
"Cabut laporannya atau aku akan menghancurkan keluargamu tanpa sisa! Asal kamu tahu, Reno pantas mati setelah membuat anakku hamil tanpa mau bertanggung jawab!"
Dira menjatuhkan ponselnya setelah menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Dia shock setelah mengetahui penyebab Reno meregang nyawa. Selain memiliki hutang yang sangat besar di salah satu rentenir kejam, Reno pun tega mengencani anak rentenir tersebut hingga hamil. Ternyata, Reno tidak mau bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Alhasil, semua perbuatannya berhasil menjadi jalannya kembali ke Sang Pencipta. Rentenir itu pun mengatakan jika Reno sempat mencelakai putrinya agar janin yang ada dalam kandungan gugur.
Dira tergugu karena merasakan segala hal yang menimpanya. Baru selesai masalah di perusahaan, kini, dia harus berada dalam masalah lagi. Dia hanya berharap rentenir tersebut tidak mengganggu kehidupannya dan bu Lisa setelah ini. Cukup Reno yang dilenyapkan dengan cara seperti itu.
Menurut praduga pihak kepolisian, Reno di tusuk beberapa kali di bagian punggungnya saat berada di halaman rumahnya sendiri. Sepertinya, pembunuhan ini memang direncanakan. Apalagi, setelah polisi mengecek beberapa rekaman CCTV di rumah dan di pos depan komplek. Plat mobil yang dikendarai Reno pun tidak terpasang. Mungkin, ini sengaja untuk menghilangkan jejak siapa yang membunuh Reno. Pihak kepolisian sudah menjadikan satpam komplek dan satpam rumah bu Lisa sebagai saksi.
"Aku harus mencabut laporannya! Aku gak mungkin membiarkan Mama dalam bahaya," gumam Dira setelah berpikir cukup lama.
Jenazah Reno disemayamkan di kediaman bu Lisa sendiri. Kemungkinan jenazah Reno akan dimakamkan besok pagi setelah penyelidikan polisi selesai. Ada banyak tamu yang datang, termasuk beberapa keluarga bu Lisa yang mengucapkan bela sungkawa atas kejadian ini.
Bu Lisa tak henti meneteskan air mata di sisi peti jenazah putra sulungnya. Beliau begitu hancur melihat Reno pergi untuk selama-lamanya dengan cara yang tidak pernah disangka sebelumnya. Banyak kerabat dan tamu yang sudah mencoba untuk menenangkan bu Lisa, akan tetapi wanita paruh baya itu tetap terpuruk di sana.
Tidak ada yang tersisa bagi seorang ibu selain sebuah kehancuran saat anaknya kembali ke pangkuan Tuhan.
Ya, itulah yang dirasakan bu Lisa saat ini. Dunianya terasa gelap dan hancur saat menghadapi kenyataan yang ada. Bahkan, dalam mimpi pun bu Lisa tidak menginginkan semua ini. Harapan hidup bahagia dan bergelimang harta nyatanya semakin terkikis. Satu persatu penderitaan mulai datang menghampiri dan menghantui hari-hari wanita paruh baya itu.
Sementara itu di halaman rumah megah alhmarhum pak Hardi, sebuah mobil sport hitam berhenti di salah satu sudut halaman. Banyak mobil pelayat yang berjajar rapi di halaman rumah tersebut dan yang baru saja datang adalah mobil milik Arvin. Beberapa karangan bunga pun berjajar rapi di sana.
"Kamu yakin untuk menemui bu Lisa?" Sekali lagi Arvin meyakinkan sang istri.
__ADS_1
"Ya. Aku yakin," ucap Fayre sambil menatap Arvin.
Setelah tahu kabar tentang kematian tragis kakak sambungnya itu, Fay merengek kepada Arvin untuk datang menemui bu Lisa dan Dira sebagai bentuk rasa kemanusiaan. Tidak ada salahnya bukan datang ke rumah duka untuk mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga yang ditimpa musibah?
