
Dekorasi yang indah menghiasi rumah megah milik pak Bram. Mulai dari teras hingga sampai di ruang keluarga telah disulap dengan indahnya. Hari ini keluarga Bramasta akan menyelenggarakan acara Baby Shower untuk kehamilan Fayre yang sudah berusia tujuh bulan. Acara ini diselenggarakan secara private dan hanya orang-orang tertentu yang diundang ke acara ini.
"Welcome, Bro," sambut Arvin saat Fabi hadir di sana bersama seorang gadis, "gue kira lu kagak datang," ucap Arvin setelah menjabat tangan Fabi.
"Gue pasti datang lah," ucap Fabi seraya mengembangkan senyumnya, "perkenalkan, dia Citra, pacar baru gue." Fabi memperkenalkan gadis yang ada di sisinya kepada Arvin dan Fayre.
Setelah basa-basi, Arvin pun menyuruh Fabi dan pasangannya masuk ke dalam untuk bergabung dengan yang lainnya. Acara kali ini diselenggarakan malam hari dan sepertinya acara akan segera dimulai.
Sebagian besar tamu undangan sudah hadir di sana. Mereka tak lain adalah kerabat dari pak Bram dan bu Linda. Beberapa kolega Arvin pun turut hadir di sana untuk memeriahkan acara ini, tak terkecuali Rofan dan keluarga kecilnya.
Tepat pukul tujuh malam, acara dimulai. Seorang Master of Ceremony membuka acara membahagiakan ini dengan meriah. Rangkaian acara telah disusun oleh pihak EO dan semua perlengkapannya sekaligus diurus oleh pihak tersebut. Namun, kali ini Fayre dan Arvin tidak mau ada acara baby gender. Mereka sengaja merahasiakan semua ini sampai anaknya lahir nanti.
Satu persatu acara telah dilaksanakan. Semua orang terlihat bahagia saat memasuki acara games. Acara pun cukup ramai karena semua orang sangat antusias mengikuti games yang sudah dirancang di sana. Begitu pun juga Fayre, meski dengan perut yang sudah membuncit, dia tetap ikut bergabung bersama yang lain. Ekspresi wajahnya terlihat bahagia karena acara inilah yang ditunggu selama beberapa bulan ini.
Semenjak memasuki bulan keenam kehamilannya, Fayre telah berubah seperti sebelum hamil. Sikapnya yang aneh dan terlalu manja mendadak hilang seiring dengan berjalannya waktu. Dia bersikap biasa dan tidak lagi mengalami ngidam yang membuat Arvin sakit kepala. Fayre jauh lebih dewasa dan tentunya bentuk badannya semakin mengembang.
Detik demi detik telah berlalu.Tepat pukul sembilan malam acara telah selesai. Semua orang diarahkan menuju tempat prasmanan untuk acara penutup yaitu makan bersama. Berbagai hidangan tersaji di sana, tinggal memilih mana yang sesuai dengan selera.
"Sayang, mau aku ambilkan makan?" tanya Arvin saat menghampiri Fayre yang sedang duduk di sofa seorang diri. Sepertinya dia sedang kelelahan setelah mengikuti games yang diselenggarakan.
"Nanti saja. Aku masih kenyang," jawab Fayre sambil mengatur napasnya yang berat, "makan di sini saja." Fayre menepuk sofa yang ada di sisinya agar Arvin tidak bergabung dengan yang lain.
Namun, baru saja Arvin duduk di sana, ada Rofan yang datang menghampiri. Jika dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya ada sesuatu hal yang sangat penting hingga pria tersebut mengganggu waktu Arvin.
__ADS_1
"Aku ke sana sebentar," pamit Arvin kepada Fayre sambil menunjuk arah teras belakang.
Fayre mengangguk pelan sebelum Arvin pergi bersama Rofan. Jujur saja dia sangat penasaran, apa kiranya yang membuat mereka harus berbicara menjauh dari tempatnya.
"Pasti ada urusan pekerjaan." Fayre berusaha berpikir positif agar tetap tenang.
...π π π π π π ...
Jarum jam sudah berada di angka dua belas malam. Semua tamu undangan bertolak sejak satu jam yang lalu dan kini waktunya istirahat untuk tuan rumah. Fayre baru saja keluar dari walk in closet. Dia segera naik ke atas ranjang, di mana ada Arvin yang sedang duduk bersandar di sana sambil bermain ponsel. Fayre meraih ponsel miliknya yang tersimpan di atas nakas sejak tadi sore. Dia meninggalkan benda canggih itu selama acara baby shower berlangsung.
