Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Rintik hujan yang tak henti,


__ADS_3

"Katakan sekali lagi," ujar Arvin setelah membaringkan tubuh Fayre di atas ranjang.


"Bawa aku terbang jauh menembus awan yang syahdu," ucap Fayre dengan mata yang terlihat sayu, "come on, Baby!" Fayre memberikan isyarat agar Arvin segera memulai kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan. Dia sudah tidak mampu menahan segala rasa yang berkumpul menjadi satu.


Pria tampan itu tidak bisa berpikir lagi dengan jernih. Kali ini dia hanya mengikuti nalurinya sebagai seorang lelaki. Hasrat yang sudah lama terpendam tidak akan mungkin bisa ditahan. Satu persatu kancing kemeja navy itu pun mulai terlepas dan kemeja itu berakhir di lantai yang terasa dingin.


Arvin segera naik ke atas ranjang. Kehadirannya disambut dengan senang hati oleh pemilik tubuh mulus yang masih bersembunyi dibalik dress tanpa motif itu. Aroma parfum yang dipakai oleh Fayre ternyata berhasil membuat Arvin mabuk kepayang. Dia sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk mendaki puncak bukit yang ada di balik cup busa berenda. Tangannya begitu lihai saat melepas dress tersebut hingga terpampanglah pemandangan indah yang terlihat menggoda.


Kini, tubuh mulus itu hanya tertutupi dua helai penutup saja dan tak lama setelah itu, dengan cepat Arvin berhasil menyingkirkan rintangan yang menghalangi kegiatannya. Pemandangan indah itupun bisa dilihat dengan jelas.


Kedua tangan Fayre mencengkram erat sprei berwarna putih itu ketika Arvin berada di puncak bukit. Lenguhan manja kembali lolos dari bibir sexy berwarna merah tatkala tubuh merasakan desiran yang begitu kuat. Ya, semua rasa itu berkumpul menjadi satu setelah cukup lama tidak merasakan semua kenikmatan ini.


Sekali lagi Fayre terpekik nikmat setelah Arvin mulai menjelajah tubuh mulus yang beraroma vanila itu. Telapak kakinya pun semakin menekan kuat kasur empuk itu ketika Arvin melabuhkan lidahnya di sekitar gua licin. Sepertinya, pria itu sibuk menikmati kacang almond spesial yang tertanam di sana. Sungguh, semua ini berhasil membuat Fayre tak bisa menahan gejolak dalam tubuhnya.


"Arvin," desis Fayre dengan mata yang terpejam.


Arvin semakin mempercepat gerakan lidahnya saat merasakan cengkraman kuat di kepalanya. Sebuah tanda jika wanita yang sedang mengerang itu bersiap untuk mencapai puncak pertamanya. Tubuh mulus itu terlihat mengejang disertai dengan suara erangan yang semakin tak karuan ketika Arvin mengantarnya hingga sampai puncak nirwana.


"Bersiaplah menerima lebih dari ini, Sayang!" ujar Arvin tanpa sadar. Helaan napasnya mulai berat karena tidak tahan lagi ingin merasakan himpitan lembah yang ada di dalam gua.


"Tunggu!" Fayre menghentikan Arvin yang sudah siap untuk melancarkan aksinya. Dia mendorong tubuh tersebut dan segera bangkit dari ranjang.

__ADS_1


Arvin mengernyitkan keningnya ketika melihat Fayre berjalan menuju sofa, di mana tas selempangnya berada. Dia mengambil sesuatu dari sana dan segera kembali ke sisi ranjang. Fayre duduk di tepi ranjang sambil menatap Arvin penuh arti. Sementara tangannya sibuk membuka bungkus sesuatu.


"Kamu harus memakai ini!" ucap Fayre sambil menunjukkan sarung pembungkus sanca, "aku tidak mau jika terjadi sesuatu setelah kita berpisah," ucap Fayre tanpa melepaskan pandangan dari wajah tampan itu.


"Baiklah. Kalau begitu pasangkan sekarang!" titah Arvin tanpa berpikir panjang. Pria tampan itu hanya bisa pasrah atas kehendak wanita yang sedang asyik bermain-main bersama sanca itu.


