Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Baren Darelano Axelle,


__ADS_3

Klak.


Arvin menghela napasnya setelah menutup pintu ruang bersalin. Segenap rasa telah memenuhi hatinya saat ini setelah melihat sendiri bagaimana perjuangan seorang wanita. Bahagia dan sedih membaur menjadi satu dalam diri pria yang resmi menjadi seorang ayah itu. Arvin membalikkan tubuh ketika merasakan tepukan di bahunya.


"Ada apa? Apa Fayre sudah melahirkan?" tanya bu Linda seraya menatap Arvin penasaran. Beliau baru saja tiba setelah mencari makan bersama pak Bram.


Tatapan mata Arvin tertuju pada wajah cantik dengan beberapa kerutan yang ada di hadapannya. Ada rasa bersalah yang begitu besar dalam hatinya setelah tahu bagaimana perjuangan Fayre beberapa menit yang lalu.


"Sudah, Mi. Cucu Mami laki-laki," ucap Arvin dengan senyum tipis.


"Syukurlah kalau begitu," gumam bu Linda dengan helaian napas yang berat. Meski menyesal karena tidak bisa menemani Fayre di detik-detik perjuangan berat tersebut, bu Linda merasa lega karena menantunya dalam keadaan baik.


Tatapan mata Arvin tak lepas dari sosok wanita yang baru saja duduk di bangku panjang yang tak jauh dari ruang bersalin. Arvin pun bergegas menghampiri bu Linda dan pak Bram yang sedang berbicara. Setelah sampai di hadapan ibunya, Arvin tiba-tiba saja bersimpuh di kaki bu Linda. Tentu keadaan ini membuat kedua orang tua tersebut menjadi bingung.


"Arvin! Kamu ini kenapa, hei!" Bu Linda terkejut setelah Arvin menundukkan wajah hingga keningnya menyentuh lutut bu Linda.


"Saya mohon pengampunan dari Mami, jika selama ini sudah membuat Mami terluka dan menangis karena semua perbuatan yang sudah saya lalukan. Saya minta maaf kerena masih merepotkan Mami hingga saat ini. Saya benar-benar menyesal atas semua yang sudah saya lakukan kepada Mami. Terima kasih karena sudah melahirkan saya ke dunia, mendidik serta memberikan semuanya hingga saya bisa menjadi seperti ini," ucap Arvin dengan suara yang bergetar. Semua ucapannya tulus tanpa akting ataupun sekadar berpura-pura.


Bu Linda tertegun setelah mendengarkan ungkapan hati yang baru saja diucapkan oleh Arvin. Tentu saja sebagai seorang ibu, wajar jika bu Linda terharu karena selama ini Arvin tidak pernah bersikap seperti ini. Air mata pun tak mampu lagi terbendung hingga membasahi pipi tanpa polesan make-up itu.


"Vin, kamu ini kenapa? Kamu sehat kan, Nak? Kamu enggak lagi kesurupan kan?" tanya bu Linda karena ingin memastikan keadaan Arvin.


"Saya serius, Mi. Saya benar-benar menyesal sudah melakukan semuanya kepada Mami," ucap Arvin tanpa menengadahkan kepala.


Tangan lembut itu akhirnya membelai rambut Arvin beberapa kali. Air mata semakin mengalir deras karena rasa haru yang memenuhi hati. Sejatinya orang tua selalu memaafkan kesalahan anaknya meski setinggi gunung sekalipun. Apalagi, jika seorang anak berani meminta maaf dengan tulus, pasti pintu maaf akan terbuka dengan lebar.

__ADS_1


"Kamu tidak memiliki kesalahan apapun, Nak. Mami tidak pernah menyimpan kemarahan kepadamu meski dulu kamu menyakiti Mami berulang kali. Mami selalu berdoa kepada Tuhan Yesus agar kamu selalu diberikan kebahagiaan," ucap bu Linda dengan bulir air mata yang tak henti menetes.


Arvin segera menengadahkan kepala setelah mendengar jawaban ibunya. Dia tersenyum manis karena merasa lega setelah melakukan suatu hal yang tidak pernah dia lakukan karena ego.


"Terima kasih, Mi." Arvin merengkuh tubuh ibunya ke dalam dekapannya. Sesuatu hal yang sempat dihindari Arvin karena menganggap dirinya sudah dewasa dan malu jika mendapat kecupan dan pelukan penuh kasih dari bu Linda.


