Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Seperti dihempaskan


__ADS_3

"Vin, Arvin!" Beberapa kali Fay mencoba membangunkan tidur nyenyak pria yang ada di sisinya itu.


Waktu terus berlalu tanpa henti. Malam pun semakin merangkak naik. Akan tetapi, sampai detik ini, Fay belum bisa menutup kelopak matanya. Rasa kantuk mendadak hilang padahal jarum jam sudah berada di angka dua dini hari. Bayang-bayang hantu di film yang ia lihat di bioskop tadi, seakan tak bisa hilang dari pandangan. Perihal lain yang membuat Fay semakin kesal adalah karena sang suami tetap tidur pulas, meski ia sudah berusaha mengganggunya.


"Dih! Kebo banget sih!" gerutu Fay karena Arvin tak kunjung membuka mata. Ia mencari cara agar bisa membangunkan tidur nyenyak Arvin.


"Arvin! Bangun dong!" Sekali lagi Fay membangunkan suaminya itu. Mungkin, karena kesal Arvin tak kunjung bangun. Pada akhirnya Fay menggigit tangan Arvin dengan keras.


"Aaaw!" teriak Arvin seraya terhenyak dari tempatnya, "kamu ini gila atau gimana sih, Fay?" teriak Arvin seraya mengusap tangannya. Ia melihat ada bekas gigitan Fay di sana.


"Rasain! Maka dari itu bangun dong!" ujar Fay seraya menatap Arvin dengan lekat, "mentang-mentang udah tidur di ranjang! Malah gak mau bangun!" ujar Fay dengan nada sinis.


"Kan baru ngerasain enak, Fay," ucap Arvin dengan suara yang lirih, "apa lagi, sih!" Arvin sangat kesal karena Fay mencegahnya berbaring lagi.


"Aku gak bisa tidur! Temenin dulu!" ujar Fay seraya menarik kaos tanpa lengan yang dipakai oleh Arvin.


Dalam kondisi begini, tiba-tiba saja terbesit ide cemerlang dalam diri Arvin. Kali ini ia harus menggunakan kesempatan ini untuk sesuatu hal yang menguntungkan dirinya. Arvin tersenyum tipis sebelum menjalankan aksinya.


"Ogah! Aku mau tidur!" kilah Arvin seraya memaksakan diri untuk berbaring, padahal rasa kantuknya mendadak hilang begitu saja.


"Arvin! Jahat banget sih! Aku tuh takut beneran!" teriak Fay tanpa melepaskan tangan dari pakaian Arvin.


"Di dunia ini gak ada yang gratis, Fay!" ujar Arvin seraya menatap Fay penuh arti, "kalau boleh peluk dan cium ya aku temenin!" ujar Arvin seraya menatap Fay.


Mendengar hal itu, membuat Fay segera melepaskan tangannya. Ia membiarkan Arvin berbaring dengan posisi membelakanginya. Keadaan ini sangat merugikan dirinya. Fay berpikir dua kali setelah mendengar suara dengkuran halus Arvin.

__ADS_1


"Nah, mikir gak lu! Keberuntungan ada di tanganku kali ini!" ujar Arvin dalam hatinya. Ia terus berpura-pura tidur sebagai langkah untuk mencapai tujuannya.


"Vin, jangan jahat gitu dong! Kamu tuh gak kasihan apa sama aku? Aku tuh serius takut sama hantu. Aku gak bisa tidur karena wajah rusak pocong yang tadi rasanya gak bisa hilang dari mataku." Fay mengeluarkan semua ucapannya. Ia jadi bingung harus bagaimana saat ini.


Fay merebahkan diri di belakang tubuh Arvin. Ia berusaha memejamkan mata, akan tetapi tidak bisa. Berguling ke kiri dan ke kanan untuk mencari posisi yang pas, hasilnya pun tetap sama. Fay tidak bisa tidur, "Ya udah deh, kamu boleh peluk aku, tapi gosok gigi lagi sana! Kamu kan habis tidur tuh," ucap Fay setelah menyerah dengan keadaan ini.


Setelah mendengar jawaban itu, Arvin segera turun dari ranjang tanpa protes sedikitpun. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk melaksanakan syarat dari ibu ratu. Tak lama setelah itu, Arvin pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh.


"Nah, sekarang waktunya istriku bobo nih! Sini bobo sini!" ujar Arvin setelah merebahkan tubuh dengan tangan kiri yang terlentang. Ia menepuk tangan itu sebagai kode agar Fay tidur di sana.