"Siapa yang menelfonku sebanyak ini?" gumam Fayre setelah membuka ponselnya. Ada lebih dari lima belas panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Mungkin karena penasaran, Fayre pun melihat profil kontak tersebut.
"Dira?" Fayre mengernyitkan keningnya setelah melihat nama dan foto yang ada di kontak tersebut, "ada perlu apa dia sampai menghubungiku?" gumamnya lagi.
Arvin meletakkan ponselnya setelah mendengar nama Dira disebut oleh Fayre. Dia sendiri bingung harus bagaimana saat ini setelah mengetahui informasi yang tadi disampaikan oleh Rofan.
"Apa? Informasi yang tadi disampaikan pak Rofan kah?" tanya Fayre tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Ya. Ini informasi tentang Dira dan ibunya," ujar Arvin hingga membuat Fayre mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Ada apa dengannya? Dia juga menghubungiku beberapa kali." Fayre semakin penasaran dengan berita yang disampaikan oleh suaminya itu.
"Dira sudah melahirkan," ujar Arvin dengan tegas, "dan anak yang ada dalam kandungannya adalah darah daging Raka. Orang-orang kita melihat Raka dengan dijaga ketat oleh beberapa aparat datang ke rumah sakit. Menurut informasi dari mereka, Raka sengaja didatangkan kakaknya untuk menemani Dira yang sedang berjuang sendiri," jelas Arvin hingga membuat Fayre terbelalak karena terkejut dengan berita ini. Dia tidak menyangka saja jika Dira menjalin hubungan sejauh ini dengan Raka.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Setidaknya dia bertanggung jawab menemani Dira saat melahirkan. Biar gak si Lisa aja yang nemenin," jawab Fayre asal. Wanita berbadan dua itu kembali membuka ponselnya untuk melihat media sosial.
"Fay," panggil Arvin lagi.
"Hmmmm." Hanya itu saja yang menjadi jawaban Fayre.
"Ada satu hal yang lebih penting dari sekadar melahirkan," ucap Arvin lagi.
"Apalagi?"Ponsel itu pun dikembalikan lagi di atas nakas, "apa Raka kabur dari tahanan?" tebak Fayre.
Ekspresi wajah pria tampan itu mendadak sendu setelah teringat segala hal yang disampaikan oleh Rofan. Sekeras apapun hatinya, di terenyuh setelah tahu kebenaran yang menimpa keluarga sambung Fayre.
"Bu Lisa meninggal dunia bersamaan dengan Dira yang melahirkan anaknya," ucap Arvin sambil menatap wajah sang istri.
Fayre tertegun setelah mendengar berita tersebut. Apalagi setelah mendengar cerita yang disampaikan Arvin saat ini, tentang bagaimana kondisi bu Lisa untuk terakhir kalinya. Sebagai sesama seorang wanita, tentu dia merasakan bagaimana terpukulnya menjadi Dira.
"Jalan hidupnya begitu terjal." Hanya itu jawaban yang diucapkan oleh Fayre setelah Arvin selesai bercerita.
"Apa kamu tidak ingin pergi ke rumah duka untuk yang terakhir kalinya?" tanya Arvin seraya menatap Fayre dengan intens, "berikan pengampunanmu kepada bu Lisa, Fay. Biar arwahnya bisa tenang," ucap Arvin dengan suara yang terdengar lirih.
Sementara Fayre hanya diam saja saat mendengar penuturan dari Arvin. Pikirannya sedang berkecamuk untuk memutuskan bagaimana langkahnya setelah ini. Jujur saja, Fayre sendiri sudah memaafkan kesalahan bu Lisa sejak dirinya mendapat anugerah terindah dari Tuhan dengan hadirnya janin yang sedang tumbuh dalam kandungannya. Namun, untuk pergi ke rumah mendiang ayahnya, jujur saja Fayre sangat berat, mengingat bagaimana saat terakhir dia datang ke sana kala itu.
"Aku tidak ingin pergi ke sana, Vin. Kalau kamu mau pergi, silahkan saja. Jangan memaksa aku untuk menginjakkan kaki di rumah itu lagi." Tatapan Fayre lurus ke depan, "memaafkan tidak berarti harus datang bukan?" Tatapan penuh arti terarah ke Arvin.
__ADS_1
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...