
"Pernikahan itu bisa bertahan jika kita mau memaafkan kesalahan pasangan kita. Terkadang kita harus melupakan rasa sakit di hati apabila mengingat kembali janji suci yang sudah kita ucapkan di saat pemberkatan."
Fayre menghentikan kegiatannya setelah teringat nasihat yang pernah diucakan oleh bu Linda. Dia menutup kelopak matanya dan mencoba untuk menenangkan pikirannya sejenak. Tangannya mencengkram erat beberapa pakaian yang ada di dalam koper.
"Aargh!" teriak Fayre di sela-sela isak tangisnya.
Wanita cantik itu, mengeluarkan kembali pakaian yang ada di dalam koper besar tersebut. Pakaian itu pun berhampuran di lantai. Fayre menendang koper kosong itu dengan keras hingga melesat mengenai almari penyimpanan pakaian Arvin. Tangisnya kembali terdengar di sana. Fayre duduk di lantai dengan bersandar di almari. Dia sempat berpikir untuk pergi dari rumah ini.
"Kenapa harus aku yang menghadapi semua ini! Kenapa?" teriak Fayre sambil memukul pintu almari. Tidak perduli meski tangannya terasa sakit saat melakukan hal itu.
Kepalanya terasa penuh setelah mengingat semua janji-janjinya dan nasihat bu Linda. Hukum agama pun tiba-tiba saja membuatnya ragu untuk melangkah lebih lanjut. Apalagi setelah mendengar penjelasan Rofan tentang alasan yang menjadi dasar keputusan Arvin.
"Ya. Aku tidak boleh kalah! Aku harus mempertahankan rumah tangga ini!" gumam Fayre sambil menghapus air matanya, "Arvin pasti masih mencintaiku. Benar kata pak Rofan, aku harus mencari kebenaran yang sedang disembunyikan Arvin!" ujar Fayre dengan tatapan lurus ke depan.
Fayre merenung di dalam ruangan yang dipenuhi pakaian itu. Dia mencoba untuk menerka apa yang sedang terjadi. Akan tetapi, dia tidak menemukan apapun. Saran dari pak Rofan tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya.
"Siapa yang harus aku temui?" gumam Fayre setelah ingat jika Rofan memberinya tugas untuk mencari informasi dari teman dekat Arvin.
"Aku gak mungkin menemui Raka. Aku pun tidak percaya dengan Toni, dia terlihat aneh akhir-akhir ini. Hanya Fabi sepertinya yang bisa dipercaya," gumam Fayre setelah mengingat bagaimana ketiga teman dekat suaminya.
"Ya. Aku harus bertemu dengan Fabi," gumam Fay setelah yakin jika cassanova itu bisa membantunya mencari informasi.
Tanpa membereskan pakaian yang tercecer di lantai, Fayre beranjak dari tempatnya. Dia mencari ponsel yang ada di atas ranjang. Fayre membuka media sosial Faby untuk menghubunginya lewat aplikasi tersebut, karena dia tidak memiliki nomor ponselnya. Keberuntungan sepertinya ada ada wanita cantik itu karena Faby kebetulan sedang on.
Beberapa menit kemudian, pesan yang dikirim Fayre telah dibalas Faby. Mereka membuat janji bertemu sore ini di salah satu cafe yang tidak pernah dikunjungi oleh Arvin. Fayre meletakkan ponselnya dan dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, karena waktu bertemu sahabat suaminya kurang beberapa jam lagi.
Detik demi detik terus berlalu. Waktu bertemu Fabi akhirnya telah tiba. Kali ini Fayre memilih untuk membawa mobil sendiri agar tidak ada yang melaporkan semuanya kepada Arvin.
__ADS_1
Untung saja, jalanan kota cukup lenggang sehingga Fayre lebih cepat sampai di cafe yang sudah ditentukan oleh Fabi. Tidak sampai tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Fayre akhirnya sampai di tempat parkir. Wanita cantik itu segera keluar dari mobil dan mengayun langkah memasuki cafe tersebut. Fayre berjalan menuju ruang private yang sengaja dipesan oleh Fabi.
"Maaf aku terlambat," ucap Fayre setalah masuk ke dalam ruangan tersebut dan ternyata Fabi sudah duduk di sana.
