
Dua hari kemudian,
Mobil putih milik Raka berhenti di halaman rumah Toni. Dia keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui dokter Winda dan sahabatanya. Toni. Derap langkah kakinya menggema di ruang tamu hingga sampai di ruang keluarga. Ketiga orang ini memang sudah sepakat untuk bertemu malam ini.
"Selamat malam Tante," sapa Raka sebelum menjabat tangan dokter Winda.
"Malam. Silahkan duduk!" ujar dokter Winda.
Sementara Toni hanya diam saja dengan pandangan lurus ke depan. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang mengusik ketenangannya. Entah apa kiranya yang membuat pria tersebut tak mengembangkan senyum ke arah Raka.
"Jadi untuk apa kita bertemu malam ini?" tanya dokter Winda seraya menatap Raka.
"Saya ingin berterima kasih kepada Tante, karena sudah menjalankan rencana saya dengan baik," ucap Raka dengan diiringi senyum smirk, "rumah tangga target saya sudah di ambang kehancuran," imbuhnya.
Pertemuan mereka berempat di cafe Sutos kala itu membuat Raka menjadi bahagia. Pasalnya kala itu Arvin menceritakan bagaimana perasaannya setelah sidang gugatan cerai bersama Fayre. Tentu saja pengakuan itu membuat Raka seperti meraih sebuah kemenangan dalam kompetisi. Semua usahanya berhasil dan rencananya tepat mengenai sasaran.
"Berarti tugas saya sudah selesai 'kan?" tanya dokter Winda tanpa ekspresi. Sepertinya wanita paruh baya itu sudah muak melakukan semua perintah dari Raka.
"Ada satu tugas lagi yang harus Tante lakukan," ucap Raka seraya menatap dokter Winda penuh arti, "rusak kesuburan wanitanya! Saya sangat membenci wanita itu!" ujar Raka dengan geram.
"Tidak!" tolak dokter Winda, "sudah cukup, Raka! Saya sudah tidak mau lagi menambah masalah," sergah dokter Winda.
"Tante tenang saja, jika ada apa-apa saya yang akan tanggung jawab," bujuk Raka agar tante Winda bersedia melakukan tugasnya lagi.
"Jangan, Ma!" sahut Toni seraya menatap ibunya penuh arti, "sudah cukup Mama bermain-main dengan kesehatan seorang pasien. Aku gak mau Mama sampai terseret lebih jauh lagi," ucap Toni dengan sorot mata yang sendu.
__ADS_1
"Oke, baiklah! Jangan salahkan aku jika penolakan ini akan berimbas pada karier Tante!" Raka mengancam dokter Winda.
"Cukup, Men! Jangan paksa nyokap gue lebih jauh lagi!" sergah Toni, "sudah cukup elu menyakiti Arvin dan istrinya, Men! Memangnya apa salah mereka sehingga lu tega menghancurkan rumah tangganya dengan cara seperti ini?" Toni menatap Raka penasaran.
Ya. Toni pun terpaksa melakukan semua ini dengan mengikuti semua perintah dari Raka. Semua ini sangat berlawanan dengan hati nuraninya karena sejauh ini dia sendiri tidak memiliki masalah bersama Arvin.
"Gue ingin membalas apa yang terjadi kepada Veronica. Asal lu tahu ... sampai saat ini dia masih ada rumah sakit jiwa karena Arvin!" Rahang kokoh itu terlihat mengeras saat Raka mengungkap alasan kebenciannya terhadap Arvin.
"Men, lu gak bisa gitu! Arvin tidak bersalah dalam hal ini. Bahkan, dia sendiri tidak tahu kalau adik lu menjadi seperti itu." Toni mulai emosi melihat pria licik yang ada di hadapannya saat ini.
"Oh, jadi lu mau membela dia?" sarkas Raka setelah mendengar jawaban dari Toni.
Ruang keluarga mendadak panas setelah kedua pria tersebut menampakkan kilat amarah. Mereka sama-sama keukeh mempertahankan pendapat masing-masing. Sementara dokter Winda hanya bisa tertunduk sambil memijat pangkal hidungnya. Wanita tersebut sangat takut jika semua ini akan terbongkar dan sudah bisa dipastikan jika dirinya akan mendekam dibalik jeruji besi.
