Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Obrolan serius,


__ADS_3

Lagu-lagu rohani menggema di salah satu gereja terbesar di Jakarta selatan. Bu Linda dan Fay sedang mengikuti ibadah rutin di hari minggu. Untuk pertama kalinya kedua wanita itu datang beribadah bersama. Hampir dua jam mereka berada di dalam gereja tersebut.


"Setelah ini, kamu harus ikut Tante pulang ke rumah utama," ucap bu Linda setelah keluar dari gereja. Beliau menggenggam tangan Fay saat berjalan ke tempat parkir mobil


Hanya senyum manis yang menjadi jawaban Fay saat ini. Seperti biasa, ia lebih cenderung diam dari pada harus banyak bicara. Kedua wanita itu pun akhirnya masuk ke dalam mobil yang dikendarai sopir pribadi pak Bram. Mereka menembus jalanan padat agar sampai di rumah utama.


"Arvin jarang sekali ke Gereja. Jika nanti kalian sudah menikah, ajak Arvin ibadah bersama," ucap bu Linda seraya menatap Fay dengan diiringi senyum yang manis.


"Iya, Tante," jawab Fay.


Setelah membelah jalanan yang padat selama beberapa puluh menit, pada akhirnya mobil yang membawa bu Linda dan Fay sampai di halaman luas rumah megah tersebut. Mereka berdua segera keluar dari mobil dan berjalan menuju teras rumah. Seperti sebelumnya, bu Linda menggenggam tangan Fay saat memasuki rumahnya.


Fay mengedarkan pandangan setelah sampai di dalam rumah tersebut. Ia mengamati interior yang ada di sana. Penataan barang-barang mewah berada di tempat yang tepat. Fay suka dengan desain interior rumah ini.


"Tunggu di sini sebentar, ya. Tante mau memanggil Arvin dan om Bram di atas," ucap bu Linda setelah sampai di ruang keluarga.


Fay hanya mengangguk pelan dengan diiringi senyum tipis sebelum bu Linda berlalu pergi. Ia mengamati foto keluarga berukuran besar yang tertempel di sisi lain dinding tersebut. Wajah tampan Arvin yang sedang mengembangkan senyumnya terlihat jelas di sana.


"Sepertinya dia bukan pria brengsek. Semoga dugaanku tidak salah," gumam Fay dalam hatinya.


Semua angan dan bayang-bayang wajah Arvin hilang begitu saja, saat di ruangan tersebut terdengar derap langkah seseorang. Fay mengalihkan pandangan untuk melihat siapa yang datang, dan ternyata adalah Arvin.


"Sudah lama?" tanya Arvin setelah duduk di sofa lain yang tak jauh dari tempat Fay berada.


"Belum," jawab Fay seraya menatap Arvin sekilas.


Arvin hanya manggut-manggut setelah mendengar jawaban singkat itu. Fay tetap sama seperti malam itu, irit kata. Ini lah yang membuat Arvin susah memulai komunikasi dengan gadis yang sedang termenung itu.


"Sebenarnya, aku ingin ngobrol empat mata denganmu," ucap Arvin seraya menatap Fay.


"Silahkan saja." Fay menatap Arvin dengan sorot mata penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Tapi tidak di sini," ucap Arvin.


"Lalu?" Fay mengernyitkan keningnya karena penasaran.


Tanpa banyak bicara, Arvin berdiri dari tempat duduknya. Ia memberikan kode agar Fay mengikuti langkahnya. Arvin meraih tangan Fay saat melihat gadis tersebut tak segera mengikuti langkahnya. Arvin berjalan beriringan sambil menggenggam tangan Fay.


"Kita mau kemana?" Fay menghentikan langkahnya setelah sampai di depan pintu sebuah ruangan.


"Kamarku,"


"Ngapain? Jangan aneh-aneh!" Fay mundur satu langkah.


"Jangan berpikir negatif. Berada di dalam kamar berdua bukan berarti akan melakukan sesuatu! Jika kamu mau, aku bahkan bisa mesum denganmu di sini, tanpa harus masuk ke dalam kamar!" ujar Arvin. Pria tampan itu sedikit kesal melihat gadis di hadapannya itu.