Itulah yang sedang dilakukan Fayre saat ini. Mencoba untuk menyisihkan kebenciannya kepada keluarga sambungnya walau untuk sesaat. Sepasang suami istri itu pun mulai mengayun langkah memasuki rumah megah tersebut. Kenangan tentang pak Hardi tiba-tiba saja melintas dalam ingatan, hingga membuat Fay tak kuasa menahan air matanya.
"Untuk apa kamu menangisi pria brengsek seperti kakakmu itu?" bisik Arvin setelah melihat sang istri mengusap air matanya.
"Aku tidak menangisi Reno! Aku teringat memori bersama ayah di sini," jawab Fayre tanpa menatap Arvin. Ia sibuk mengusap air mata yang membasahi pipi.
Beberapa orang menyambut kedatangan Arvin dan Fay, karena di sana ada beberapa tamu yang menjadi rekan bisnis Arvin. Mereka hanya menganggap jika Arvin memiliki kerja sama bersama Dira hingga bersedia datang ke rumah ini.
"Selamat sore," ucap Fayre setelah sampai di ruang tamu. Dia melihat bu Lisa duduk di samping peti jenazah Reno.
Fayre berjalan mendekati peti yang belum tertutup itu untuk melihat yang terakhir kalinya pria yang menjadi pusat traumanya. Dia berdiri di dekat bu Lisa yang sedang termenung dengan tatapan mata yang kosong. Beliau tidak tahu jika yang berdiri di dekatnya adalah putri sambungnya.
"Fay,"
Dira bergumam setelah kembali ke ruang tamu dan melihat kehadiran Fayre. Gadis berambut cokelat itu baru saja menyelesaikan urusan bersama pengancam yang sempat menelfonnya. Dia pun sudah menghubungi pengacaranya agar mencabut laporan tentang pembunuhan Reno dari kepolisian. Setelah ini Dira ingin hidup tenang bersama bu Lisa.
"Maafkan semua kesalahan kak Reno, ya, Fay," ucap Dira saat memeluk tubuh yang terbalut pakaian serba hitam itu dan setelah itu Dira mengurai tubuhnya.
__ADS_1
"Aku turut berduka, Kak, atas meninggalnya Reno," ucap Fay seraya membenarkan mantila yang menutupi rambutnya. Fayre tidak lagi memanggil Reno dengan sebutan 'Kakak'.
"Terima kasih karena sudah bersedia datang," ucap Dira seraya menatap Fay dengan mata sembab yang berembun, "Ma, ada Fayre datang. Mama tidak ingin menyambutnya?" Kali ini Dira menepuk bahu bu Lisa sambil berbisik di dekat telinga Ibunya agar sadar dari lamunan.
Setelah mendengar nama Fayre disebut oleh putrinya, bu Lisa segera mengalihkan pandangannya ke samping. Wanita paruh baya itu bangkit dari tempatnya dan berdiri di hadapan Fay. Tatapan matanya mengisyaratkan sebuah tanda jika wanita paruh baya itu sedang marah. Entah apa yang membuatnya berubah menjadi seperti itu.
"Untuk apa kamu datang kesini hmmm?" tanya bu Lisa tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik Fayre.
Sontak saja, pertanyaan itu berhasil membuat Dira dan Fayre menjadi heran. Keduanya saling pandang dan bertanya lewat sorot mata, apa yang sebenarnya terjadi kepada bu Lisa.
"Saya turut berduka atas musibah yang menimpa putra Ibu," ucap Fay dengan tenang.
"Bohong! Kamu pasti bahagia 'kan melihat Reno seperti ini!" teriak bu Lisa hingga membuat beberapa tamu yang ada di luar masuk ke dalam ruang tamu karena terkejut mendengar teriakan bu Lisa.
Fayre tercengang setelah mendengar sendiri kalimat yang terucap dari bibir ibu sambungnya itu. Dia tidak menyangka di saat seperti ini bu Lisa tidak bisa menjaga sikapnya. Sementara Arvin langsung mendekat ke tempat Fayre berada, karena dia tidak mau jika bu Lisa sampai melukai istrinya.
"Kamu kan yang membunuh anakku!" tuduh bu Lisa hingga membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, termasuk Arvin.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1