
Gemerlap lampu berjajar rapi di sepanjang jalan kota. Malam ini, kendaraan di pusat kota terlihat padat karena hari ini adalah hari minggu. Banyak orang menghabiskan sisa waktu libur, sebelum kembali berperang dengan pekerjaan di hari esok.
"Vin, kita jadi nonton horor?" tanya Fay seraya mengalihkan pandangan ke samping. Ia menatap sosok yang sedang sibuk mengemudi itu.
"Ya. Film horor terbaru sepertinya seru." Arvin tetap fokus ke depan.
"Aku gak suka horor, Vin! Aku lebih suka komedi!" ujar Fay dengan ekspresi wajah tak bersahabat. Pasalnya, Arvin keukeh ingin melihat film horor yang sedang booming di Indonesia.
Perdebatan itu, tidak dilanjutkan lagi karena Arvin hanya diam. Ia tidak mau debat dengan Fay hanya karena film horor. Pada akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama beberapa puluh menit, mobil sport milik Arvin terparkir di halaman luas salah satu Mall elit di Jakarta Selatan.
"Kita makan dulu saja," ucap Arvin setelah membukakan pintu untuk Fay, "kamu mau makan apa?" tanya Arvin sebelum meraih tangan Fay untuk digenggamnya.
"Aku lagi pengen makan seafood," ucap Fay setelah berpikir beberapa waktu.
Arvin membawa sang istri menuju lantai teratas gedung ini, karena di sana banyak restoran. Mungkin saja, ada restoran yang sesuai dengan keinginan Fay saat ini. Setelah berkeliling, akhirnya mereka menemukan tempat yang cocok untuk makan malam.
Setelah masuk ke dalam resto dan mendapat tempat duduk, seorang pramusaji datang menghampiri. Fay menyebutkan makanan apa saja yang dia inginkan saat ini. Sementara Arvin lebih memilih menu cumi-cumi.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya akhirnya pesanan datang. Mereka berdua makan malam bersama dengan diiringi musik di resto tersebut. Hingga beberapa puluh menit kemudian, mereka baru selesai menghabiskan semua makanan.
"Ayo," ucap Arvin setelah cuci tangan. Mereka harus buru-buru agar tidak ketinggalan film.
Fay terlihat tidak bersemangat saat mengayun langkah keluar dari restoran. Wajahnya cemberut karena tidak suka dengan film yang akan ditonton oleh Arvin. Ia takut dengan film-film berbau horor, yang ada nantinya, bayang-bayang wajah seram akan menghantui di kala malam menjelang tidur.
"Tunggu di sini sebentar," ucap Arvin sebelum berlalu menuju loket untuk membeli tiket masuk.
Bukan tanpa alasan Arvin mengajak Fay ke sini. Ia sengaja ingin melihat respon Fay saat ketakutan melihat setan di layar lebar. Tentu, ada niat terselubung saat Arvin memutuskan untuk melihat film horor bersama sang istri.
"Jangan ragu, Fay! Kita sedang pacaran loh ini!" ujar Arvin setelah kembali ke tempat Fay berada saat ini, "tuh, coba kamu lihat! Banyak anak muda yang nonton tuh!" Arvin menunjuk beberapa pasangan muda yang antre membeli tiket.
__ADS_1
"Kita duduknya jangan dekat-dekat layar! Nanti setannya keliatan besar lagi," Fay bergumam sebelum masuk ke dalam bioskop.
Selang sepuluh menit setelah sepasang suami istri itu duduk di tempatnya, lampu bioskop mulai mati. Film horor yang sedang menjadi tranding topik pun akhirnya dimulai. Awalnya, Fay biasa saja, karena di layar besar itu belum muncul hantu yang menjadi maskot film ini.
"Aaaa!" Fay reflek berteriak karena terkejut melihat wajah seram itu tiba-tiba saja muncul tanpa diduga sebelumnya.
Fay menarik lengan Arvin dan menelusupkan wajah di sana. Bahkan, Fay tak berniat untuk mengalihkan pandangannya ke arah layar. Hampir tiga puluh menit film itu terputar, akan tetapi Fay masih memeluk erat tangan Arvin.
"Nah, menang banyak kan gue sekarang!" Arvin bersorak-sorai dalam hatinya karena sikap yang ditunjukkan Fay saat ini.
"Setannya udah gak ada, Fay!" bisik Arvin sebelum mengecup puncak rambut sang istri, "coba lihat ke layar dulu!" ujar Arvin.
"Jangan nyari kesempatan dalam kesempitan ya!" sarkas Fay sambil mencubit paha Arvin.
