
Hembusan napas berat terdengar di dalam kamar mandi milik seorang pria yang sedang duduk di atas closet. Pria tampan itu terlihat tidak nyaman saat membuang ampas dari saluran pencernaannya. Ekspresi wajahnya seperti seseorang yang sedang putus asa.
Ya, pria itu adalah Arvin. Dia mengusap wajahnya dengan kasar setelah melihat wanita yang duduk di atas meja wastafel sambil fokus dengan gadget yang ada dalam genggaman tangannya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Fayre. Sikap aneh yang ditunjukkan Fayre akhir-akhir ini berhasil membuat Arvin merasa pusing. Pasalnya ibu hamil itu tidak mau berpisah dengannya walau hanya sebentar saja. Buang air besar pun dia sampai ikut ke dalam kamar mandi. Untung saja closet yang ada di dalam kamar mandi Arvin berada dalam ruangan bersekat kaca tembus pandang.
"Sayang, buruan! Ayo kita sarapan. Aku lapar!" ujar Fayre setelah meletakkan benda canggih itu di sisinya.
Helaian napas berat terdengar lagi di sana. Kali ini bukan hanya wajahnya yang diusap dengan kasar, rambut hitamnya pun ikut berantakan karena diacak-acak sendiri. Bagaimana bisa istrinya itu mengajak sarapan padahal saat ini dia sedang mengeluarkan sampah makanan yang ada dalam ususnya.
"Ya sudah, kamu keluar dulu gih! Siapkan sarapannya. Lima menit lagi aku akan selesai," bujuk Arvin agar Fayre cepat keluar dari kamar mandi.
Fayre menggeleng pelan saat menatap Arvin yang ada di balik kaca tembus pandang itu. Dia hanya tersenyum manis dengan kelopak mata yang berkedip beberapa kali, "gak mau ah! Aku mau di sini nemenin kamu. Aku gak bisa jauh-jauh dari kamu, Ayang." Suara manja Fayre terdengar di sana hingga membuat Arvin bergidik ngeri.
"Ya ampun!" Arvin menepuk keningnya setelah mendengar jawaban tersebut.
Usia kandungan Fayre sudah memasuki minggu ke enam belas. Keanehan ini muncul sejak usia kandungan tersebut ada di minggu ke dua belas. Semua itu berarti sudah satu bulan lamanya Arvin menghadapi sikap aneh sang istri. Kemanapun dia pergi, Fayre pasti akan mengikutinya, bahkan sampai ke toilet pun. Wanita berbadan dua itu berdalih jika tidak mau berjauhan dengan Arvin walau hanya satu menit saja. Meski tidur pulas, dia tetap tahu jika Arvin tidak ada di sampingnya.
Meeting bersama klien, rapat penting bersama staf perusahaan dan kemanapun pria tampan itu pergi, bisa dipastikan di sisinya ada Fayre yang mengikuti. Tentu semua ini berhasil membuat Arvin merasa stres. Keluhan ini sudah disampaikan kepada dokter Areta, akan tetapi dokter cantik itu tidak memberikan solusi yang pasti, malah hanya tertawa saja saat mendengar keluh kesah Arvin.
"Eh, tungguin! Aku gak bisa turun ini!" teriak Fayre saat melihat Arvin membuka pintu kamar mandi seusai membersihkan diri pasca buang air besar.
Arvin segera membantu sang istri turun dari atas meja wastafel. Dia menggandeng tangan Fayre saat berjalan keluar dari kamar mandi, "aku mau ganti baju dulu, kamu duduk di sini saja ya biar gak capek," bujuk Arvin sambil menunjuk ranjang miliknya.
"Ikut ganti baju!" ujar Fayre dengan tegas. Kalau sudah seperti ini membantah pun rasanya percuma.
Setelah masuk ke dalam walk in closet, Fayre duduk di sofa empuk tanpa sandaran sambil memandang Arvin yang sedang mengganti pakaiannya. Dia mengamati setiap gerak gerik sang suami dengan senyum manis yang tak pernah pudar dari bibirnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kapan situasi aneh ini segera berakhir! Aku sudah lelah menghadapi keanehan istriku!" batin Arvin saat melihat ekspresi wajah sang istri untuk sesaat.
"Lebih baik dia ngidam minta mangga sekalian pohonnya daripada seperti ini. Aku bisa gila kalau lama-lama seperti ini," gumamnya lagi sambil mengancingkan kemejanya.
