Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Makan siang spesial,


__ADS_3

"Tunggu di ruangan saja. Aku mau rapat sebentar bersama Kabag pemasaran," ucap Arvin setelah sampai di kantor.


Fay masuk ke dalam ruang utama di gedung ini, sementara Arvin mengayun langkah menuju ruang rapat karena sudah ditunggu beberapa petinggi perusahaan. Rapat di akhir bulan pasti akan dilaksanakan untuk mengetahui perkembangan perusahaan selama satu bulan ini.


Setelah menutup pintu ruangan, Fay menghempaskan diri di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Ia menatap langit-langit ruangan yang di design dengan ornamen yang terlihat mewah. Pikirannya mulai melalang jauh untuk menerka kenapa Reno bisa berkeliaran di sekitarnya, padahal seharusnya pria itu masih ditahan.


"Apa mungkin kak Dira yang membebaskan dia," gumam Fay setelah teringat jika kedua wanita jahat itu memiliki kekuasaan.


Fay mencoba untuk meyakinkan diri jika Reno tidak mungkin berani menyentuhnya. Ia bertekad untuk melawan semua rasa takut yang menghantuinya. Fay tidak mau jika rasa takut itu kembali membelenggu dirinya dan akan mempengaruhi kehidupan rumah tangganya.


Dingin suhu AC di ruangan itu ternyata mampu membuat jiwa-jiwa lelah Fay tersihir hingga membuatnya terlelap begitu saja. Ia terbang menuju alam mimpi yang indah untuk melupakan sejenak rasa takut yang sempat mendera.


Satu jam kemudian, Arvin telah selesai rapat bersama Kabag pemasaran. Ia segera masuk ke dalam ruangan untuk mengajak istrinya makan siang bersama. Akan tetapi niat itu harus pupus setelah melihat Fay tidur nyenyak di sofa. Arvin pun mengayun langkah menuju tempat Fay berada saat ini.


"Duh, untung saja pakai celana pendek," gumam Arvin seraya membenarkan dress yang tersingkap hingga setengah paha mulus itu harus terbuka.

__ADS_1


Cukup lama Arvin mengamati wajah cantik yang terlihat tenang itu. Jujur saja, ia merasa takut setelah tahu jika kakak sambung Fay telah bebas dari penjara. Arvin takut tidak bisa melindungi wanita yang saat ini memenuhi hatinya dari bahaya yang menghadang. Ada Raka dan Reno yang bisa melakukan apa saja kepada Fay ataupun dirinya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu kemana pun aku pergi. Kamu harus selalu ikut aku, Fay, jika sampai aku harus keluar kota ataupun luar negeri," Arvin bergumam seraya mengusap paha itu dengan gerakan yang lembut.


Tangan itu tak henti mengusap paha mulus sang istri. Lambat laun jari-jari itu mulai nakal untuk mengganggu tidur nyenyak sang empu. Arvin berusaha mencari sesuatu yang bisa mengusik tidur nyenyak sang istri. Ia tersenyum smirk ketika melihat Fay mulai terganggu.


"Ih! Arvin! Apaan sih!" protes Fay setelah melihat kehadiran Arvin di sana, "aku masih ngantuk! jangan ganggu aku!" ujar Fay dengan nada ketus.


"Ya sudah ayo kita pindah saja! Ini bukan tempat yang tepat untuk tidur," ucap Arvin saat melepaskan tangannya dari sarang sanca.


Bruk!


Fay menghempaskan diri di atas ranjang empuk itu. Ia tidur tengkurap dengan kedua kaki yang terbuka lebar. Hal ini membuat Arvin ingin melakukan sesuatu yang membuatnya bisa terbang ke awan. Sebelum itu, ia mengunci pintu terlebih dahulu.


"Sayang, bangun dong!" Arvin menepuk ****** Fay beberapa kali. Seperti sebelumnya tangan kiri itu mencari sesuatu yang tersembunyi di bagian depan tubuh sang istri.

__ADS_1


Fay mengubah posisinya setelah merasakan gangguan dari pria yang duduk di tepi ranjang itu. Kalau sudah seperti ini, sekuat apapun Fay menolak, tetap ia akan berakhir di bawah kungkungan tubuh tegap itu.


"Aku gak mau kebanyakan gaya! Aku terima jadi aja ya," ucap Fay seraya menatap Arvin penuh harap. Ia lelah karena setiap hari harus melakukan kegiatan yang bisa membuatnya terbang ke awan meraih bintang.


"Ya, ya, ya. Kamu cukup merasakan sensasinya saja, Sayang," ucap Arvin seraya melepas jas Navy yang dipakainya saat ini.


Tak butuh waktu lama bagi Arvin untuk mulai mengaktifkan sinyal dari sarang sanca. Tak ada kesulitan yang menghambat pria tersebut, membuat sarang sanca dipenuhi banyak cairan yang membuat sanca dengan mudah masuk ke sarangnya. Suara-suara merdu yang lolos dari bibir Fay mulai terdengar di sana. Arvin tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil membuat sang istri terbang dua kali hanya dengan menggunakan lidah.


"Anggap saja kamu sedang makan siang. Sekarang nikmati makan siang spesial ini, Sayang," ucap Arvin dengan suara yang lirih. Tak lupa ia menggigit daun telinga tersebut sebelum menegakkan tubuh.


Fay hanya mengacungkan jempolnya sebagai isyarat jika dirinya siap menerima makan siang itu. Ranjang queen size itu menjadi saksi betapa panasnya suhu di dalam kamar tersebut.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2