"Selamat ya, akhirnya kamu menjadi seorang ayah. Mami berharap kamu semakin dewasa dan bisa melindungi anak dan istrimu di masa depan," ucap bu Linda sambil mengusap rambut Arvin penuh kasih.


Rasa haru pun menyelimuti jiwa pria paruh baya yang ada di sisi bu Linda. Pria tersebut tak lain adalah pak Bram. Beliau tidak menyangka jika Arvin akan melakukan semua ini setelah menemani istrinya melahirkan.


"Papa bangga sama kamu, Vin, karena berani meminta maaf kepada Mami secara langsung. Jangan seperti Papi yang menyesal karena tidak sempat meminta maaf kepada nenekmu sebelum dia meninggal dulu," batin pak Bram saat mengamati anak dan istrinya.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...



Tatapan mata Arvin tak lepas dari bayi menggemaskan yang sedang tidur terlelap di box bayi yang ada di sisi bed pasien yang ditempati Fayre. Meski malam sudah merangkak naik, akan tetapi rasa kantuk tidak dirasakan lagi oleh Arvin setelah melihat buah hatinya.


Fayre dan bayinya baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap. Kondisi ibu dan anak dinyatakan sehat tanpa ada kelainan ataupun diagnosis yang mengkhawatirkan. Fayre sedang terlelap karena belum sepenuhnya pulih. Sementara pak Bram dan bu Linda masih di ruang bersalin untuk mengurus beberapa hal mengenai cucunya. Mereka bersikukuh ingin mengurus semuanya sendiri dan menyuruh Arvin untuk menjaga Fayre dan bayinya di ruang rawat inap.


"Arvin. Aku haus!"


Tatapan mata Arvin beralih ke arah Fayre. Dia segera beranjak dari tempatnya setelah mendengar suara sang istri. Satu gelas air putih telah diambil Arvin dari atas nakas dan setelah itu dia duduk di tepi ranjang sambil memberikan air untuk sang istri.


"Bagaimana kondisimu sekarang? Apa masih ada yang sakit?" tanya Arvin setelah Fayre menghabiskan satu gelas air putih.

__ADS_1


"Ya masih sakit semua lah. Apalagi ini," keluh Fayre sambil menyentuh kawasan jalan tol, "masih sakit dan perih," ucapnya lagi.


"Apa perlu aku meniupnya biar gak sakit lagi?" seloroh Arvin sambil mengerlingkan matanya genit.


"Kamu minta digetok tiang infus ya!" Emosi Fayre tersulut setelah mendengar Arvin berseloroh.


"Ya kali aja kamu pengen tahu bagaimana sensasi yang lain." Arvin mengulum senyum setelah melihat wajah kesal sang istri.


Obrolan tidak penting itu harus terhenti ketika bu Linda dan pak Bram masuk ke dalam ruangan tersebut. Raut wajah keduanya terlihat bahagia setelah melihat cucunya yang sedang tertidur pulas. Mungkin karena terlalu bahagia, bu Linda sampai meneteskan air matanya. Penerus generasi keluarga yang sudah lama dinanti akhirnya datang ke dunia ini.


"Nak, kamu sudah menggendong bayimu?" tanya bu Linda sambil menatap Fayre.


"Belum, Ma. Saya tadi masih takut," jawab Fayre.


Bu Linda segera mengangkat bayi yang tertidur pulas itu dan didekap dalam gendongan hangatnya. Tidak lama setelah itu, bu Linda membawa bayi tersebut mendekat ke tempat Fayre. Beliau memerintahkan Arvin agar meletakkan bantal di atas pangkuan Fayre.


"Mami, saya sangat bahagia, Mi. Oh my God. Akhirnya kamu datang di hidup kami, Nak," ucap Fayre dengan mata yang berembun karena sangat bahagia dengan anugerah yang diberikan Tuhan untuknya. Pandangannya tak lepas dari wajah yang ada di pangkuannya.


Kebahagiaan yang begitu besar telah menyelimuti keluarga tersebut. Mereka tak henti bersyukur karena Tuhan Yesus memberikan semua ini setelah badai besar yang menghantam, "oh, iya. Siapa nama anak kalian ini? Mami sampai lupa kalau cucu Mami ini belum punya nama," tanya bu Linda seraya menatap Arvin dan Fayre bergantian.


"Berhubung bayi menggemaskan ini made in Jerman, saya akan memberi nama dia ...." Arvin menghentikan ucapannya sambil menatap Fayre penuh arti, "Baren Darelano Axelle," ucap Arvin dengan suara yang lantang.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2