Arvin hanya mengulum senyum mendengar ucapan itu. Deretan gigi putih itu pun semakin terlihat karena kedua sudut bibir Arvin tertarik ke dalam. Lantas, ia tersenyum smirk ketika melihat sang istri termangu ke arah layar, di mana ada adegan erotisme yang terputar di sana.
"Kamu pengen dicium gitu gak?" bisik Arvin saat mendekat ke telinga sang istri, sesekali ia menghembuskan napas panjang di sana, "coba lihat yang di samping kita. Mereka pacaran loh!" bisiknya lagi.
"Pengen ya!" Arvin berbisik setelah melihat respon sang istri.
"Gak tuh! Aku udah sering kali lihat yang begitu di Amerika!" Fay menjulurkan lidah ke arah Arvin. Ia sengaja mengejek Arvin akan hal itu.
Suara jeritan Fay kembali terdengar setelah hantu berwajah seram itu muncul kembali. Ia segera menarik tangan Arvin dan kembali menelusupkan wajah di sana. Hingga film itu berakhir, Fay tetap pada posisi yang sama.
"Ayo pulang!" ucap Arvin setelah lampu kembali terang.
Fay menghela napasnya panjang setelah melihat keadaan yang ada di sekitarnya. Sebelum beranjak dari tempatnya, Fay merapikan rambut dan penampilannya terlebih dahulu. Setelah itu, mereka pun segera keluar dari sana.
Tanpa sadar, Fay tak melepaskan tangannya dari Arvin. Ia bergelayut manja seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Senyum keduanya terus mengembang selama dalam perjalanan menuju lantai dasar gedung raksasa ini.
__ADS_1
"Duh! Sial!" umpat Fay ketika melihat bu Lisa dan Dira dari jauh.
"Kenapa, Fay?" tanya Arvin seraya setelah mendengar umpatan istrinya itu.
"Ada ibu tiriku di sana! Kita cari jalan lain saja!" Fay menghentikan langkahnya sebelum kepergok bu Lisa. Ia malas bertemu dengan wanita jelmaan nenek sihir itu.
"Gak usah bersembunyi. Biarkan mereka bertemu kita. Tugasmu sekarang adalah bersikap mesra dan tersenyum bahagia. Aku ingin mereka kesal!" ujar Arvin sebelum melanjutkan perjalanan. Ia terus menatap ke arah bu Lisa dan Dira yang sedang asyik melihat di sekelilingnya.
Arvin sangat berharap jika bu Lisa melihat kehadirannya. Benar saja, seperti praduga sebelumnya, bu Lisa melihatnya tanpa sengaja. Ekspresi wajah wanita itu mendadak berubah. Arvin melihat jika bu Lisa menyeret wanita muda yang ada di sisinya.
"Yes!" ujar Arvin setelah melihat bu Lisa semakin mendekat ke arahnya.
"Oh, jadi kalian jalan di sini juga?" Bukannya menyapa, bu Lisa malah melontarkan pertanyaan tidak penting itu.
"Hallo, Tante," sapa Arvin seraya menatap wanita seusia ibunya itu, "Sayang, kamu gak mau menyapa Tante Lisa dulu?" tanya Arvin setelah menoleh ke samping.
"Cih! Gak sudi aku disapa wanita tak tahu diuntung ini!" ujar bu Lisa dengan suara yang lantang.
"Ayo, lebih baik kita pulang saja!" ucap Fay tanpa menatap ke arah bu Lisa sedikitpun. Ia menarik tangan Arvin tanpa pamit kepada bu Lisa ataupun Dira.
Bu Lisa mendengus kesal melihat anak gadis yang dulu beliau ditindas sekarang berubah acuh. Beliau tidak menyangka saja jika takdir Fayre begitu beruntung. Kebencian yang ada dalam diri bu Lisa rasanya semakin menjadi, "Dira! Kamu harus mencari suami lebih kaya dari suaminya si Fay itu! Mama gak mau ya, kalau kamu kalah dengan dia!" bu Lisa bersedekap tanpa mengalihkan pandangan dari Dira.
Dira tidak habis pikir melihat permintaan ibunya itu. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi ibunya yang semakin menjadi. Bagi Dira memiliki semua kekayaan pak Hardi sudah cukup. Ia tidak mau ikut campur dengan masalah Fayre, karena ia tahu sosok yang ada di belakang Fay saat ini, bukanlah tandingannya.
"Sudahlah, Ma! Jangan berpikir ke situ dulu! Untuk saat ini lebih baik kita fokus dengan Kakak," ucap Dira seraya menatap ibunya dengan intens.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Pacaran di bioskop! si Arvin bisa ajaa ye mak kalau cari kesempatan dalam kesempitan!...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...