Ketiga orang yang berada di dalam ruang keluarga itu terkejut bukan main saat beberapa orang berjaket kulit datang membawa senjatanya. Dokter Winda seperti kehilangan seluruh tenaganya setelah tahu semua orang yang ada di ruangan keluarga itu adalah anggota kepolisian.
"Kedatangan kami ke sini adalah untuk membawa kalian ke kantor polisi. Ini surat panggilannya," ucap salah satu anggota polisi yang tidak membawa senjata sambil menyerahkan surat penangkapan kepada Toni.
"Siapa yang berani melaporkan kami ke kantor polisi? sahut Raka seraya menatap polisi tersebut.
"Aku!" Suara Arvin menggema di dalam ruang keluarga tersebut.
"Atas dasar apa lu melaporkan kita ke kantor polisi?" Raka mencoba berkilah.
"Semua obrolan yang kalian lakukan beberapa detik yang lalu sudah kami dengar semuanya!" ujar Arvin seraya tersenyum smirk, "bukti yang sudah gue serahkan ke kepolisian pun sudah cukup untuk membawa kalian ke penjara," ucap Arvin tanpa melepaskan pandangannya dari Raka.
__ADS_1
Ya, ternyata gerak-gerik Raka sudah dipantau kepolisian sejak laporan dari Arvin diproses. Kedatangannya ke rumah ini sudah diikuti Arvin, Fabi dan beberapa anggota polisi yang ada di sana saat ini. Mereka masuk ke dalam ruang tamu dengan hati-hati agar tidak ketahuan penghuni rumah. Memang mereka semu sengaja berdiam diri di ruang tamu sambil mencuri dengar pembicaraan mereka bertiga.
"Vin, please jangan bawa nyokap gue." Toni memohon kepada Arvin agar membiarkan dokter Winda.
"Biar semua ini menjadi urusan pihak kepolisian," jawab Arvin tanpa rasa iba sedikitpun.
"Sekarang, tunjukkan saya di mana tempat monitoring CCTV!" titah salah satu anggota kepolisian kepada Toni.
Tanpa melawan Toni pun membawa polisi tersebut ke salah satu ruangan. Arvin dan Fabi pun ikut bersama polisi tersebut untuk mengambil rekaman CCTV saat dokter Winda menyerahkan hasil palsu dan obat-obatan palsu. Mestinya, di rumah mewah ini pun sudah terpasang perekam suara, karena keluarga dokter Winda pun bukan orang sembarang.
Cukup lama mereka berada di sana untuk mencari bukti rekaman yang dibutuhkan polisi dalam melakukan penyidikan nanti. Arvin memang sengaja meminta rekaman itu sekarang karena takut rekaman tersebut hilang jika diambil setelah mereka semua digelandang ke kantor polisi.
"Bukti CCTV sudah cukup, Tuan," ucap polisi tersebut setelah mencopy beberapa rekaman di flashdisck.
Sementara Toni hanya bisa tertunduk setelah tahu bukti yang dimiliki Arvin cukup kuat untuk menjebloskan mereka ke penjara. Dia tidak tahu bagaimana nasibnya setelah ini, karena tidak mungkin jika Arvin dan keluarganya akan mencabut laporan ini sekalipun dia bersujud. Dia sadar jika semua ini bukanlah masalah sepeleh yang bisa ditebus dengan kata maaf. Apa yang dikhawatirkan selama ini akhirnya terjadi juga. Semulus apapun rencana yang sudah disusun Raka pada akhirnya terbongkar juga. Mungkin, Tuhan sudah murka melihat semua kejahatan ini.
"Gue harap lu mengakui semuanya di hadapan penyidik nanti!" ujar Arvin sebelum Toni digiring ke ruang keluarga untuk dikumpulkan dengan yang lain.
Ketiga terlapor itu dikumpulkan menjadi satu di ruang keluarga. Tangan mereka diikat agar tidak melakukan perlawanan lagi. Sementara dokter Winda meminta izin kepada polisi untuk menghubungi suaminya yang ada di luar kota sebelum mereka dibawa pergi ke kantor polisi.
"Gue pastikan lu mendekam di penjara!" ujar Arvin kepada Raka sebelum diglendang keluar.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1