
Warna gelap telah memudar dari cakrawala. Siluet kuning di ujung timur pun mulai hilang karena kuasa sang raja sinar. Warna biru mendominasi langit pagi ini. Sepertinya, hari ini cuaca akan cerah seperti binar wajah bu Linda pagi ini. Meski tak sehangat dulu, bu Linda cukup bahagia ketika melihat anak dan menantunya duduk bersanding saat sarapan. Pemandangan seperti ini lah yang dirindukan bu Linda beberapa hari ini.
"Mau berangkat sekarang?" tanya bu Linda setelah sarapan selesai.
Pagi ini bu Linda dan Fay akan pergi menemui Psikolog di salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta Selatan. Bu Linda sudah membuat janji dengan Psikolog tersebut dan hari ini, mereka akan melakukan konsultasi mengenai kondisi Fay.
Sebelum pergi, kedua wanita tersebut tak lupa berpamitan kepada pak Bram. Sementara Arvin hanya diam saja karena Fay tak berniat pamit kepadanya. Istrinya itu berlalu begitu saja setelah pamit kepada pak Bram. Sungguh, miris sekali nasib Arvin saat ini.
"Sabar! Wajar jika istrimu bersikap seperti itu!" ujar pak Bram setelah melihat perubahan ekspresi wajah putranya.
"Arvin berangkat ke kantor dulu, Pi," pamit Arvin setelah berdiri dari tempat duduknya.
"Ya. Hati-hati," ucap pak Bram sebelum Arvin berlalu pergi.
Rumah terasa sepi karena semua orang sudah berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Kini, tinggallah pak Bram seorang diri di rumah megah tersebut. Beliau merenung, mencoba mencari cara untuk mengusir rasa jenuh yang menyapa.
"Lebih baik aku ke lapangan golf saja," gumam pak Bram seraya beranjak dari tempatnya.
****
Mobil putih yang membawa bu Linda dan Fay akhirnya sampai di halaman rumah sakit. Mereka berdua segera keluar dari mobil dan kini sedang melangkahkan kaki menuju ruangan Psikolog bernama Zeda.
"Jangan takut! Ada Mami yang selalu ada di sampingmu," ucap bu Linda ketika merasakan tangan dingin menantunya itu.
"Iya, Mi," jawab Fay dengan senyum tipis.
Setelah menunggu beberapa menit di depan ruangan tersebut, pada akhirnya nama Fay dipanggil seorang perawat. Kedua wanita itu pun segera masuk ke dalam ruangan. Kedatangan mereka berdua mendapat sambutan hangat dari Zeda.
__ADS_1
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah terapi yang akan dilakukan Zeda untuk membantu pemulihan pola pikir Fay, agar sembuh dari rasa trauma kepada seorang pria. Psikolog tersebut mendengarkan setiap cerita yang disampaikan oleh Fay. Semua ini adalah bagian terapi yang diterapkan kepada Fay nantinya.
"Nona Fayre, dengarkan saya. Jangan takut, karena Anda tidak sendirian. Semua masalah pasti bisa diatasi. Anda wanita yang kuat, Anda pasti bisa melupakan semua kejadian menyakitkan itu," ucap Zeda seraya menggenggam tangan Fay.
"Tidak semua pria itu jahat, Nona. Oke, baiklah, mari saya bantu untuk merubah pola pikir tersebut. Saya yakin, Nona bisa melakukan hal itu." ujar Zeda seraya menatap lekat manik hitam Fay.
Terapi kognitif perilaku atau yang biasa disebut CBT ini bertujuan untuk merubah sudut pandang permasalahan yang dihadapi pasien. CBT termasuk bagian dari psikoterapi dan terapi ini yang diambil Zeda untuk kasus yang dialami oleh Fay. Dalam kasus ini pola pikir pasien harus dialihkan dari masalah yang terjadi.
Cukup lama Fay berada di dalam ruangan tersebut. Bu Linda hanya bisa menatap Fay yang sedang menjalani terapi bersama Zeda. Beliau tidak berani untuk mengucapkan sepatah kata pun selama proses terapi tersebut hingga selesai.
