Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Berkumpul bersama,


__ADS_3

"Katakan padaku, bagaimana kamu bisa mendapatkan rumah itu lagi?" tanya Fay seraya menengadahkan kepala.


Senja telah hadir di cakrawala barat, warna jingga mendominasi langit yang sudah berubah menjadi redup. Sejak pulang dari acara ulang tahun yang digelar di rumah lama pak Hardi, sepasang suami istri itu menghabiskan waktu di dalam kamar.


Arvin melepaskan tangannya dari kepala Fay karena merasakan kebas. Ia duduk untuk sesaat dan menarik selimut untuk menutupi tubuh, karena kulit tersebut mulai merasakan dinginnya suhu AC di kamar. Arvin menatap Fay dengan diiringi senyum tipis, ia duduk bersandar di headboard ranjang dengan tangan tak henti membelai rambut tersebut.


"Bu Lisa yang menjualnya, tapi dia tidak tahu jika aku yang membeli rumah itu," ucap Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik itu.


Tentu saja, kabar dari Arvin membuat Fay terkejut. Tidak mungkin nenek sihir itu menjual aset jika tidak ada kebutuhan yang mendesak. Fay jadi penasaran apa yang menjadi alasan bu Lisa hingga melepaskan rumah tersebut.


"Apa kamu tahu kenapa rumah itu dijual?" selidik Fay tanpa melepaskan pandangan dari Arvin.


"Tidak. Mungkin, mereka butuh modal kali, Fay," jawab Arvin.


Hingga langit menjadi gelap, Fay masih memikirkan praduga yang mungkin saja menjadi alasan bu Lisa. Akan tetapi semua praduga tersebut rasanya tidak mungkin, karena menurut Fay, harta peninggalan ayahnya sangat banyak. Lalu untuk apa bu Lisa menjual rumah tersebut?


"Sudahlah! Kita tidak usah memikirkan mereka. Anggap saja perusahaan yang dipimpin saudara tirimu itu bangkrut!" pungkas Arvin agar tidak ada pembahasan lagi.


Pembicaraan itu harus berakhir setelah ponsel Arvin berdering. Nama Fabi terlihat jelas di layar ponsel itu, "Ya kenapa, Bi?" pertanyaan itulah yang lolos dari bibir Arvin setelah panggilan terhubung.


Obrolan bersama Fabi berlangsung selama beberapa menit. Sepertinya sahabat Arvin itu ingin berkumpul di Club malam. Terdengar jelas jika Arvin menyanggupi pemintaan dari Fabi.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Fay setelah melihat Arvin meletakkan ponselnya di tempat semula.


"Fabi ngajak clubbing. Boleh ya aku pergi?" Arvin meminta izin kepada Fay, "Raka tidak ikut kok. Dia lagi ke Surabaya," imbuh Arvin setelah melihat ekspresi wajah sang istri.


"Kamu mau ikut? Ada pacarnya Toni dan Fabi," tanya Arvin seraya menatap Fay penuh harap.


Fay hanya diam setelah mendengar semua ucapan Arvin. Dia sedang menimbang permintaan suaminya itu. Jujur saja, Fay enggan sekali untuk masuk ke dalam club malam. Ia tidak tahan dengan keramaian dan dentuman musik yang memekik di telinga.


"Aku di rumah saja." Fay menatap Arvin penuh arti, "hari ini aku sangat lelah, Vin," keluh Fay dengan raut wajah yang berubah menjadi manja.


Arvin memejamkan mata setelah merasakan tangan Fay melingkar di perutnya. Dari gerakan tangan itu, Arvin mengerti jika pemilik sarang sanca ini sedang memberikan kode untuk mengulang permainan yang menguras tenaga.


"Oke, satu kali permainan sebelum aku berangkat ke Club," ucap Arvin seraya menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh molek sang istri.


Bintang bertaburan tuk menghiasi gelapnya malam. Mobil sport berwarna hitam milik anak konglomerat di Negeri ini akhirnya sampai di depan club malam yang biasa ditempati Arvin dan kawan-kawan berkumpul.


Meski muak dengan wanita bernama Nella—pemilik club—Arvin tetap datang memenuhi undangan dari Fabi. Ia menghiraukan setiap sambutan dari wanita-wanita yang ia jumpai di lobby. Langkah Arvin pun berhenti di depan room VVIP 1.


"Welcome, Bro," sambut Toni ketika melihat Arvin masuk ke dalam ruangan.


"Sendirian aja? Mana bini lu?" Fabi celingukan saat melihat Arvin datang seorang diri.

__ADS_1


"Dia gak bisa ikut. Kelelahan dia," jawab Arvin saat duduk di sofa tunggal yang ada di dekat Fabi.


"Lu hajar berapa kali, Bro?" Toni terlihat penasaran dengan kegiatan ranjang sahabatnya itu.


"Hampir setengah hari gue habiskan di kamar," jawab Arvin sambil menuang wine yang ada di sana. Ia segera meneguk minuman mahal yang sudah dipesan teman-temannya.


Mungkin, Arvin tidak bisa berlama-lama di tempat ini karena dia sudah berjanji kepada Fay untuk pulang sebelum jam dua belas malam. Baik Fabi ataupun Toni pun mengerti perihal itu. Mereka tidak melarang Arvin untuk pulang lebih awal.


"Men, jangan terlalu banyak minum!" Toni memperingatkan Arvin yang sejak tadi tanpa sadar meneguk wine itu.


"Ya gak papa kali. Gue belom mabok kok! Masih kuat lah segini," ucap Arvin sambil menunjukkan botol berisi wine itu.


"Bukan perkara mabok, Men! Gue hanya mengingatkan, biar lu mengurangi alkohol. Bini lo biar cepet hamil." Sebagai teman yang baik, Toni mengingatkan Arvin. Ia tahu perihal itu saat mendengar seminar ibunya tentang kehamilan.


Arvin hanya tersenyum saat menanggapi nasihat dari Toni. Ia mengacungkan jempolnya ke arah Toni jika dirinya berterima kasih karena sahabatnya itu sudah peduli dengan keadaannya.


Acara kumpul bersama yang sudah lama tidak dilakukan itu terus berlangsung. Suara gelak tawa ketiganya terdengar di sana, akan tetapi suara mereka tetap tidak bisa menandingi suara musik dari DJ terkenal di Club malam ini.


"Eh, gue balik dulu, ya! Ini sudah jam sebelas lebih. Bisa ngamuk itu bini gue!" pamit Arvin setelah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Kedua pria tersebut tertawa lepas setelah mendengar ucapan Arvin. Mereka tidak menyangka saja jika Arvin bisa nurut dengan seorang wanita.

__ADS_1


"Gue gak pernah menyangka, Bi, jika Arvin bakal sebucin ini sama bininya. Ck!" Toni menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. Pandangannya tak lepas dari Fabi yang sedang tertawa lepas.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹


__ADS_2