
Malam semakin larut. Jarum jam sudah berada di angka dua dini hari. Akan tetapi masih ada wanita paruh baya yang masih terjaga di kursi goyang yang ada di ruang keluarga rumahnya. Tatapan mata wanita itu lurus ke depan—kosong—tanpa ada sorot yang mengekspresikan perasaannya. Semua ucapan yang terlontar dari bibir putri kandungnya bagai ribuan duri yang sengaja tersebar di hati—sakit dan perih—itulah yang dirasakan bu Lisa saat ini.
Pikiran wanita paruh baya itu tertuju pada putra sulungnya. Reno tidak memberikan kabar apapun kepada bu Lisa. Seburuk apapun kelakuan putranya, seorang ibu tetap menyayangi dan merasa khawatir dengan kondisi putranya. Tidak perduli meski kesalahan putranya menumpuk setinggi gunung.
"Reno, kamu di mana, Nak?" gumam bu Lisa dengan suara yang bergetar. Sekuat apapun sosok yang terkenal angkuh itu, pasti akan meneteskan air mata di saat sunyi menghampiri, "maafkan Mama, karena tidak bisa menyewa orang untuk mencarimu. Mama sudah tidak memiliki banyak uang seperti dulu." Bu Lisa terisak karena tidak bisa berbuat apapun atas hilangnya Reno dari rumah ini.
Semestinya, semua orang akan terlelap di waktu ini. Namun, semua itu tidak berlaku untuk bu Lisa. Bahkan, rasa kantuk pun sepertinya enggan menghampirinya. Hatinya kalut karena berada dalam situasi yang sangat sulit. Mungkin, luapan amarah yang diucapkan Dira setelah makan malam berhasil membuka lebar hati dan pikirannya. Beliau merasa bersalah karena sudah membuat Dira harus kehilangan masa mudanya.
"Mama melakukan semua ini demi masa depanmu, Nak!" Bukan lagi terisak, bu Lisa tergugu di atas kursi goyang tersebut.
Semua kesalahan yang pernah dilakukan kepada pak Hardi dan Fayre tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran. Bohong jika bu Lisa tidak menyadari semua tindakannya kepada pemilik rumah ini. Akan tetapi, ego yang begitu besar berhasil membuat hati nuraninya tertutup rapat.
"Tidak. Aku tidak salah! Aku juga memiliki hak atas semua harta mas Hardi. Aku istrinya, jadi aku pun tidak salah jika memiliki hartanya." Bu Lisa mencoba untuk berpaling dari kenyataan yang ada.
Beberapa puluh menit kemudian, bu Lisa beranjak dari tempatnya setelah mendengar suara ketukan pintu beberapa kali. Sebelum beranjak dari tempatnya, bu Lisa sempat berpikir, siapa kiranya yang datang di jam-jam seperti ini. Kenapa satpam di depan tidak menghalangi tamu tersebut? Begitu pikir bu Lisa.
Mungkin karena rasa penasaran yang begitu besar, akhirnya bu Lisa memberanikan diri untuk melihat siapa yang datang. Sebelum menuju ruang tamu, tidak lupa wanita paruh baya itu menghidupkan semua lampu di rumah, agar CCTV bisa merekam jelas bila ada sesuatu yang tidak diinginkan.
Tangan bu Lisa gemetar setelah menyentuh gagang pintu. Beliau sangat takut ada penjahat atau perampok yang datang ke rumah ini. Perlahan pintu itu pun akhirnya terbuka dan begitu terkejutnya bu Lisa ketika mendapati tubuh Reno tergeletak di lantai teras rumah.
"Reno!" teriak bu Lisa saat bersimpuh di sisi tubuh putranya itu, "tolong ... tolong ... tolong!" teriak bu Lisa dengan suara yang keras.
"Reno! Bangun! Kamu kenapa, Nak?" ujar bu Lisa sambil menepuk pipi putranya beberapa kali.
__ADS_1
"Reno!"
"Ren! Bangun!" Bu Lisa menyentuh urat leher putranya itu untuk memastikan satu hal. Lantas beliau mengarahkan jari telunjuknya di depan hidung mancung putranya.
"Gak, gak mungkin!" Bu Lisa menggeleng pelan.
