Akan tetapi tidur nyenyak seorang gadis berwajah cantik yang bersembunyi di balik selimut tebal harus terganggu, karena rasa tidak nyaman di perutnya. Gadis itu tak lain adalah Dira. Dia segera turun dari ranjang karena sudah tidak tahan lagi dengan gejolak yang terasa.
"Hoek .. hoek ... hoek." Dira membungkukkan tubuhnya di depan wastafel kamar mandi. Sudah beberapa hari ini dia mengalami mual dan muntah di pagi hari.
Setelah semua rasa tidak nyaman itu tuntas, Dira menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya beralih pada gelas kaca dan alat tes kehamilan yang ada di meja wastafel. Ya, dia harus memberanikan diri untuk mengetahui apakah rasa mual ini karena adanya benih yang tumbuh dalam rahimnya.
"Semoga saja negatif," gumam Dira setelah meraih gelas dan alat tes tersebut.
Gelas tampung telah berisi urin, lantas Dira segera memasukkan alat tes tersebut ke dalam gelas. Dia gelisah menunggu hasil tersebut. Bahkan, dia tidak berani untuk melihat alat tersebut meski satu menit telah berlalu.
Air mata luruh begitu saja ketika ada dua garis merah yang nampak jelas di alat tes tersebut. Dira tergugu karena tidak percaya jika dirinya sedang hamil. Hampir satu bulan dia telat datang bulan dan ternyata bukan setres yang menyebabkan hal tersebut, melainkan ada benih yang sedang tumbuh di rahimnya.
"Lalu ini benih milik siapa?" Dira semakin tergugu setelah teringat ada dua pria yang sudah berhubungan dengannya—Raka dan Rico—entah siapa pemilik benih yang sedang tumbuh di rahim itu.
Dira tergugu sambil memukul perutnya karena tidak terima dengan semua ini. Hancur sudah seluruh hidupnya saat ini. Lantas siapa yang patut disalahkan atas kejadian ini? Bukankah semua yang terjadi adalah murni kesalahannya sendiri?
Ya. Rasa sesal tentu tak bisa terelakkan. Dira merutuki dirinya sendiri setelah mengingat kapan kedua pria itu berhubungan dengannya. Dira memukulkan tangannya ke tembok setelah teringat kedua pria tersebut tidak ada yang memakai pengaman. Jarak hubungan dengan Rico dan Raka sangatlah dekat. Tentu Dira tidak tahu siapa ayah dari benih yang dikandungnya.
"Gak! Ini pasti benih dari Raka!" kilah Dira karena terakhir kali yang berhubungan dengannya adalah Raka sebelum peristiwa istri Erico yang datang menemuinya.
Cukup lama wanita cantik itu menangis di sana. Setelah cukup tenang dia segera membersihkan diri dan bersiap pergi ke suatu tempat. Semua ini harus segera dibicarakan dengan yang Raka.
__ADS_1
Detik demi detik telah berlalu, kini penampilan Dira sudah rapi. Dia bergegas keluar dari kamar dan berangkat begitu saja tanpa sarapan. Bu Lisa sedang tidak ada di rumah, karena beliau sedang berada di Tangerang untuk melepas rindu dengan saudaranya.
"Saya mau membawa mobil sendiri," ucap Dira kepada sopir yang sudah siap mengantarnya.
"Baik, Nona," ucap sopir tersebut sebelum membukakan pintu mobil untuk Dira.
Mobil putih yang dikendarai Dira melaju di jalanan padat ibukota. Dia harus sabar agar bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat. Pikiran gadis itu melayang jauh memikirkan pria yang memenuhi hatinya akhir-akhir ini. Dia tahu, jika Raka terjerat kasus yang sedang viral di dunia maya tetapi dia yakin jika Raka bisa lolos dari jerat hukum.
"Tuhan, kuatkan hatiku apapun hasil pemeriksaannya nanti. Semoga semuanya salah dan negatif," gumam Dira sebelum keluar dari mobilnya.