Wajah tanpa polesan make-up itu bersemu merah setelah melihat sikap yang ditunjukkan oleh Arvin. Tanpa sepatah kata, Fay pun merebahkan tubuh di sana. Kehangatan begitu terasa setelah Arvin mendekap erat tubuhnya.


"Nah, begini kan enak! Pasti kamu gak takut lagi," ucap Arvin dengan suara yang lirih. Tangannya membelai rambut hitam itu dengan lembut.


"Apa yang kamu rasakan sekarang, Fay?" tanya Arvin dengan suara yang terdengar sexy di telinga Fay.


"Kamu tidak takut? Atau mungkin merinding?" tanya Arvin lagi tanpa mengalihkan pandangan dari mata indah sang istri.


Hanya gelengan pelan yang menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut. Ya, Fay benar-benar merasa nyaman saat berada dalam dekapan hangat itu. Ia sampai menelusupkan wajah di dada Arvin karena tidak tahan beradu pandangan dengan mata itu.


Degup jantung Arvin terdengar jelas di indera pendengaran Fay. Apalagi, setelah tangannya membalas rengkuhan itu. Fay seperti sedang memeluk guling besar yang sangat nyaman.


Fay memejamkan mata setelah merasakan kecupan mesra di rambutnya. Jujur saja, ia sangat gugup saat ini karena merasakan betapa lembutnya perlakuan pria yang sempat membuatnya trauma itu. Irama jantung Fay pun berdegup kencang saat kecupan itu mulai menyentuh kening, hingga bibir itu pun kembali mendarat di bibir sexy miliknya.


"Ayo lah, Fay! Kamu pasti bisa! Ingat, dia suamimu, dia memiliki hak atas dirimu! Ikuti saja! Kamu pasti bisa, Fay! Pasti!" Dalam hati, Fay terus mensugesti dirinya sendiri jika semua keadaan ini baik-baik saja.

__ADS_1


Bibir yang tertutup rapat itu, perlahan terbuka setelah Arvin menggigit pelan bagian bawahnya. Lidahnya menerobos masuk untuk mencari lawan dalam bermain. Fay memejamkan mata ketika merasakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Ia mengikuti setiap yang dilakukan Arvin saat ini. Semua itu terus berlangsung sampai Fay mulai kehabisan napas. Arvin melepaskan tautan bibirnya untuk memberikan ruang bagi sang istri menghirup udara segar.


"Mau lagi?" tanya Arvin seraya mengusap bibir Fay dengan ibu jarinya.


"Bod*h! Kenapa ditanya segala sih! Aku malu!" umpat Fay dalam hati setelah mendengar pertanyaan konyol itu.


Arvin kembali meraup bibir tanpa polesan warna itu. Ia kembali memberikan sensasi rasa baru untuk istrinya yang kuper dan polos itu. Hidup bertahun-tahun di Amerika nyatanya tak membuat Fay begitu pandai dalam hal seperti ini. Beruntungnya Arvin mendapatkan sebuah berlian murni meski perlu diolah agar terlihat lebih indah.


Entah dari mana awalnya, tangan Arvin mulai menjelajah bagian-bagian tertentu tubuh yang ada dalam dekapannya itu. Jari jemarinya mulai menelusup ke dalam piyaman itu untuk menggelitik perut mulus Fay. Hal ini berhasil membuat Fay mendesis karena merasakan sensasi yang lain.


"Fay, boleh ya," ucap Arvin dengan suara serak. Tatapan matanya mulai sayup karena harus menahan sanca yang sudah mendapatkan sinyal dari sarangnya.


"Tapi, Vin ...." Fay menghentikan ucapannya karena Arvin kembali meraup bibir itu untuk sesaat.


"Aku janji akan melakukannya dengan gerakan lembut. Kamu gak akan kesakitan." Arvin mencoba merayu Fay agar bersedia melakukan ritual sanca yang sedang power full.


"Aku tidak bisa! Aku sedang datang bulan! Tadi setelah kita pulang dari Mall, si bulan datang!" ujar Fay tanpa melepaskan pandangan dari Arvin.


Arvin membuang napasnya kasar setelah mendengar pernyataan dari Fay. Ia seperti dihempaskan dari ketinggian hingga membuat semua angan dan mimpi indah harus hilang begitu saja.


"Aduh! Nasibmu malang sekali, sanca!" ujar Arvin seraya menghempaskan tubuh hingga terlentang.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Siapa di sini yang bahagia karena Arvin gagal ritual😆...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2