Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Rencana Arvin dan Fabi,


__ADS_3

Suasana ruang keluarga mendadak panas setelah pak Bram selesai membaca beberapa lembar kertas pemberian dari Fayre. Menantu kesayangan keluarga ini menjelaskan semua kejadian yang sudah pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Tentu pria paruh baya itu murka kepada putranya sendiri karena sangat teledor dalam hal seperti ini.


"Bagaimana kamu bisa melindungi perusahaan suatu saat nanti jika konspirasi kecil seperti ini saja kamu tidak tahu!" hardik pak Bram seraya mengetuk meja berlapis kaca beberapa kali.


Bu Linda hanya bisa menggeleng pelan karena melihat sikap putranya. Beliau sampai memijat pangkal hidungnya karena pusing memikirkan kepribadian Arvin. Pendidikan mahal nyatanya tak membuat Arvin menjadi pria yang kuat dan cerdik. Mungkin, inilah hasilnya karena selama ini bu Linda sangat memanjakan Arvin.


"Kamu itu jangan mengandalkan Rofan saja! Papi membiarkan Rofan menjadi asistenmu bukan berarti kamu bergantung kepada dia! Seharusnya kamu belajar dari dia!" tutur pak Bram dengan nada yang meninggi.


"Arvin mengaku salah, Pi. Setelah ini Arvin akan membuktikan kepada Papi jika Arvin bisa diandalkan," ucap Arvin dengan kepala yang tertunduk. Dia sangat malu karena terlihat begitu bodoh di mata semua orang. Apalagi, kecerdasannya dikalahkan oleh sang istri yang notabene seorang introvert.


"Papi gak butuh ucapan penyesalan darimu! Sekarang buktikan kepada kami semua jika kamu mampu menjebloskan semua serangga ini ke penjara! Jangan hancurkan harga dirimu sendiri!" titah pak Bram dengan tegas.


Kini, pandangan pak Bram beralih ke arah Fayre. Ya, tidak bisa dipungkiri jika pria paruh baya itu kagum akan kecerdasan sang menantu. Beliau tidak pernah menyangka sebelumnya jika Fayre akan melakukan semua ini untuk mempertahankan rumah tangganya.


"Apa kamu memiliki rencana, Menantuku?" tanya pak Bram sambil menyilangkan kakinya.


"Untuk saat ini belum ada, Pi. Saya masih shock atas semua kejahatan yang sudah dilakukan teman-temannya Arvin," ucap Fayre seraya menatap pak Bram penuh arti.


"Sudah. Lebih baik kamu tenang, Sayang. Biarkan suamimu sendiri yang mengurus semua ini," ujar bu Linda. Wanita paruh baya itu tidak ingin jika Fayre masuk dalam bahaya.


Pada akhirnya keempat orang yang ada di ruang keluara hanya diam saja. Mereka seakan sedang merancang rencana untuk membongkar kejahatan yang dilakukan dokter Winda dan kawan-kawan.


"Arvin pergi dulu. Ada hal yang harus Arvin lakukan," pamit Arvin tiba-tiba.


Belum sempat ada yang menjawab, pria tampan itu telah hilang dari pandangan karena langkahnya begitu cepat. Entah kemana dia pergi sore ini, yang pasti mobil itu melaju kencang ke arah kediaman Fabi.


Arvin terus mengarahkan mobilnya melewati jalan yang cukup padat itu dengan pikiran yang berkecamuk. Dia mencoba menerka apa motif toni dan dokter Winda hingga tega malakukan semua ini. Padahal dirinya tidak bermasalah dengan mereka. Sejauh ini hubungan mereka pun baik-baik saja.

__ADS_1


"Kenapa dokter Winda melakukan ini? Apa mereka dibayar Raka untuk menghancurkan aku?" gumam Arvin dengan pandangan yang fokus jalanan di hadapannya.


Hingga beberapa puluh menit lamanya, Arvin baru tiba di kediaman Fabi. Warna cerah pun mulai pudar karena sang mentari benar-benar bersembunyi di tempatnya, "saya ingin bertemu dengan Fabi," ucap Arvin setelah kedatangannya disambut oleh ART yang bekerja di sana.


"Silahkan masuk, Tuan," ucap ART tersebut seraya memberi jalan kepada Arvin.


Setelah Arvin duduk di ruang tamu, ART tersebut segera masuk ke dalam untuk memanggil Tuan muda di rumah ini. Tidak lama setelah itu, sang empu pun keluar dari ruang keluarga. Malam itu Fabi memakai pakaian santai karena baru saja pulang dari kantornya.


