
Akhir pekan adalah hari yang dinanti setiap orang. Hari di mana biasa dijadikan waktu untuk berkumpul bersama keluarga telah tiba . Beberapa orang merasa bahagia ketika bisa melepas penat di akhir pekan. Sama hal nya dengan Fayre. Dia sudah menunggu hari sabtu karena tidak sabar untuk bertemu dengan dokter Winda.
"Vin, nanti jadi berangkat pukul lima sore kan?" tanya Fay saat menghampiri Arvin di ruang kerjanya.
Mendengar suara sang istri di dalam sana, membuat Arvin harus meletakkan ponselnya. Ia beranjak dari kursi dan menghampiri Fayre yang duduk di sofa, "kita berangkat jam enam saja karena tante Winda baru menghubungi kalau jadwal kita mundur," jelas Arvin seraya menatap Fay untuk sesaat.
"Nanti selepas pulang dari rumah sakit, mampir ke Mall ya, aku pengen beli sesuatu," ucap Fay seraya menaik turunkan alisnya. Kalau sudah begini, Arvin bisa menebak jika Fay ingin memburu sesuatu yang berhubungan dengan kenikmatan di atas ranjang.
"Dasar istri mes*m!" ledek Arvin setelah mendengar permintaan Fay.
Fay lebih memilih untuk pergi dari ruangan tersebut karena harus bersiap. Bukankah kebanyakan wanita memang seperti itu, membutuhkan waktu lama untuk bersiap sebelum pergi dari rumah. Berangkat pukul enam tetapi sudah mulai bersiap sejak pukul empat. Itupun terkadang belum selesai.
Detik demi detik terus berlalu, penunjuk waktu pun sudah berada di angka enam. Langit mulai redup karena kehilangan senyum sang mentari. Mobil sport yang dikendarai Arvin mulai melaju membelah jalanan padat di akhir pekan. Jalanan kota lancar tanpa ada kemacetan seperti biasanya.
"Kamu ini kenapa sih sebenarnya?" tanya Fay setelah merasakan keheningan di dalam mobil, karena tidak biasanya Arvin hanya diam tanpa ekspresi.
"Aku hanya tegang saja," jawab Arvin dengan helaian napas yang berat.
"Hmmm ... kalau tegang jangan salah tempat dong! Ini di mobil loh!" Fay berkelakar untuk mengusir keheningan yang terasa.
Benar saja, apa yang baru saja diucapkan oleh Fayre berhasil membuat Arvin tersenyum. Lagi dan lagi, dia tidak bisa bersikap dingin wanita yang sedang tersenyum lepas di sisinya itu. Tangan kiri Arvin pun terulur untuk membelai rambut yang tergerai itu.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, pada akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit. Berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam. Keduanya tersenyum manis hingga membuat beberapa orang kagum melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh mereka berdua.
"Ah, ternyata Anda sudah datang," ucap seorang suster yang baru keluar dari ruangan dokter Winda. Suster tersebut mengurungkan niatnya pergi dari ruangan. Dia membukakan pintu untuk Fayre dan Arvin terlebih dahulu dan setelah itu masuk kembali ke ruangan dokter.
__ADS_1
"Selamat malam, selamat datang," sapa dokter Winda setelah sepasang suami istri itu berada di dalam ruangan, "langsung berbaring di bed saja, kita cek kandungannya sekali lagi," ujar dokter Winda sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Seperti yang diperintahkan oleh dokter Winda, Fay segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju bed pasien. Rasa dingin mulai terasa di perutnya setelah suster menuang gel pelumas USG di sana. Fay mengembangkan senyum bahagia setelah melihat layar monitor USG.
"Oke, kondisi rahimnya sehat seperti pemeriksaan sebelumnya, tidak ada yang perlu ditunda lagi," ucap dokter Winda setelah beberapa kali melakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan USG akhirnya telah selesai. Fay kembali turun dan menyusul Arvin yang sudah duduk di kursi. Mereka siap mendengarkan setiap saran yang disampaikan dokter Winda setelah ini.
"Oh, ya, dok ... Bagaimana hasil tes sperm* suami saya? Apa semua baik-baik saja?" Fay bertanya kepada dokter Winda setelah teringat jika kemarin Arvin sudah melakukan pemeriksaan.
