
Botol wine dengan kualitas paling bagus berjajar rapi di atas meja ruang tamu. Arvin sudah meneguk beberapa gelas wine yang dituang sendiri. Saat ini dia berada di apartment baru yang tidak pernah diketahui oleh Fayre. Dia merenung di tempat ini sejak pulang dari kantor.
Semua keputusan yang diambil ternyata membuat keadaannya terpuruk. Belum genap satu hari dia jauh dari Fayre, akan tetapi hidupnya seperti tidak berarti. Separuh jiwanya serasa pergi menjauh. Hanya alkohol yang menjadi temannya saat ini.
"Aku pasti bisa melupakan Fayre!" ujar Arvin seraya memijat pangkal hidungnya.
Ponsel Arvin yang tersimpan di dalam saku celana terasa bergetar. Dia segera merogoh ponsel tersebut dan melihat nama Fabi di sana. Ibu jarinya secepat mungkin menggeser icon hijau di layar ponsel tersebut.
Obrolan bersama Fabi terjadi di sana. Beberapa kali Arvin menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu dan sepertinya dia mengizinkan Fabi untuk datang ke tempat ini. Mungkin, Arvin sendiri butuh teman untuk menemaninya minum.
"Setelah ini gue Share lokasi ke lu," ucap Arvin sebelum memutuskan sambungan telfon bersama Fabi.
Gadget mahal itu diletakkan di atas meja setelah panggilan selesai. Arvin menuang kembali minumannya ke dalam gelas sambil menunggu kedatangan Fabi.
"Sedang apa kamu sekarang, Fay?" Arvin bergumam setelah melihat jam yang ada di ruangan tersebut berada di angka sembilan malam.
Fayre, Fayre dan Fayre. Hanya nama itu yang memenuhi pikiran Arvin saat ini. Tentu, pria tampan itu merasa bersalah atas semua yang sudah dia lakukan, "gak! Aku gak salah! Memang aku tidak pantas menjadi pria yang bersanding dengannya. Fayre terlalu sempurna untukku," sergah Arvin setelah yakin jika keputusannya adalah benar.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya Fabi telah datang ke apartment baru Arvin. Dia merasa prihatin ketika melihat wajah yang sedang menanggung beban perasaan itu. Sungguh, Fabi tidak tega melihat Arvin yang tersiksa akan keputusannya sendiri.
"Kenapa lu pindah di sini?" Itulah yang pertama kali ditanyakan oleh Fabi.
"Udah gak usah banyak nanya. Minum dulu tuh!" ucap Arvin sambil menunjuk botol wine yang masih utuh, "lu sendiri ngapain ketemu gue?" selidik Arvin sambil menatap Fabi yang sedang menuang wine ke dalam gelasnya.
"Gue lagi suntuk. Biasa urusan asmara," jawab Fabi seraya menatap Arvin.
"Ck! Lu salah tempat, Bro! Gue juga lagi punya masalah perihal asmara. Kalau lu mau curhat juga gak bakal dapat solusi," celetuk Arvin dengan suara yang berbeda. Mungkin dia mulai terpengaruh dengan alkohol yang dia konsumsi sejak tadi.
"Gue juga bukan orang bodoh, Men. Ya ... gue tahu lah bagaimana kapasitas lu. Gue bisa menyelesaikan masalah percintaan gue secara jantan dan cool." Sepertinya Fabi mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
"Ck. Sialan lu!" sungut Arvin sambil menunjuk Fabi.
Fabi tersenyum simpul setelah mendengar jawaban Arvin. Setidaknya setelah ini ada celah untuk masuk ke dalam masalah yang sedang di hadapi oleh Arvin. Sebelum melakukan itu, Fabi mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu untuk merekam hasil pembicaraannya bersama Arvin.
"Kemana Fayre? Kok sepi banget ini tempat?" Fabi celingukan pura-pura mencari keberadaan istri sahabatnya itu.
"Gak ada! Gue pisah rumah sama dia!" Arvin tidak lagi menutupi kebenaran akan hal itu.
"Why?" Fabi pura-pura terkejut setalah mendengar pengakuan tersebut.
Arvin menghembuskan napas yang berat setelah mendengar pertanyaan itu. Dia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar dengan kepala yang menengadah. Mungkin, berbagi cerita kepada Fabi tidak ada salahnya. Begitu pikir Arvin.
"Gue menggugat cerai Fayre," ucap Arvin tanpa menatap Fabi.
