
Waktu terus berjalan, malam pun semakin larut. Pertemuan di dalam salah satu room di club terkenal itu pun akhirnya berakhir. Setelah koleganya berlalu dari club tersebut, pak Bram dan Rofan pun keluar dari sana. Malam ini pak Bram harus segera pulang untuk istirahat. Tubuhnya terasa lelah karena belum sempat istirahat.
"Fan, langsung antarkan saya ke rumah utama," ucap pak Bram setelah masuk ke dalam mobil. Rofan pun segera melajukan mobil mewah milik bosnya itu melenggang dari halaman luas club tersebut.
Jalanan kota mulai sepi, kepadatan tidak terjadi lagi seperti beberapa jam yang lalu. Rofan terus mengarahkan setir mobilnya, menyusuri setiap jalan menuju kediaman pak Bram dan keluarganya. Mobil pun mulai memasuki salah satu kawasan sepi di kota tersebut.
"Pak, sepertinya itu gadis yang ada di club tadi," ucap Rofan setelah melihat seorang gadis berjalan sambil menyeret koper.
Pak Bram pun mengikuti arah jari telunjuk Rofan. Asisten pribadinya itu mulai mengurangi kecepatan mobil, setelah semakin dekat dengan objek yang dimaksud. Pak Bram memberikan intruksi kepada Rofan agar menepikan mobil untuk menolong gadis itu.
Tin ... tin ... tin ....
"Dia pingsan, Fan!" ujar pak Bram setelah melihat tubuh tersebut tergeletak di tepi jalan. Kedua pria itu pun segera keluar dari mobil untuk melihat kondisi gadis tersebut.
Ya, gadis itu tak lain adalah Fay. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia pingsan setelah mendengar klakson mobil. Entah ia terkejut atau karena kondisi fisiknya yang lemah, yang pasti saat ini pak Bram dan Rofan berusaha menyadarkan Fay. Akan tetapi hasilnya nihil.
"Bawa dia masuk ke dalam mobil, Fan!" ucap pak Bram setelah usahanya tidak membuahkan hasil.
Rofan kembali melajukan mobilnya setelah menempatkan Fay di kursi penumpang belakang. Sementara koper besar tersebut diletakkan di bagasi belakang. Pak Bram pun duduk di kursi depan.
"Kita harus membawa dia kemana, Pak?" tanya Rofan setelah mengemudikan mobilnya.
"Kita bawa ke Apartment saja. Nanti panggil dokter Adam untuk memeriksa kondisinya," ucap pak Bram dengan pandangan lurus ke depan.
Setelah melaju di jalan beraspal selama beberapa puluh menit, pada akhirnya, mobil itu pun sampai di apartment milik pak Bram. Susah payah Rofan mengeluarkan Fay dari mobil. Ia pun harus membawa Fay ke unit milik pak Bram yang ada di lantai lima.
__ADS_1
"Kamu yakin, ini gadis yang sama saat kita di club, Fan?" tanya pak Bram setelah masuk ke dalam lift.
"Iya, Pak. Saya tadi yang mengantar dia sampai di depan club. Sepertinya dia memang bukan gadis malam," ucap Rofan setelah mengingat semua kejadian yang ia lihat sendiri di club malam.
Rofan segera berjalan menuju kamar yang ditunjukkan pak Bram, setelah pintu lift terbuka. Ia membaringkan Fay di atas ranjang dengan hati-hati. Setelah itu pun, Rofan segera keluar untuk menemui pak Bram yang sedang berada di ruang keluarga.
"Aku sudah menghubungi dokter Adam. Kebetulan dia baru pulang piket dari rumah sakit. Kita tunggu di sini dulu untuk memastikan gadis itu baik-baik saja," ucap pak Bram seraya setelah melihat Rofan duduk di sofa tunggal.
"Apa perlu saya menyelidiki siapa gadis ini?" tanya Rofan seraya menatap pak Bram.
"Ya. Cari tahu identitas dan alamatnya. Kalau bisa, cari tahu juga alasan dia membawa koper di jalanan kota seperti tadi," ujar pak Bram seraya menyilangkan kakinya.
