Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Amit-amit jabang bayi!.


__ADS_3

Aroma obat-obatan khas rumah sakit mengusik indera penciuman semua insan yang sedang duduk menunggu giliran masuk ke dalam poli. Sama halnya dengan pasien yang lain, bu Linda pun harus menunggu giliran namanya dipanggil, karena beliau melakukan pemeriksaan secara dadakan, tanpa membuat janji seperti biasanya.


"Kamu mau makan apalagi, Sayang?" tanya bu Linda kepada menantu kesayangan yang duduk di sampingnya.


"Ini saja dulu, Mi. Stok makanan masih aman kok, Mi," ucap Fayre sambil mengunyah sandwich cokelat yang dibeli dari supermarket di depan rumah sakit.


Bu Linda sudah hafal betul bagaimana perubahan selera makan menantunya sejak morning sickness berakhir. Menantu kesayangan keluarga Bramasta itu tidak bisa jauh dari makanan, apalagi di saat di rumah sakit seperti ini, pasti akan banyak makanan yang dihabiskan oleh Fayre. Napsu makan wanita berbadan dua itu semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Tubuhnya terlihat semakin berisi karena perubahan kondisi ini.


"Kalau ingin makan sesuatu bilang Mami, ya. Nanti kita beli sama-sama," ucap bu Linda seraya tersenyum manis sambil mengusap perut menantunya itu.


"Iya, Mi," jawab Fayre dengan senyum yang sangat manis.


Menantu dan mertua itu sibuk berbincang sambil menunggu antrean. Sesekali Fayre tersenyum manis ketika mendapatkan perhatian lebih dari mertuanya. Dia sangat bersyukur memiliki mertua yang sangat perduli dengannya, meski terkadang bu Linda terkesan cerewet di mata Fayre.


"Sayang, Mami masuk dulu ya, kamu tunggu di sini saja," pamit bu Linda setelah mendengar namanya dipanggil. Beliau meninggalkan Fayre di sana seorang diri dan tentunya dengan satu kantong besar berisi makanan.


Sepeninggalan bu Linda, Fayre mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Wanita berbadan dua itu sudah kepalang rindu dengan pria yang berada jauh darinya. Beberapa kali panggilan video dengan Arvin tersambung tetapi tidak diangkat oleh suaminya itu.


"Dia kemana sih?" gerutu Fayre karena kesal panggilan darinya tak kunjung diterima, "mungkin lagi meeting kali ya," gumam Fayre lagi saat mencoba menyingkirkan pikiran negatif dari kepalanya.


Wanita berbadan dua itu menyimpan ponselnya ke dalam tas meski rasa rindu itu belum terobati. Sebenarnya sejak berangkat ke rumah sakit ini, Fayre merasa resah karena tidak melihat wajah tampan Arvin dan aroma maskulin yang menjadi ciri khas suaminya itu.

__ADS_1


"Kangen Arvin," gumam Fayre dengan suara yang lirih, dia menyandarkan tubuh di sandaran kursi yang dia tempati saat ini.


Rasa bosan mulai melanda wanita berbadan dua itu. Dia mengamati setiap orang yang ada di sana untuk mengusir rasa bosan. Sosok wanita yang duduk di kursi roda ada di depan poli paling ujung membuat Fayre harus menajamkan pandangannya. Manik hitam itu terpaku pada satu titik fokus yang membuatnya terkejut.


"Itu bu Lisa bukan sih?" gumam Fayre tak percaya dengan sosok yang terlihat lemah dan kurus itu, "poli syaraf." Fayre membaca tulisan yang ada di pintu poli yang ada di ujung koridor.


"Oh jadi si wanita sombong itu kena syaraf," gumam Fayre lagi, "tapi dia kesini bersama siapa?" Fayre mulai mengamati orang-orang yang ada di sekitar bu Lisa untuk mengetahui siapa yang mengantar bu Lisa.


Satu wajah cantik terekam dalam pandangan Fayre. Dia membekap mulutnya setelah seorang wanita berbadan dua berdiri dari tempat duduknya dan mendorong kursi roda bu Lisa memasuki poli tersebut. Fayre tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia menggeleng beberapa kali karena shock setelah melihat sosok tersebut.