Langkah kaki wanita cantik itu telah membawanya hingga sampai di depan resepsionis. Dira sedang mendaftarkan diri untuk melakukan pemeriksaan ke salah satu dokter kandungan yang ada di sana. Dira terlihat gelisah setelah duduk di ruang tunggu karena dia pun harus menunggu giliran pemeriksaan.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, pada akhirnya Dira beranjak dari tempatnya. Dia segera masuk ke dalam ruangan pemeriksaan untuk melakukan USG. Seorang dokter pria yang menangani Dira saat ini, dokter tersebut menanyakan apa saja keluhan yang dirasakan olehnya.
Setelah Dira berbaring di bed pasien dan perut bawahnya telah dioles gel oleh perawat, pemeriksaan pun dimulai. Dokter tersebut tersenyum tipis ketika melihat bentuk janin di layar monitor USG.
"Wah, selamat Nona. Ternyata Nona positif hamil dan perkiraan usia kandungan Nona sekitar empat minggu," ucap dokter tersebut seraya menatap Dira sekilas.
Bibir wanita cantik itu terasa keluh setelah mendengar penjelasan dokter tersebut. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana karena semua ini bukanlah keinginannya. Semua penjelasan dokter tampan itu pun seperti angin yang berlalu, karena Dira asyik dengan lamunannya sendiri.
Beberapa saran telah diucapkan dokter tersebut kepada Dira. Resep obat dan vitamin untuk kesehatan janin pun sudah tertulis di resep obat. Tatapan mata Dira terlihat kosong setelah dokter menyatakan dirinya hamil empat minggu.
__ADS_1
"Terima kasih, Dok. Saya permisi dulu," ucap Dira setelah urusan pemeriksaan selesai.
Wanita cantik itu terlihat lesuh saat berjalan keluar dari klinik ini. Dia memutuskan untuk membeli obat di apotek luar saja agar tidak perlu menunggu lebih lama bersama wanita hamil lainnya. Dia tidak siap saja jika ada yang bertanya tentang kehamilannya.
"Aku harus bagaimana setelah ini?" gumam Dira setelah masuk ke dalam mobil. Dia menyandarkan kepala dengan pandangan lurus ke depan.
Dira mengambil ponselnya di dalam tas karena ingin bertemu Raka setelah ini. Akan tetapi sepertinya niat itu hanya sebuah angan belaka ketika Dira membaca berita tentang bagaimana keadaan Raka DKK pasca sidang.
"Ya Tuhan, dia tetap dipenjara?" gumam Dira setelah membaca berita yang tertulis di media sosial.
Seketika air mata tak tertahankan lagi setelah melihat kenyataan itu. Dira memukul setir mobilnya beberapa kali karena semua ini. Jika Raka dipenjara bagaimana nasibnya setelah ini. Datang menemui Erico rasanya tidak mungkin karena sekali lagi Dira tidak yakin jika janin itu adalah hasil peleburan bersama pria beristri itu.
"Lalu bagaimana aku harus bicara kepada Mama? Tidak mungkin jika aku menyembunyikan kehamilan ini terus menerus. Semua orang pasti akan tahu seiring dengan berjalannya waktu," gumam Dira di sela tangisnya.
Cukup lama wanita itu tergugu di dalam mobil hingga tukang parkir mengetuk kaca mobilnya karena takut terjadi sesuatu kepada Dira. Wanita malang itu terpaksa menghapus air matanya sebelum membuka kaca mobil untuk bicara dengan pria setengah baya yang memakai seragam parkir.
Dira memutuskan pergi dari klinik tersebut. Dia tidak tahu harus bagaimana dan kemana setelah ini. Rasanya dia frustasi menghadapi semua permasalahan yang datang silih berganti.
"Aku harus menemui Raka. Ya, dia harus tahu jika aku hamil," gumam Dira dengan suara yang bergetar.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
__ADS_1
...Duh kasian bener ya si Dira😥...
...🌷🌷🌷🌷🌷...