"Lu serius, Men?" tanya Fabi sambil menyilangkan kakinya.
"Kenapa? Lu ingin menikah lagi?" tanya Fabi.
"Gak."
"Terus?"
Arvin hanya diam saat Fabi menanyakan alasan membuat Arvin menjadi seperti ini. Tentu, Fabi pun sudah menghidupkan perekam suara agar tidak sampai lupa apa saja yang sudah disampaikan oleh sahabatnya itu.
"Gue terindikasi mandul, Bi. Hanya lima persen peluang gue untuk memiliki keturunan." Meski berat, pada akhirnya Arvin mengungkapkan hal itu.
"Tunggu! Lu tahu dari mana tentang hasil itu?" selidik Fabi seraya menatap Arvin.
"Gue sudah menjalani program hamil di nyokapnya Toni hampir satu tahun lamanya dan tidak membuahkan hasil," ucap Arvin dengan suara yang lirih.
__ADS_1
"Lu sudah periksa ke tempar lain?" tanya Fabi.
"Gak. Gue memang gak mau menjalani program di tempat lain," jawab Arvin seraya menatap Fabi.
"Hei! Kenapa begitu? Harusnya lu pergi ke luar negeri kek! Di sana lebih canggih dan modern kan." Fabi menggeleng pelan melihat sikap Arvin saat ini.
"Gue gak mau Fayre tahu atas kelemahan gue, Bi. Kemandulan adalah harga diri dan gue gak mau Fayre tahu tentang hal ini, karena dia sangat menginginkan anak dalam pernikahan ini. Akan tetapi gue gak bisa memberikan bibit gue kepada dia. Lalu apalagi yang diharapkan Fayre dari gue, Bi?" Suara Arvin terdengar bergetar sangat mengungkapkan semua itu.
"Seharusnya lu gak seperti itu, Men. Lu wajib memberitahu Fayre apapun kondisi lu, karena gue yakin dia pasti bisa menerima kekurangan lu." Fabi menyayangkan keputusan gegabah yang diambil oleh sahabatnya itu, "Eh tapi bagaimana Fayre tidak tahu hasil laboratorium itu? Bukannya kalian pasti pergi berdua saat konsultasi?" Fabi menaikkan satu alisnya saat merasa yang aneh dalam permasalahan Arvin.
Rentetan kejadian yang dialami Arvin perlahan diungkap oleh sang empu. Mulai dari awal pemeriksaan hingga hasil laboratorium yang dipalsukan, serta bagaimana dia mendapatkan obat secara sembunyi-sembunyi dari dokter Winda. Semua diceritakan Arvin kepada Fabi tanpa ada yang ditutupi.
"Men, ini tidak benar. Lu benar-benar udah gila!" sangkal Fabi seraya menatap Arvin dengan lekat.
"Ini adalah keputusan yang terbaik, Bro. Setelah gue pikir benar apa kalian saat kita bertemu di kafe beberapa waktu yang lalu," ucap Arvin seraya menatap Fabi, "jika sudah tidak bisa membahagiakan, mungkin, melepaskan adalah cara yang terbaik agar pasangan kita mencari kebahagiaannya sendiri." Ya, kalimat itulah yang menjadi dasar pemikiran Arvin saat memutuskan untuk menggugat cerai Fayre.
Fabi menepuk keningnya setelah mengetahui alasan mendasar yang membuat Arvin menjadi seperti ini. Sungguh, menurut Fabi, sahabatnya itu sudah tidak waras saat ini. Ternyata tidak ada bedanya Arvin sekarang dengan Arvin yang dulu. Tetap ceroboh dan kurang teliti.
"Men, hubungan ini masih bisa diperbaiki. Lu gak mau berjuang untuk Fayre?" tanya Fabi seraya menatap Arvin dengan lekat.
"Tidak ada lagi yang perlu diperjuang, Bi. Gue sendiri gak bisa mengatakan keadaan gue kepada Fayre. Gue malu karena gue gak subur. Coba bayangkan jika lu sendiri yang mengalami keadaan seperti gue." Suara Arvin bergetar saat mengatakan keresahan dalam hatinya.
Fabi ikut pusing memikirkan drama rumah tangga ini. Dia sangat gemas kepada Arvin yang hanya diam di tempat tanpa berani mengutarakan semua permasalahan kepada istrinya.
"Semoga pengakuan Arvin bisa membantu usaha Fayre dalam mempertahankan rumah tangganya," gumam Fabi dalam hati.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1