Fayre beranjak dari tempatnya setelah melihat Arvin memilih dasi untuk dipakai hari ini. Sudah menjadi kebiasaannya untuk membantu sang suami memakai dasi. Tangannya begitu luwes saat merapikan dasi yang tersemat di kerah kemeja berwarna merah maroon itu
"Cakep," ucap Fayre setelah melihat penampilan sang suami saat ini.
Arvin hanya tersenyum tipis setelah mendengar pujian yang setiap hari didengarnya itu. Lantas dia mengubah posisinya menjadi berlutut di hadapan perut sang istri yang sudah terlihat buncit. Kecupan penuh kasih sayang mendarat di sana dengan diiringi belaian lembut yang membuat Fayre merasa nyaman.
"Nak, jangan seperti ini, oke? Daddy sangat menyayangi kamu dan juga Mommy. Please, jangan seperti ini. Jangan usil dan ngerjain Daddy ya. Tolong dengarkan keluh kesah Daddy, my Little baby." Arvin hanya bisa bergumam dalam hati sambil mengusap perut sang istri dengan gerakan lembut.
"Tadi anak kita bicara apa, Vin?" tanya Fayre setelah Arvin berdiri di hadapannya.
"Kamu bohong!" sarkas Fayre sambil memicingkan mata.
"Kamu pasti keberatan kan jika aku ikut ke kantor seperti biasanya!" tuduh Fayre dengan tatapan tajamnya.
Arvin menggeleng beberapa kali setelah mendengar tuduhan itu. Meski jawabannya adalah 'iya', tidak mungkin dirinya berkata jujur untuk saat ini demi keamanan dan kenyamanan bersama.
"Aku sangat senang kamu ikut kemana pun aku pergi. Aku bahagia karena kamu selalu ada di sisiku," ucap Arvin dengan senyum yang merekah.
"Kamu serius nih?" Sorot mata yang sempat dipenuhi amarah itu, kini berubah menjadi sorot bahagia hanya karena jawaban palsu itu.
"Tentu. Aku sangaaaaat senang melihatmu setiap saat ada di sampingku. Rasa cintamu tidak bisa diragukan lagi, Sayang. Bahkan, aku buang air besarpun kamu tetap setia ada di sampingku." Lagi dan lagi Arvin terpaksa berbohong demi kebaikan bersama.
__ADS_1
Satu kecupan mesra mendarat di bibir Arvin sebagai hadiah dari Fayre, setelah dirinya mengucapkan kata-kata manis itu. Hati wanita cantik itu menjadi berbunga-bunga hanya karena pengakuan palsu dari sang suami.
"Kamu pasti sudah lapar kan? Mari kita sarapan bersama," ucap Arvin setelah drama yang membuatnya mual itu selesai.
Setelah keluar dari kamar dan melewati satu persatu anak tangga, akhirnya mereka berdua sampai di ruang makan. Ternyata, di sana ada pak Bram dan bu Linda yang sudah menunggu kehadiran mereka berdua.
"Selamat pagi, Mi, Pi," sapa Fayre sambil menarik kursinya.
"Selamat pagi," jawab serempak sang mertua.
Saat Fayre sibuk mengambilkan makanan untuk Arvin, pria tampan itu memberikan kode kepada ibunya agar membantunya menjauhkan Fayre darinya, karena hari ini Arvin harus meninjau lokasi pembangunan pabrik yang yang ada di Bekasi. Dia tidak mau jika sampai Fayre ikut karena takut dengan keselamatan sang istri.
"Fayre, Mami bisa minta tolong gak?" tanya bu Linda setelah menemukan ide yang tepat.
"Minta tolong apa, Mi?" tanya Fayre setelah meletakkan sendoknya lagi.
"Tolong temenin Mami ke rumah sakit ya, mami ingin check up karena akhir-akhir ini merasa kurang sehat. Hari ini Papi ada urusan bersama teman lamanya jadi tidak bisa mengantar Mami," ucap bu Linda dengan suara yang lirih dan dengan tatapan penuh harap.
Fayre menatap Arvin sebelum menjawab permintaan dari ibu mertuanya itu. Dia bimbang dengan situasi ini, akan tetapi setelah melihat Arvin menganggukkan kepala dan karena tidak tega melihat ekspresi wajah penuh harap sang mertua, akhirnya dengan berat hati Fayre menerima permintaan bu Linda.
"Yes! Setidaknya aku bisa bebas satu hari ini!" ujar Arvin dalam hati dengan senyum smirk yang menghiasi wajahnya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka❤️Ada saran gak, enaknya Fayre pengen apa lagi? Othor belom pernah hamil nih jadi gtw harus nulis ngidam yang bagiamana😂🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1