
Tiada hari tanpa mual dan muntah. Ya, keadaan inilah yang menjelaskan bagaimana kondisi Fayre saat ini. Usia kandungannya baru memasuki minggu ke sepuluh, akan tetapi morning sickness belum juga terlewati. Rasa mual dan tidak nyaman melanda di kala pagi dan sore hari. Bahkan, wanita cantik itu sampai tidak bisa melakukan aktifitas apapun karena semua anggota keluarga ini begitu posesif kepadanya. Makanan selalu di antar ke kamar, segala kebutuhan terpenuhi di sana dan bu Linda setiap waktu selalu memastikan keadaannya tidak kurang dari apapun. Sungguh, keadaan ini terkadang membuat Fayre merasa bosan.
"Sayang, aku pulang!" teriak Arvin setelah masuk ke dalam kamar. Tentu kehadirannya disambut hangat oleh Fayre yang sedang duduk bersandar di atas ranjang. Dia segera menutup bukunya setelah melihat kedatangan sang suami.
"Wah ... bawa apa itu?" tanya Fayre setelah melihat kantong berwarna putih yang ada dalam genggaman tangan Arvin.
"Pizza dengan topping spesial untuk istriku yang paling cantik ini," ucap Arvin seraya menunjukkan kantong tersebut tepat di hadapan Fayre.
Binar bahagia terlihat dari sorot mata indah milik Fayre. Ternyata, tanpa diminta pria tampan yang sedang tersenyum itu membawakan makanan yang menjadi favoritnya akhir-akhir ini. Dia menerima kantong tersebut dengan senyum manis untuk dipersembahkan kepada sang suami.
"Coba buka kotaknya!" titah Arvin setelah duduk di tepi ranjang.
Tanpa menunggu lebih lama lagi akhirnya Fayre membuka kantong tersebut. Aroma keju mozzarella yang gurih dan tentunya berhasil membuat perut keroncongan itulah yang tercium saat ini. Fayre mengambil satu potong pizza untuk diberikan kepada Arvin.
"Biar aku yang menyuapkan. Buka mulutmu, Vin!" ujar Fayre sambil menjauhkan potongan pizza tersebut ketika Arvin hendak mengambilnya.
Romantisme di kala senja akhirnya berakhir setelah Arvin menghabiskan dua potong pizza dari tangan Fayre, "aku mau mandi dulu. Nanti kita lanjut makan pizzanya," pamit Arvin saat beranjak dari tempatnya saat ini.
Saat Arvin beranjak dari tempatnya, rasa tidak nyaman mulai terasa di dalam perut Fayre. Dia meletakkan kotak pizza tersebut di atas nakas dan segera beranjak dari atas ranjang sambil membekap mulutnya. Dia berusaha menahan rasa mual itu agar tidak keluar sebelum sampai di kamar mandi.
Hoek! Byur!
"Oh my god!" teriak Arvin dengan mata yang terpejam. Pria tampan itu menghentikan langkahnya tepat di depan kamar mandi.
"Fayre! Jasku, Fay!" gumam Arvin tanpa membalikkan tubuhnya. Dia sangat yakin jika sang istri muntah di punggungnya.
Fayre membekap mulutnya setelah melihat punggung Arvin basah terkena cairan yang baru saja dia keluarkan. Sudah dua kali ini Arvin menjadi korban dari muntahan Fayre. Sungguh, Fayre sendiri tidak sengaja melakukan semua ini.
"Maaf! Aku tidak sengaja, Vin. Kamu menghalangi jalanku sih!" ujar Fayre sambil menatap jas hitam yang basah. Untung saja Fayre belum sempat makan pizza, bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika sepotong pizza sudah masuk ke dalam perut tersebut.
"Pemintaan maaf macam apa ini! Kenapa dia malah menyalahkan aku!" gerutu Arvin dalam hati. Dia segera melepas jas hitamnya sebelum cairan itu menembus kemeja dan punggungnya.
__ADS_1
"Sini biar aku yang membereskan jasmu, Vin. Kamu mandi saja." Fayre mengulurkan tangannya agar Arvin menyerahkan jas hitam tersebut.
"Gak! Kali ini aku gak akan membiarkan jas ini berakhir di tong sampah. Aku akan menyuruh ART untuk membersihkan jas ini, Fay!" Arvin tetap menjinjing jas hitam tersebut di tangannya.
"Kenapa? Jasnya udah kotor, Arvin!" tanya Fayre penasaran, "apa jas itu lebih mahal dari sepatu yang aku buang di bandara?" Fayre mencoba menerka alasan sang suami.
"Jas ini harganya lebih murah dari sepatu yang kamu buang, tetapi jas ini lebih berharga dari sepatu itu, Fay." Arvin menatap jas nya dengan raut wajah sedih.
"Oh, aku tahu. Pasti ini jas hadiah dari mantan ya?" tuduh Fayre sambil memicingkan mata.
"Sembarangan!" Arvin tidak terima dengan tuduhan itu, "jas ini aku dapatkan dari designer asal Paris dengan susah payah." Arvin menatap Fayre penuh arti.
"Ya sudah, itu masalah gampang. Kamu tinggal beli lagi kan beres." Fayre berdecak kesal setelah mendengar alasan suaminya.