"Dira hamil?" gumamnya dengan suara yang lirih, "perasaan dia kan belum menikah? Perutnya pun sudah terlihat besar. Berarti lebih dulu dia daripada aku." Fayre hanya bisa bergumam lirih atas semua yang sudah dilihatnya.


Pandangan Fayre tak beralih dari pintu poli syaraf. Dia berharap melihat kembali dua sosok yang dulu membuat hidupnya gelap dan tak berarti. Namun, pandangan itu harus beralih ketika Fayre merasakan tepukan di bahunya.


"Tadi saya seperti melihat bu Lisa dan anaknya, Mi. Masuk ke dalam poli syaraf," ucap Fayre seraya menunjuk ruangan yang dimaksud.


"Kalau begitu kita tunggu di sini saja, Mami penasaran dengan mantan ibu tirimu itu." Bukannya pergi ke gedung radiologi dan Laboratorium sesuai arahan dokter, mertua Fayre itu malah duduk di sana karena penasaran.


Jiwa-jiwa kepo menantu dan mertua itu ternyata sama. Mereka dengan setia menunggu pintu poli terbuka demi melihat kondisi bu Lisa saat ini. Untung saja tempat mereka saat ini bukan di deretan paling di depan. Jadi, aman dan tidak akan ketahuan.


"Astaga, Fay cepat amit-amit, Fay! Cepat!" ujar bu Linda tiba-tiba setelah pintu ruangan tersebut terbuka dan melihat sosok yang ditunggunya sejak tadi.

__ADS_1


"Amit-amit bagaimana, Mi? Saya tidak mengerti caranya amit-amit." Fayre terlihat bingung setelah mendengar perintah dari bu Linda.


"Usap-usap perutmu sambil bilang 'amit-amit jabang bayi, semoga anakku tidak seperti itu'. Buruan, Fay!" ujar bu Linda tanpa melepaskan pandangannya dari seorang wanita yang sedang duduk di kursi roda.


Meskipun tidak tahu apa maksud dan tujuan sang mertua menyuruhnya seperti itu, Fayre tetap menjalankan perintahnya. Dia melakukan semua perintah dari bu Linda tanpa protes, "eh, tapi kenapa anakku harus seperti bu Lisa. Enak saja, ini kan aku dan Arvin yang bikin, gak mungkin seperti mereka kali," gerutu Fayre dalam hati.


Maklum saja bu Linda seperti itu, meski sejak kecil berada di Jakarta, tetapi kedua orang tuanya berasal dari jawa timur. Adat jawa selalu diajarkan kedua orangtuanya hingga merasuk ke dalam pikirannya. Termasuk kebiasaan yang sudah diperintahkan kepada Fayre tadi.


Pandangan mereka terus mengikuti bu Lisa dan Dira hingga keluar dari lobby pemeriksaan dan setelah itu mereka berdua saling pandang, karena tidak percaya dengan semua ini. Wanita yang dulu terlihat angkuh dan jahat, kini lemah tak berdaya dan terlihat lebih tua dari umurnya.


"Dia sakit apa, Fay? Kok berubah banget ya?" tanya bu Linda penasaran.


"Enggak tahu, Mi. Mungkin kena stroke kali, Mi kan masuk poli syaraf," tebak Fayre asal.


Bu Linda mangut-mangut setelah mendengar jawaban menantunya. Beliau sendiri tiba-tiba teringat jika umurnya pun sudah tua. Cepat atau lambat penyakit pun akan datang menghampiri dan beliau jadi ingat jika harus pergi ke laboratorium dan radiologi.


"Eh, kenapa jadi mikirin si wanita jahat itu ya." Bu Linda terkesiap setelah melamun, "ayo kita pindah ke gedung sebelah, Fay. Mami harus dicek lengkap agar dokter bisa memberikan obat yang tepat," ucap bu Linda seraya berdiri dari tempatnya saat ini.


Fayre beranjak dari tempatnya dan tak lupa membawa kantong putih berisi makanan itu. Dia mengikuti langkah bu Linda menuju gedung yang dimaksud tanpa protes sedikitpun, padahal yang sebenarnya, dia sudah tidak nyaman berada di sini. Wanita berbadan dua itu ingin pulang dan bertemu pria yang sejak tadi memenuhi pikirannya.


"Aku pengen pulang, kangen sama ayang Arvin," gumamnya dalam hati.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2