Bu Lisa beranjak dari tempatnya, beliau berlari menuju pos satpam untuk mencari bantuan. Lagi dan lagi bu Lisa terkejut setelah melihat satpam yang bertugas pun tak sadarkan diri. Beberapa kali bu Lisa mencoba membangunkan satpam tersebut, tapi hasilnya nihil. Lantas, bu Lisa pun meraih gagang telfon yang ada di sana untuk menghubungi satpam komplek agar segera datang.
"Saya tunggu kehadirannya, Pak!" ujar bu Lisa sebelum menutup panggilan.
Wanita paruh baya itu kembali berlari menuju teras rumah. Beliau kembali bersimpuh di sisi putranya sambil menangis pilu. Berkali-kali bu Lisa mencoba untuk membangunkan putranya, akan tetapi hasilnya sama. Reno tetap tak kunjung membuka mata.
"Dira! Dira!" teriak bu Lisa. Wanita paruh baya itu pun beranjak dari tempatnya. Beliau berlari menuju kamar Dira dan tanpa mengetuk pintu, wanita itu menerobos masuk ke dalam kamar putrinya.
Dira terbelalak setelah sampai di ambang pintu. Tatapan matanya tak beralih dari sosok yang tergeletak di atas lantai itu. Dira pun segera bersimpuh di samping tubuh kakaknya. Dia menangis setelah melihat kondisi pria yang sempat menyakitinya.
"Ma, kenapa kak Reno seperti ini?" tanya Dira. Tangannya merengkuh pinggang Reno dan satu hal yang membuat tubuh Dira semakin bergetar. Dia merasakan ada sesuatu di sana.
"Da ... Darah! Darah, Ma!" Dira tergagap setelah mengangkat tengan kirinya yang berubah menjadi warna merah. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas setelah setelah melihat darah segar di tangannya.
Bu Lisa pun histeris setelah melihat semua yang ada di depan matanya. Tubuhnya ambruk ke lantai karena kehilangan tenaga. Tangis kedua wanita itu pun pecah seketika karena melihat sesuatu yang mengerikan di depan matanya sendiri.
"Ada apa, Bu Lisa?" tanya satpam komplek setelah sampai di teras rumah.
__ADS_1
"Anak saya ... anak saya, Pak," ucap bu Lisa sambil menunjuk Reno.
"Kenapa bisa seperti ini?" Satpam tersebut terkejut bukan main setelah melihat darah di tangan Dira dan darah yang mengalir dari punggung Reno.
Bukan tanpa sebab Satpam tersebut terkejut, karena beberapa menit yang lalu, dia melihat sendiri Reno masih hidup dan baik-baik saja saat meminta izin masuk ke komplek. Bahkan, Reno sendiri yang mengemudikan mobil hitam jenis SUV. Satpam itu pun bisa memastikan jika Reno dalam keadaan sehat dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
"Apa perlu saya menghubungi polisi?" tanya satpam tersebut kepada bu Lisa.
"Tunggu." Dira menginterupsi, "lebih baik Bapak pastikan dulu kak Reno ini masih hidup atau sudah meninggal?" Dira menengadahkan kepalanya sambil menatap satpam tersebut penuh harap.
Satpam itu segera bersimpuh di dekat tubuh Reno untuk memastikan kondisi pria mengenaskan itu. Mulai dari hidung, urat leher hingga denyut nadi sudah diperiksa oleh satpam tersebut. Bahkan, untuk meyakinkan keadaan Reno, Satpam itu sampai menempelkan telinganya di dada dan perut Reno untuk mendengar degup jantung.
"Mas Reno sepertinya sudah meninggal, Non," ucap Satpam tersebut dengan suara yang lirih.
Tangis bu Lisa pun semakin pecah setelah mendengar hal itu. Beliau sampai histeris hingga semua pekerja di rumah tersebut keluar dari kamar masing-masing. Sama halnya seperti Dira, dia memeluk tubuh yang sudah tidak bernyawa itu sambil menangis pilu. Meski sempat membenci kakaknya, bukan seperti ini yang Dira harapkan. Sedikitpun, dia tidak mau Reno terluka atau harus meregang nyawa dengan cara dibunuh seperti.
"Reno! Gak mungkin semua ini terjadi. Reno!" teriak bu Lisa sebelum tubuhnya tergeletak di lantai karena tidak sadarkan diri.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...Sedih gak sih melihat nasib bu Lisa?...
...🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1