"Designernya sudah meninggal, Fay dan ini koleksi terakhirnya. Astaga!" Arvin menatap penuh sesal jas hitam kesayangannya itu, "kamu lebih baik membersihkan diri dulu, aku mau membawa ini ke bawah. Oke?" ujar Arvin sebelum pergi dari kamarnya.
Fayre tak merasa bersalah sedikitpun atas kejadian ini. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi seperti yang diperintahkan oleh Arvin. Membersihkan diri dari sisa cairan yang membasahi bibir. Dia sendiri tidak tahu, kenapa bisa adegan tidak mengenakkan ini terulang kembali.
Penunjuk waktu berada di angka sembilan malam dan Arvin baru saja masuk ke dalam kamar setelah berbicara dengan pak Bram di ruang kerja. Pria tampan itu melihat sang istri sedang fokus membaca buku. Akhir-akhir ini Fayre menghabiskan waktunya dengan membaca beberapa koleksi buku yang dia dapatkan dari toko online. Bukunya pun bervariasi. Ada novel romantis, panduan ibu hamil dan beberapa resep masakan.
"Sayang, jangan membaca terus! Sudah waktunya kamu istirahat. Nanti matamu lelah loh," ucap Arvin sambil merebut buku yang ada di tangan Fayre.
"Ih! Apaan sih! Aku belum selesai baca!" protes Fayre setelah melihat tindakan suaminya.
Arvin tak menghiraukan protes dari sang istri. Dia segera naik ke atas ranjang dan memposisikan diri di samping Fayre. Pria tampan itu membawa sang istri ke dalam dekapan hangatnya.
"Apa kamu merasa nyaman dengan posisi seperti ini," tanya Arvin setelah meraih tubuh Fayre ke dalam dekapannya.
"Ya. Aku sangat nyaman dengan posisi seperti ini. Malah yang sebenarnya aku tidak suka jika berjauhan denganmu. Setiap kamu berangkat kerja, aku tidak rela. Aku ingin ikut tapi tidak bisa," keluh Fayre seraya mengusap rahang kokoh tersebut.
"Kenapa seperti itu?" tanya Arvin lagi.
__ADS_1
"Mungkin anak kita tidak mau jauh dari ayahnya," jawab Fayre sekenanya.
"Tapi ya, Fay ... kenapa anak kita sepertinya suka menguji kesabaranku ya. Baru jadi janin berusia dua bulan saja, dia sudah membuat barang-barangku harus kena muntahan," keluh Arvin dengan helaian napas yang berat.
Fayre hanya terkekeh setelah mendengar keluh kesah suaminya itu. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa kejadian itu menimpa Arvin. Padahal Fayre tidak sengaja dan tidak berniat untuk melakukan hal menjijikkan itu.
"Ah, mungkin kalau anak kita lahir bakal jadi saingan kamu, Vin. Siap-siap nyetok sabar lah kalau begitu," seloroh Fayre di sela-sela tawa renyahnya.
Hembusan napas berat terdengar di sana karena Arvin saat ini sedang membayangkan hal itu terjadi kepadanya. Mungkinkah dia sanggup bersabar menghadapi kenakalan anak kecil, sementara selama ini dirinya jarang sekali dekat anak-anak.
"Eh, Vin. Ada sesuatu yang perlu kamu tahu saat ini." Fayre membuyarkan semua bayang-bayang yang sedang memenuhi pikiran Arvin.
"Apa? Katakan saja," ucap Arvin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu tahu, ada jalan tol yang ditutup selama dua bulan ini. Kasian banget tahu gak sih pemilik jalan tolnya gara-gara ditutup," ujar Fayre dengan serius.
"Terus apa hubungannya denganku? Memang aku biasa lewat sana?" Arvin terlihat bingung karena tidak tahu jalan tol yang dimaksud oleh sang istri, karena di Jakarta ada banyak jalan tol yang biasa dia lewati.
"Ih, masa kamu gak ngerti sih? Jalan tol ini hanya khusus untuk kamu loh, Vin!" Fayre menjauhkan wajahnya dari Arvin. Dia menatap sang suami dengan penuh arti.
Arvin semakin bingung dengan maksud pembicaraan sang istri. Apalagi ketika melihat Fayre menatapnya penuh arti dengan alis yang digerakkan. Arvin mencoba mencerna, akan tetapi dia belum menemukan jawabannya.
"Memangnya siapa yang berani menutup jalan tol di tengah keramaian lalu lintas, Fay?" tanya Arvin penasaran. Dia belum tahu kemana arah pembicaraan sang istri saat ini.
"Dokter Areta!" Hanya itu jawaban dari Fayre yang berhasil membuat Arvin terbelalak karena tahu jalan tol yang dimaksud sang istri.
Suara gelak tawa pun menggema di sana setelah Arvin tahu kemana arah pembicaraan sang istri. Ya, semenjak dinyatakan hamil, dokter Areta menyarankan untuk mengurangi aktivitas tersebut demi keamanan janin yang masih rentan keguguran. Mungkin karena takut terjadi sesuatu dengan kandungan sang istri, Arvin pun memutuskan untuk cuti sementara sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Cie ... yang punya jalan tol lagi pengen dilewati ya?" Arvin menggoda sang istri hingga membuat wajah tanpa polesan make-up itu bersemu merah.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...