Arvin memposisikan tubuh mulus Fayre membelakanginya setelah sarung pengaman terpasang di tubuh sanca. Sebelum melancarkan aksinya, Arvin menjelajah tulang punggung itu dengan lidahnya sebelum menerobos gua licin.


"Arvin! Cukup!" Tubuh mulus itu bergerak tak karuan saat merasakan sensasi lain yang diberikan oleh Arvin.


Fayre semakin membungkukkan bagian atas tubuhnya hingga pinggang rampingnya semakin meninggi. Sebuah jalan akses yang cukup mudah untuk sanca menjelajah isi gua. Tak lama setelah itu, himpitanpun mulai terasa saat sanca mulai bergerak di sana.


"Bawa aku terbang sekarang, Baby!" rancau Fayre saat pertahanannya mulai runtuh.


Arvin mempercepat gerakannya ketika merasakan himpitan yang semakin kencang. Dia membawa Fayre terbang untuk kesekian kalinya. Helaan napas berat terdengar di sana. Setelah memberi jeda waktu, Arvin mengubah posisinya. Permainan pun terus berlanjut hingga beberapa menit lamanya.


Permainan itu berakhir dengan peluh keringat yang mengalir deras. Inilah perjuangan berat yang harus dilakukan oleh Fayre karena dia harus membuang rasa lelah demi mendapatkan sesuatu dari Arvin.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah!" ucap Fayre setelah duduk di sisi Arvin yang sedang terlentang.


Dengan cekatan Fayre mengambil sarung pembungkus sanca yang berisi 'bisa' hasil pertempuran itu, "diamlah! Aku akan membersihkannya," ucap Fayre sambil meraih tissu dan mengusap sanca dengan lembut.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan tugasnya, Fayre segera turun dari ranjang dengan tangan kiri membawa sarung sanca. Dia meraih tas slempang dan memungut pakaiannya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Setelah berada di dalam kamar mandi, Fayre terlihat sibuk di meja wastafel dengan botol tampung dan sarung sanca.


"Akhirnya dapat juga!" gumam Fayre setelah botol tersebut terisi cairan yang dibutuhkan laboratorium.


Fayre buru-buru membersihkan dirinya karena setelah ini dia harus ke Laboratorium terlebih dahulu. Dia berharap Arvin tertidur saat ini, karena dia tidak perlu lagi beralasan untuk keluar. Setelah membersihkan diri dan bersiap di dalam kamar mandi selama beberapa puluh menit, Akhirnya Fayre keluar. Dia bernapas lega setelah melihat Arvin tidur nyenyak di balik selimut tebal itu. Kesempatan ini harus digunakan Fayre dengan baik. Dia segera keluar dari kamar untuk menyerahkan botol tampung berisi sperm* itu ke laboratorium.


"Bu, nanti jika suami saya bangun dan mencari saya, tolong sampaikan jika saya ke supermarket sebentar untuk mencari sesuatu," pamit Fayre ketika melihat ART yang sedang berkutat di dapur.


"Baik, Nyonya," ucap wanita paruh baya itu.


Langkah demi langkah telah dilalui Fayre hingga sampai di lobby apartment. Senyum manis tak henti mengembang dari kedua sudut bibirnya karena berhasil mendapatkannya dengan mudah. Tidak perduli meski hujan masih mengguyur, Fayre tetap berangkat menuju laboratorium.


"Terima kasih, Tuhan, atas semua kemudahan ini," gumam Fayre setelah masuk ke dalam mobilnya.


Kali ini dia harus bergerak cepat agar sel-sel yang ada dalam botol tampung itu tidak mati dan bisa mendapatkan hasil yang akurat. Lagi dan lagi alam mempermudah usahanya. Jalanan kota yang biasa macet, kini terasa lenggang akibat hujan yang tak henti sejak pagi.


"Sebentar lagi aku menang!" ujar Fayre dengan senyum smirk. Dia sudah tidak sabar lagi untuk membongkar kejahatan dokter Winda, Raka ataupun Toni.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2