Dokter Winda termangu setelah mendengar pertanyaan tersebut. Beliau tidak langsung menjawab karena butuh persetujuan dari Arvin. Wanita paruh baya itu menatap Arvin sekilas untuk bertanya lewat isyarat mata bagaimana beliau menjawab pertanyaan tersebut.
"Oh, hasil pemeriksaannya tidak ada masalah dengan kesuburan suamimu. Tenang saja, jangan khawatir," jawab dokter Winda setelah mendapat kode dari Arvin agar tidak mengatakan yang sebenarnya. Arvin belum siap akan hal itu.
Beberapa hal penting terkait program hamil yang akan dilakukan Fayre tah dijelaskan oleh dokter Winda. Dokter pemilik rumah sakit ini menuliskan resep beberapa obat untuk Fayre dan Arvin.
Setelah selesai, mereka berdua segera pamit pulang. Dokter Winda memberikan kode jika nanti akan menghubungi Arvin lewat sambungan telfon tentang obat untuknya. Untung saja Fay tidak menyadari jika ada kode di antara dokter Winda dan suaminya.
"Arvin, aku sangat berharap Tuhan mengabulkan keinginan kita kali ini. Semoga program hamil ini berhasil ya," gumam Fay saat berjalan menuju Apotek. Ia menatap Arvin dengan sorot mata bahagia yang dipenuhi semua rasa. Sementara Arvin hanya tersenyum tipis menanggapi hal itu.
****
Mobil hitam yang dikendarai Arvin terpaksa harus berhenti di luar basement Mall karena penuh. Dia menempatkan mobil tersebut di tempat parkir luar atau lebih tepatnya di dekat parkiran khusus motor. Untuk bisa masuk ke dalam Mall tersebut, sepasang suami istri itu harus berjalan melewati jalan berpaving blok yang tak jauh dari tempat parkir motor.
"Jauh banget jalannya!" keluh Fay dengan helaian napas yang berat.
__ADS_1
"Dekat! Kamu aja yang gak terbiasa jalan kaki," sanggah Arvin seraya meraih tangan kanan Fay untuk digenggamnya.
Obrolan pun menemani perjalanan mereka menuju pusat perbelanjaan elit tersebut. Sesekali Arvin menggoda Fay untuk mengalihkan perhatian agar wanita cantik itu tidak lagi mengeluh karena memang jalan menuju lobby mall lumayan jauh. Gelak tawa keduanya terdengar di sana hingga langkah mereka berdua harus terhenti, ketika ada seorang wanita berhijab menyapa Arvin dengan suara yang sangat merdu.
"Arvin!"
Tubuh tegap pria tampan itu seketika membeku ketika melihat sosok yang sedang menggendong anak kecil itu tersenyum ke arahnya. Wanita cantik berhijab yang dulu pernah membuatnya tergila-gila. Setelah cukup lama tak bertemu, kini, waktu membawa mereka berdua berada di tempat dan waktu yang sama.
"Apa kabar?" tanya wanita itu dengan senyum yang sangat manis, "apa ini istrimu?" tanya nya lagi seraya menatap Fay dengan binar mata bahagia.
"Ah, Iya." Arvin gelagapan setelah merasakan tepukan di lengannya, ia menatap Fay untuk sekilas sebelum beradu pandangan dengan wanita berhijab tersebut.
"Ya, ini adalah istriku, namanya Fayre." Arvin mengenalkan Fayre kepada wanita tersebut tanpa menjawab pertanyaan yang lain. Entah mengapa tiba-tiba saja pria tampan itu menjadi gugup.
Adelia Winata, begitu nama wanita berhijab yang berkenalan dengan Fayre saat ini. Mereka berdua nampak akrab meski Arvin hanya diam tanpa tahu harus melakukan apa.
"Kamu sendirian? Kemana suamimu?" tanya Arvin setelah sadar jika wanita itu hanya berdua saja dengan anaknya.
Pertanyaan itu berhasil membuat Adel salah tingkah. Ia tersenyum kecut sambil menatap ke arah putrinya yang ada di atas gendongan. Adel nampak ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan tetapi bibirnya sulit diajak kompromi.
"Em, itu, suamiku meninggal tiga bulan yang lalu karena kecelakaan. Maka dari itu aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, menetap di rumah ayah." Ada kesedihan mendalam yang terpancar dari sorot mata teduh wanita berhijab itu.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...Ada yang bisa nebak siapa si Adel ini? ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...