Obrolan pun harus terhenti ketika ART yang bekerja di apartment ini datang dengan membawa nampan berisi minuman hangat. Wanita paruh baya itu meletakkan dua gelas minuman tersebut di atas meja. Setelah itu, wanita tersebut pamit undur diri.
"Tunggu, Bi Atin!" Pak Bram menghentikan langkah ART nya, "tolong urus gadis yang ada di kamar tersebut. Penuhi semua yang dia minta. Jangan biarkan dia pergi dari tempat ini sebelum saya perintahkan!" ujar pak Bram.
Setelah menunggu beberapa puluh menit, dokter Adam pun datang ke unit milik pak Bram. Kedatangan dokter tersebut disambut langsung oleh pak Bram. Beliau segera menunjukkan seseorang untuk diperiksa.
Dokter Adam segera memeriksa kondisi Fay, tanpa banyak bertanya. Beliau mengeluarkan steteskop untuk memeriksa detak jantung Fay. Beberapa pemeriksaan lain pun telah dilakukan dokter tersebut.
"Bagaimana, dok? Apa ada diagnosa serius yang mengharuskan gadis ini dirawat di rumah sakit?" tanya pak Bram setelah melihat dokter Adam selesai melakukan pemeriksaan.
"Tidak ada, Pak. Gadis ini sepertinya mengalami guncangan psikis yang menyebabkan tubuhnya lemah. Dia hanya butuh istirahat agar lebih rileks dan stres yang dialaminya pulih. Kalau dilihat dari diagnosa awal saya, kemungkinan asam lambung gadis ini naik. Sepertinya, gadis ini mempunyai riwayat trauma yang berlebihan," ucap dokter Adam sesuai dengan apa yang beliau dapatkan dari kondisi fisik Fay saat ini.
Pak Bram mencerna setiap kata yang diucapkan oleh dokter Adam. Lantas, beliau pun menyuruh dokter Adam agar memberikan obat terbaik atas semua yang dialami gadis tersebut. Ada rasa iba di hati pria tersebut setelah melihat wajah tenang Fay.
__ADS_1
"Terima kasih, Dok," ucap pak Bram setelah menerima resep dari dokter tersebut.
Setelah dokter Adam pergi dari unit ini, pak Bram dan Rofan pun ikut pergi dari apartment ini. Akan ada seseorang yang mengantarkan obat untuk Fay nanti, karena kali ini ia harus mengantar pak Bram pulang.
"Jangan sampai istri saya tahu! Bisa perang dunia nanti!" ujar pak Bram setelah masuk ke dalam mobil.
"Siap, Pak," jawab Rofan tanpa menatap bosnya itu, ia sedang fokus dengan kemudinya.
Perjalanan menuju rumah megah pak Bram menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga puluh menit. Mobil hitam tersebut mulai memasuki halaman luas rumah megah milik konglomerat terkenal itu.
"Pak, koper gadis yang tadi sepertinya lupa belum saya keluarkan," ucap Rofan setelah melihat gagang koper yang terlihat dari spion dalam.
"Biarkan saja! Buka saja kopernya, siapa tahu kamu akan menemukan sesuatu tentang gadis itu." Pak Bram melepas sabuk pengaman sebelum turun dari mobil.
Pak Bram mulai menapaki satu persatu anak tangga menuju teras rumahnya setelah mobil yang dikendarai Rofan melenggang dari rumah megah ini. Kali ini, pak Bram tidak mungkin memberitahu sang istri tentang gadis yang ada di apartment. Beliau tidak mau istrinya itu sampai salah paham dan mengira beliau memiliki wanita simpanan.
"Jangan sampai Mami curiga dengan gerak-gerikku! Dia cukup pintar untuk mengendus kebohonganku!" gumam pak Bram dalam hati setelah masuk ke dalam rumah.
...๐นSelamat Membaca๐น...
โโโโโโโโโโโโโโโโ
Hallo selamat hari minggu๐ Ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian๐Kuy kepoin karya dari author Lady Mermad dengan judul Jerat Hasrat Kakak Ipar. Jangan sampai ketinggalan yak๐
__ADS_1
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...