"Tumben?" tanya Fabi seraya duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Arvin berada.


"Ada hal yang sangat penting!" Arvin membenarkan posisinya menjadi tegak.


"Katakan saja," ucap Fabi seraya menyulut rokoknya.


Tanpa basa-basi lagi, Arvin menjelaskan semua kejadian yang menimpanya. Dia percaya jika Fabi tidak ikut dalam rencana mereka karena Arvin dan Fabi menjalin pertemanan sejak SMP. Mereka memang dekat sejak masih remaja.


"Kurang ajar!" Fabi tidak terima setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia mematikan rokoknya dan dibuang begitu saja meski masih ada setengah.


"Tunggu, sebelum kita melakukan hal itu, aku ingin mengetahui apakah Raka dalang dari semua ini," ucap Arvin tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Fabi.


"Memangnya dia ada masalah apa sih sama lu?" tanya Fabi, karena dia sendiri tidak tahu apapun tentang Raka, "apa dia suka sama bini lu?" selidik Fabi.


"Mana gue tahu lah!" Arvin mengedikkan bahunya, "kita harus bertemu mereka malam ini!" ujar Arvin dengan tatapan penuh arti.


Arvin pun menjelaskan rencananya kepada Fabi dan sahabatnya itu langsung menyetujui rencananya. Fabi terlihat sibuk mengetik pesan di ponselnya, sepertinya dia sedang melaksanakan rencana yang sudah disusun oleh Arvin.


"Ayo kita berangkat sekarang! Mereka ada di cafe Sutos." Fabi beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


"Eh, lu gak ganti baju dulu?" Arvin heran saja saat melihat Fabi yang begitu bersemangat tanpa memikirkan penampilannya.


"Ogah! Gue udah gak sabar pengen bertemu mereka," ucap Fabi, "buruan!" teriak pria itu karena Arvin tak kunjung beranjak dari tempatnya.


Dua pria tampan itu pun segera bertolak menuju cafe Sutos untuk menemui Raka dan Toni. Mereka sudah merencanakan beberapa drama untuk melihat ekspresi wajah Toni dan Raka. Syukur-syukur jika mereka mendapatkan bukti untuk mengetahui siapa dalang dari konspirasi ini.


"Pokoknya lu harus memasang wajah penuh masalah! Jangan sampai mereka curiga!" Fabi mengingatkan Arvin setelah mobil yang dikendarai sahabatnya itu sampai di lokasi.


"Ck! Emang gue lagi banyak masalah! Asal lu tahu, ada masalah lebih besar dari ini yang sedang gue hadapi!" ujar Arvin seraya melepas seatbeltnya.


Tentu saja hal itu membuat Fabi mengurungkan niatnya yang akan membuka pintu mobil, "ada masalah apalagi, Bro?" Pria tampan itu menatap Arvin dengan lekat.


"Gue dianggurin Fayre!" jawab Arvin dengan entengnya.


"Sialan lu! gue kira apaan!" sungut Fabi. Dia kesal saja dengan Arvin setelah mendengar jawaban itu.


Pada akhirnya kedua pria tampan itu segera keluar dari mobil dan mengayun langkah menuju cafe. Arvin pun mulai menampakkan ekspresi wajah lesuh dan muram. Sepertinya Arvin memang tidak bakat menjadi seorang Pemimpin perusahaan, dia lebih cocok menjadi seorang aktor.


"Welcome, Bro," sambut Toni setelah melihat kehadiran Arvin dan Fabi di sana.


"Lemes amat, Bro, kek banyak masalah aja hidup lu," sahut Raka setelah melihat keadaan Arvin.


Setelah duduk di kursi yang ada di hadapan Raka, Fabi pun mulai mengamati kedua temannya itu. Dia harus bisa membantu Arvin membongkar semuanya agar circle toxic ini segera bubar. Fabi sangat benci dengan penghianatan apalagi dilakukan oleh orang-orang terdekat.


"Hibur lah teman kita ini! Dia banyak masalah tuh! Habis sidang gugatan cerai dia," celetuk Fabi tanpa melepaskan pandangan dari Raka dan Toni.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...

__ADS_1


...Yang tahu hukum dan pasal tentang tindakan pidana ataupun kode etik dokter Winda dkk, komen dong😂othor butuh referensi nih😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2