"Gak masalah. Aku pun baru datang," jawab Fabi sambil menatap Fayre, "silahkan duduk," ucap Fabi sambil menunjuk sofa kosong yang berhadapan dengan tempatnya berada.
Fayre memesan minuman terlebih dahulu saat seorang waiter datang ke dalam ruangan tersebut. Sama halnya dengan Fayre, Fabi pun pesan makanan dan minuman yang paling spesial di sana.
"Ada apa?" tanya Fabi dengan sikap yang cool setelah melihaat keresahan pada istri temannya itu.
"Aku dan Arvin ada masalah besar," ucap Fayre dengan diiringi helaian napas yang berat. Lantas, dia segera membuka tas untuk mengambil surat panggilan dari pengadilan.
Fabi menaikkan satu alisnya setelah Fayre menyerahkan selembar kertas tersebut kepadanya. Dia mulai membaca dengan seksama tulisan yang memenuhi kertas putih itu dan tak lama setelah itu, mata itu terbelalak karena sang empu merasa shock.
"Ini serius?" Fabi meyakinkan poin penting surat tersebut.
"Bagaimana bisa? Apa alasannya?" cecar Fabi dengan tatapan tidak percaya.
"Entahlah. Aku pun tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini." Fayre menyandarkan tubuhnya di sofa tersebut.
Pembahasan itu harus terjeda karena seorang waiter masuk ke dalam ruangan untuk mengantar pesanan. Mereka berdua minum terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembahasan penting itu.
"Aku membutuhkan bantuanmu," ucap Fayre setelah minum mochaccino miliknya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Fabi setelah meletakkan cangkir espresso di atas meja.
Fayre menyampaikan rentetan kejadian yang baru saja dialaminya. Seperti perintah dari Rofan, Fayre meminta Fabi untuk membantunya mencari informasi tentang alasan Arvin yang sebenarnya. Fayre berharap Fabi menerima permintaanya.
__ADS_1
"Tolong aku, Bi," ucap Fay dengan sorot penuh harap.
"Aku akan berusaha membantumu, Fay. Tenang saja," ucap Fabi dengan yakin.
"Satu hal lagi yang aku minta, tolong jaga rahasia ini. Jangan sampai Toni dan Raka tahu, karena tidak percaya dengan meraka."
Fabi termenung setelah mendengar permintaan Fayre. Ada benarnya jika masalah ini tidak diketahui oleh Raka, karana Fabi takut semua ini semakin membuat perpecahan di lingkup pertemanannya.
"Pasti. Aku akan menjaga rahasia ini," ucap Fabi setelah berpikir untuk sesaat.
Keduanya mulai menerka alasan Arvin yang sebenarnya, karena sejauh ini yang Fabi tahu, Arvin memiliki perasaan yang begitu besar kepada Fayre. Dia tahu pasti ada yang tidak beres dengan temannya itu.
"Aku sangat berharap jika semua ini cepat terungkap," ucap Fayre sebelum menyeduh cangkir mochaccino miliknya.
"Ya. Berdoa saja dan tetap semangat. Aku salut denganmu, Fay. Kamu adalah wanita yang kuat." Fabi menatap Fayre dengan sorot mata prihatin.
Ya. Tidak bisa dipungkiri dan diragukan lagi, jika Fayre adalah sosok wanita yang kuat. Beberapa kali Fabi melihat sisi lain dari wanita introvert yang ada di hadapannya itu. Baru hari ini Fabi tahu bagaimana Fayre yang sebenarnya. Padahal, selama ini wanita yang menajadi istri sahabatnya itu jarang sekali bicara.
"Bodoh sekali lu, Vin! Lu pasti nyesel melepaskan wanita seperi Fayre," gumam Fabi dalam hati.
Keduanya hanya diam dengan lamunan masing-masing setelah tidak ada hal yang perlu dibahas. Sepertinya, Fabi sedang mencari cara untuk melakukan tugas yang diminta Fayre. Semua lamunan itu harus buyar begitu saja, setelah dia mendengar suara Fayre.
"Terima kasih sudah bersedia membantuku, Bi. Aku percaya kepadamu." ucap Fayre seraya menatap Fabi dengan lekat, "aku menungu kabar darimu. Sekarang aku pamit pulang dulu karena aku ingin menenangkan diri sebelum berjuang," ucap Fayre seraya berdiri dari tempatnya.
...🌹Happy weekend 🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1