Fay tidak bisa menolak lagi setelah Arvin menarik tangannya hingga masuk ke dalam kamar tersebut. Aroma pengharum rasa kopi menyeruak ke dalam indera penciuman Fay setelah berada di dalam kamar tersebut.


"Duduklah!" titah Arvin seraya menatap sofa berwarna abu-abu di kamarnya.


"Kenapa kamu menerima pernikahan ini?" tanya Arvin tanpa melepaskan pandangan dari objek indah di hadapannya itu.


"Entahlah, aku pun tidak tahu alasannya, karena menikah tidak butuh banyak alasan." Fay mengalihkan pandangan ke samping, ia menatap mata teduh calon suaminya itu.


"Sebelum kita menikah, aku ingin kita saling terbuka. Aku harap kamu bersedia jujur," ucap Arvin.


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Fay tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Arvin.


"Jujur saja, aku bukan seorang perjaka suci. Aku sudah pernah melakukan hubungan bersama wanita, tapi itu dulu, saat aku masih kuliah. Apakah kamu pernah melakukan hubungan tersebut bersama pria lain?" tanya Arvin seraya menatap Fay.


Fay tertegun setelah mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menyangka jika Arvin mengatakan hal itu. Jujur saja ia sedikit kecewa setelah tahu kenyataan, jika Arvin sudah pernah berhubungan dengan wanita lain.


"Apa hubungan itu menumbuhkan benih di rahim wanita itu?" Fay sangat penasaran akan hal itu.

__ADS_1


"Aku tidak bodoh. Aku tidak pernah menanam benih di rahim wanita manapun. Kamu ini jangan terlalu kuno. Apa kamu tidak tahu jika ada k*ndom untuk pengaman?" tanya Arvin dengan diiringi dengan decakan, "jadi bagaimana? Apa kamu sudah pernah melakukan hubungan suami istri?" tanya Arvin sekali lagi.


"Aku belum melakukan hubungan dengan pria mana pun. Aku hanya memiliki satu mantan saat masih SMA dulu. Setelah kuliah di Amerika, aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan bule di sana, karena aku tidak mau terlarut dalam hubungan bebas." Fay mengalihkan pandangan dari wajah Arvin.


"Sebenarnya, aku tidak mempermasalahkan jika memang kamu bukanlah seorang perawan, asal kamu jujur sebelum menikah." ujar Arvin


"Aku masih perawan!" sarkas Fay seraya menatap Arvin dengan sorot mata kesal.


Arvin tergelak setelah melihat ekspresi wajah Fay saat ini. Arvin rasanya ingin menggoda gadis tersebut karena terlihat lucu sekali, "tapi kalau ciuman pernah kan?" Arvin menaik turunkan satu alisnya.


"Tidak!" ujar Fay dengan mata yang bibir yang mengerucut.


"Hmmm ... polos sekali calon istriku ini!" Arvin harus menahan tawanya karena melihat Fay semakin kesal, "sini aku cium! Biar pernah merasakan bibir pria!" Arvin mendekat ke tempat Fay berada saat ini.


"Arvin! Jangan mesum!" teriak Fay seraya menjauhkan tubuhnya.


Arvin semakin tergelak setelah Fay mendorong tubuhnya. Sepertinya Fay benar-benar takut jika dimangsa oleh Arvin, "Hey, mau kemana?" Arvin menarik tangan Fay saat gadis tersebut berusaha kabur dari tempatnya.


"Oke, kali ini kita akan bicara serius!" Ekspresi wajah Arvin berubah menjadi serius.


Fay duduk kembali di tempatnya. Ia mengibaskan rambutnya ke belakang agar terlihat rapi. Ia mengatur napasnya setelah bersandar di sofa tersebut, sambil menunggu pembahasan serius yang dimaksud oleh Arvin.


"Aku memiliki satu syarat sebelum kita menikah nanti. Aku harap kamu setuju dengan syarat yang aku ajukan!" ujar Arvin hingga membuat Fay mengalihkan pandangan ke arahnya.


...🌹Selamat membaca🌹...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo epribadeh😍Rekomendasi karya keren untuk kalian nih 😀 Kuy baca gratis novel dari author Chika SSi dengan judul Sisi Gelap Seorang Hakim. Serius dah, ini keren banget😍


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2