"Pertemuan pertama cukup sampai di sini saja. Saya yakin Nona pasti bisa sembuh dari rasa trauma. Minggu depan kita bertemu lagi ya. Saya menunggu kabar baik dari Nona," ucap Zeda dengan senyum yang sangat manis.
"Terima kasih," ucap Fay tanpa melepaskan pandangannya dari Zeda.
Kedua wanita itu pun segera pamit setelah semuanya berakhir. Psikolog tersebut memberikan jadwal setiap satu minggu sekali, agar Fay datang. Tidak ada obat yang harus diminum oleh Fay, karena kondisi Fay tidak separah pasien depresi atau gangguan mental.
...💠💠💠💠💠💠...
Makan malam bersama telah usai. Keempat anggota keluarga Bramasta itu masih berada di ruang makan. Mereka masih menikmati hidangan penutup. Sesekali Arvin melirik ke samping, karena istrinya itu masih tetap sama. Dingin dan irit kata.
"Mami ada ide nih!" ujar bu Linda seraya menatap Arvin, "bagaimana kalau kalian liburan ke luar negeri? Kalian berdua sejak menikah kan belum pernah liburan tuh. Ya, itung-itung untuk merefresh pikiran gitu," ujar bu Linda dengan diiringi senyum yang manis.
"Kalau Arvin terserah Fay saja," jawab Arvin langsung seraya menatap Fay.
Mendengar jawaban itu, berhasil membuat Fay tercekat. Ia tidak menyangka saja jika Arvin melempar semua keputusan kepadanya. Ia terpaksa tersenyum karena tidak enak hati dengan mertuanya.
"Saya belum kepikiran untuk liburan, Mi," jawab Fay seraya menatap bu Linda.
__ADS_1
"Kalau sudah ada rencana, nanti bilang ya sama Mami. Nanti Mami kasih rekomendasi tempat yang bagus," ucap bu Linda.
Pasalnya wanita baru baya itu sering sekali pergi liburan ke luar negeri bersama pak Bram. Mereka sering menghabiskan waktu berdua, karena Arvin jarang sekali ikut. Putranya itu memilih untuk liburan sendiri atau terkadang bersama teman-temannya.
Setelah semua kegiatan di ruang makan selesai. Fay pamit pergi ke kamar. Ia berdalih jika ingin beristirahat karena lelah. Langkah demi langkah telah dilalui hingga sampai di kamar tersebut.
"Ingat Fay! Arvin bukan pria jahat! Dia adalah suamimu!" Fay terus mensugesti pikirannya sendiri di saat teringat kejadian yang membuatnya trauma, seperti saran yang dikatakan Psikolog tadi pagi.
Malam semakin larut. Setelah selesai bersiap, Fay segera naik ke atas ranjang. Sampai saat ini, Arvin tak kunjung masuk ke dalam kamar. Hal ini lah yang membuat Fay sedikit resah.
"Ih, kenapa aku berharap dia ada di sini sih!" Fay bergumam setelah sadar dengan pikiran konyol itu.
Fay buru-buru merebahkan tubuh dengan posisi membelakangi tempat tidur Arvin. Ia menutup kelopak matanya setelah mendengar suara derap langkah Arvin di dalam kamar. Seperti sebelumnya, Fay lebih memilih berpura-pura untuk mengetahui apa saja yang dilakukan Arvin. Ada perasaan lain yang menyelinap ke dalam relung hati tatkala merasakan pergerakan Arvin di atas ranjang.
"Jadi, dia tidur di sini?" gumam Fay dalam hati.
Tanpa sadar kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam saat merasakan belaian lembut di kepalanya. Fay merasa bahagia bisa merasakan hal itu. Ia merasa tenang saat merasakan kelembutan belaian tangan Arvin.
"Aku hanya berharap kamu cepat sembuh, Fay."
Fay kembali tersenyum setelah mendengarkan ucapan Arvin. Akan tetapi senyuman itu kembali pudar ketika Fay merasakan jika Arvin turun dari ranjang. Ia sudah menduga jika suaminya itu pasti pindah tempat.
"Pasti dia tidur di sofa lagi," gumam Fay seraya membuka kelopak matanya. Ada rasa kecewa dalam hati ketika mengetahui kenyataan itu.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Aiiih, othor makin heran lihat mereka berdua😆sebenarnya kalian ini kenapa cobaðŸ¤...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...