
Siluet jingga terlukis dengan indah di cakrawala barat, pertanda sang raja sinar akan kembali ke peraduan. Fay baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe putih yang menutupi tubuhnya. Handuk putih pun melilit rambutnya yang basah. Ia duduk di meja rias yang ada di walk in closet.
Langkah pertama yang dilakukan Fay saat ini adalah mengeluarkan hair dryer. Ia harus mengeringkan rambut sebelum mulai make-up, karena nanti Arvin akan mengajaknya pergi makan malam. Setelah melepas handuk di kepala, Fay segera meraih hair dryer. Rasa panas mulai menerpa rambut hitamnya, setelah Fay menggerakkan hair dryer itu.
"Biar aku saja yang mengeringkan rambutmu."
Tiba-tiba saja Arvin muncul di balik tubuh Fay. Ia mengambil alih hair dryer yang ada di tangan Fay dan setelah itu, ia mulai melakukan tugasnya. Tidak ada sepatah katapun yang lolos dari bibir Arvin. Ia hanya menampilkan senyum manis yang terlihat dari pantulan cermin.
"Arvin ini kenapa, sih?" Fay bergumam dalam hati saat menatap wajah tampan suaminya itu lewat cermin di hadapannya.
Fay mengerutkan keningnya setelah beradu pandangan dengan Arvin lewat cermin itu. Ia semakin heran karena Arvin terus tersenyum. Fay menjadi tidak nyaman sendiri melihat sikap aneh suaminya sore ini.
"Sial! Kenapa aku jadi gugup begini!" batin Fay setelah mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia tidak mau terlalu lama beradu pandangan dengan pria yang masih sibuk mengeringkan rambutnya itu.
Sikap yang ditunjukkan Fay saat ini berhasil membuat Arvin semakin yakin, jika istrinya itu memiliki perasaan lebih kepadanya. Ia terus mengawasi Fay yang sedang berkutat dengan alat make-upnya.
"Yes! Sepertinya dia semakin gugup sekarang." Dalam hati Arvin bersorak sorai penuh kemenangan setelah melihat hidung mancung sang istri kembang kempis.
"Selesai," ucap Arvin setelah rambut itu benar-benar kering, "aku mau mandi dulu! Jangan lupa pakai gaun yang tadi," pamit Arvin sebelum berlalu dari walk in closet.
Fay membuang napasnya kasar setelah Arvin keluar dari ruangan tersebut. Ia sampai menepuk dada beberapa kali karena merasakan jantungnya berdegup kencang. Senyum manis sang suami di kala senja membuatnya menjadi tak karuan. Sungguh, keadaan ini benar-benar membuat jantungnya menjadi tidak normal.
"Huuh ... aku ini kenapa coba?" Fay menatap pantulan dirinya di cermin.
"Sebenarnya Arvin ini mau mengajak aku makan malam sama siapa sih? Sepertinya kok formal banget," gumam Fay setelah melihat gaun yang terlihat sangat indah.
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Setelah berkutat di dalam kamar selama kurang lebih satu jam, pada akhirnya sepasang suami istri itu keluar dari kamar. Mereka terlihat sangat rapi malam ini. Balutan gaun berwarna hitam terlihat kontras dengan kulit mulus Fay. Sementara Arvin memilih untuk memakai kemeja lengan panjang yang serasi dengan pakaian Fay.
__ADS_1
"Pi, Mi ... kami berangkat dulu," pamit Arvin setelah menemui kedua orang tuanya di ruangan keluarga.
"Hati-hati," ucap pak Bram setelah Arvin menjabat tangan beliau.
"Have fun, Baby." Bu Linda tersenyum manis saat menatap anak dan menantunya.
Senyum itu tak kunjung pudar sampai sepasang anak muda itu hilang dari pandangan. Bu Linda bahagia melihat hubungan Arvin dan Fay semakin membaik. Sepertinya, tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Pi, jadi ingat jaman kita saat muda dulu, ya," ucap bu Linda setelah mengalihkan pandangan ke samping, "Mami jadi pengen dinner romantis seperti Arvin, ih." Bu Linda bergelayut manja di lengan pak Bram.
"Ya, ya, ya ... nanti setelah hubungan mereka benar-benar membaik, kita liburan lagi. Nanti makan di tempat yang kemarin," ucap pak Bram seraya membelai rambut sang istri.
Kecupan mesra mendarat di pipi pak Bram, sebuah hadiah kecil dari bu Linda atas jawaban pak Bram, "terima kasih, Sayang," ucap bu Linda dengan tatapan penuh arti.
...๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ...
Mobil sport milik Arvin berhenti di depan salah satu restoran mewah di Jakarta selatan. Senyum manis seakan tak bisa pudar dari bibir pria tampan itu, apalagi setelah membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Tentu, dengan senang hati Fay menerima uluran tangan itu. Bahkan, ia bergelayut manja di lengan Arvin. Senyum manis terus mengembang di bibir berwarna merah maroon itu.
"Silahkan duduk," ucap Arvin setelah menarik kursi untuk sang istri.
Malam ini Fay merasa spesial karena diperlukan dengan manis oleh suaminya itu. Jujur saja, sampai saat ini Fay masih gugup saat tidak sengaja beradu pandang dengan Arvin. Ia banyak menghindari tatapan mata yang mengisyaratkan makna lain.
Berbagai hidangan tersaji di meja berbentuk bulat itu. Fay sampai bingung harus memilih yang mana karena semua ini adalah makanan favoritnya. Ia semakin heran karena tidak ada siapapun yang datang ke restoran ini. Hanya ada dua orang yang berada tak jauh dari mejanya.
"Vin, kita makan malam sama siapa sih? Makanannya sebanyak ini dan kenapa tidak ada pengunjung yang datang?" tanya Fay setelah mengedarkan pandangan.
__ADS_1
"Aku sengaja menyewa tempat ini karena aku ingin makan malam romantis denganmu," jawab Arvin seraya menatap Fay penuh arti.
Bibir berwarna merah maroon itu sedikit terbuka setelah mendengar jawaban yang diucapkan oleh Arvin. Sungguh, ia tidak menyangka akan mendapatkan hal romantis seperti ini dari Arvin.
"Fay, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Maka dari itu, aku mengajakmu makan malam romantis di sini, biar tidak ada yang mengganggu," ucap Arvin sebelum beranjak dari tempatnya.
Prok ... prok ... prok.
Setelah Arvin memberi kode sebanyak tiga kali, datanglah seorang waiters membawa nampan berisi buket bunga dan kotak beludru berwarna merah. Hal ini semakin membuat Fay tercengang, ia berdiri dari tempatnya tanpa mengalihkan pandangan dari Arvin.
"Arvin." Fay bergumam lirih saat Arvin memberinya buket bunga mawar putih.
Fay semakin gugup setelah menerima bunga pemberian dari suaminya. Ia mendadak salah tingkah di hadapan pria yang sedang menatapnya penuh arti itu. Apalagi, setelah Arvin membuka kotak beludru persegi itu.
"Kyomi Fayre, dari lubuk hati yang paling dalam, aku ingin menyampaikan rasa yang sudah hadir dalam hatiku. Malam ini aku meminta izin kepadamu, untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Aku ingin kita mengarungi bahtera pernikahan ini dengan perasaan cinta di dalamnya."
"Aku tidak memaksamu untuk memiliki perasaan yang sama denganku. Akan tetapi izinkan aku untuk selalu mencintaimu dan menyayangimu sebagai satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku," ucap Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari manik hitam yang berembun itu.
Bulir air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Fayre. Ini bukanlah air mata kesedihan, akan tetapi ini adalah bentuk bahagia yang bisa disampaikan Fay tanpa harus berkata. Kedua sudut bibir berwarna merah maroon itu tertarik ke dalam setelah melihat Arvin mengeluarkan kalung berlian dari kotaknya. Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Arvin pun segera memasangkan kalung tersebut di leher yang mulus itu.
"Arvin Axelle, di malam yang membahagiakan ini, aku berjanji padamu. Aku akan mencintaimu sepenuh hatiku, aku hanya milikmu sampai maut memisahkan kita. Aku tidak tahu, bagaimana rasanya mencintai. Aku hanya merasakan jika aku tidak bisa jauh darimu, aku bahagia ketika melihatmu tersenyum. Aku ... akuโ"
Ungkapan perasaan itu harus terhenti karena tiba-tiba saja, Arvin meraup bibir yang menggoda itu. Arvin sudah tahu apa akhir dari kalimat yang diucapkan oleh sang istri. Kedua bibir itu pun saling bertautan hingga membuat keduanya menutup kelopak mata. Mereka tidak perduli meski ada yang melihat adegan ini karena bagi mereka dunia ini adalah milik mereka berdua.
"I love you so much, Honey," ucap Arvin setelah melepaskan bibir berwarna merah maroon itu.
...๐นTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga sukaโค๏ธ๐น...
__ADS_1
...Maaf yaa telat up hari ini๐...
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น...