Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Bukan Malam Pertama,


__ADS_3

Satu persatu rangkaian acara resepsi telah dilaksanakan. Kini, waktunya untuk istirahat, karena semua tamu sudah bertolak dari gedung resepsi. Fay berjalan menuju kamarnya tanpa alas kaki, karena ibu jari kakinya lecet. Bentuk high heels yang tidak nyaman serta terlalu banyak berdiri adalah penyebab luka tersebut.


"Kamu gak malu, jalan kaki di hotel ini tanpa alas kaki, Fay?" tanya Arvin setelah mengamati penampilan Fay saat ini.


"Enggak!" jawab Fay tanpa menatap Arvin.


Arvin menggeleng pelan setelah melihat sikap Fay kepadanya. Gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu, tetap saja cuek dan irit kata seperti sebelumnya. Langkah demi langkah telah mereka lalui tanpa ada obrolan apapun, hingga pada akhirnya mereka sampai di depan kamar hotel.


"Aku mau mandi duluan!" ujar Fay setelah masuk ke dalam kamar.


"Ya sudah mandi saja! Atau kamu mau mandi bareng aku?" Arvin mengerlingkan mata saat mengatakan hal itu.


Fay hanya berdecak setelah mendengar pertanyaan itu. Ia mulai hafal sikap tengil pria yang sedang melepas kancing kemejanya itu. Kali ini, Fay bisa melepas gaunnya tanpa harus meminta bantuan dari Arvin. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Fay menyiapkan pakaian ganti dan melepas kurung gaunnya.


"Jangan mandi pakai air dingin! tidak baik untuk kesehatan," ucap Arvin saat melihat Fay menarik handle pintu kamar mandi.


"Oke." Hanya itu saja yang menjadi jawaban Fay.


Hampir satu jam sepasang suami istri itu membersihkan diri sebelum beristirahat. Kini, mereka berdua berada di atas ranjang tanpa sepatah katapun. Kecanggungan begitu terasa di antara keduanya. Arvin mendadak kehilangan kata untuk memulai obrolan bersama Fay.


"Kenapa gak tidur?" tanya Arvin setelah menemukan bahan untuk mengawali obrolan.


"Aku belum ngantuk." Fay menatap Arvin sekilas. Lantas ia merebahkan diri di tempatnya, sementara Arvin duduk bersandar di headboard ranjang.


"Ini sudah jam satu dini hari. Kenapa kamu belum ngantuk? Apa kamu takut jika aku melanggar janjiku?" cecar Arvin seraya menatap Fay.


"Tidak. Aku sedang memikirkan ibu tiriku," ucap Fay dengan raut wajah yang terlihat resah.

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan?"


"Aku takut dia merusak pernikahan ini, sepertinya dia suka membuat aku menderita," keluh Fay dengan diiringi helaian napas yang berat.


"Kenapa dia sejahat itu kepadamu? Jika memang dia berbahaya, seharusnya kamu setuju jika aku atau papi memberikan pelajaran kepada dia." Arvin terlihat kesal setelah mendengar keluh kesah Fay. Apalagi ia sudah melihat sendiri bagaimana sikap ibu tirinya Fay saat menghadiri resepsi tadi.


"Dia memiliki jasa di hidupku, Vin. Bu Lisa sebenarnya orang yang baik. Sejak aku masih kecil, dia yang merawatku. Dia tidak pernah membedakan aku dan kedua anaknya. Kami bertiga tumbuh bersama dalam balutan kasih sayang kedua orang tua. Aku seperti berada dalam pelukan hangat ibu kandungku,"


"Akan tetapi setelah ayah menjebloskan putra sulungnya ke penjara, bu Lisa berubah sangat membenciku karena mungkin, aku adalah penyebab beliau harus berpisah dengan putranya. Bu Lisa tidak bisa mengeluarkan putranya dari penjara karena takut dengan ayah. Kamu tahu sendiri bukan jika seseorang terjerat kasus pelecehan, apalagi saat itu aku masih tergolong di bawah umur. Pasti hukumannya berat, Vin." Fay menatap Arvin dengan mata yang berembun.


Arvin manggut-manggut setelah mendengar penjelasan panjang itu. Tidak bisa dipungkiri, ibu mana yang tidak marah melihat masa depan putranya harus hancur di penjara. Tentu, situasi ini sangat berat bagi bu Lisa ataupun Fay. Dari semua penjelasan yang disampaikan oleh istrinya itu, Arvin bisa menyimpulkan jika Fay adalah gadis yang lembut dan penyayang. Bahkan, ia tidak tega jika orang yang berjasa dalam hidupnya harus menderita. Keadaan ini berhasil membuat Arvin kagum dengan gadis yang sedang mengusap air matanya itu.


"Ya sudah jika memang seperti itu keputusanmu, aku ikuti. Jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk memberitahuku. Aku pasti akan membantumu," ucap Arvin seraya mengulurkan tangannya ke arah rambut Fay. Ia mengusapnya beberapa kali.


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Fay memejamkan mata. Ada perasaan hangat yang menjalar dalam hatinya karena perlakuan manis ini. Fay merasa terlindungi setelah mendengar ucapan Arvin. Setidaknya, rasa sesak di hati berangsur hilang.


Rasa kantuk tiba-tiba saja terasa setelah mendapatkan perlakuan manis dari Arvin. Fay mulai terbang ke alam mimpi yang indah setelah kelopak matanya tertutup rapat. Rasa nyaman membuatnya begitu leluasa untuk terbang menuju alam mimpi tersebut.


"Aaw!" pekik Arvin setelah tubuhnya jatuh dari ranjang. Ia terkejut karena tiba-tiba saja jatuh dari atas ranjang.


Malam telah hilang seiring dengan hadirnya sang mentari. Sinarnya mulai menerobos masuk ke dalam kamar hotel tersebut karena tirai jendela dibiarkan terbuka. Arvin berusaha berdiri dari lantai untuk melihat penyebab ia jatuh dari ranjang.


"Astaga! Ini cewek kalau tidur gimana coba!" Arvin berkacak pinggang di tepi ranjang setelah melihat tubuh Fay memenuhi ranjang tersebut.


Kini Arvin tahu penyebab ia jatuh, ternyata, Fay yang mendorong tubuhnya hingga terjerembab ke lantai. Posisi tidur gadis itu pun sudah berubah arah seperti jarum jam tiga.


"Hei bangun!" teriak Arvin sambil menepuk betis mulus Fay.

__ADS_1


"Astaga! Dibalik sikapnya yang dingin! Ternyata seperti ini aslinya!" Arvin menggeleng pelan karena tidak percaya melihat apa yang ada saat ini.


"Fay!" teriak Arvin tanpa henti.


Perlahan kelopak mata itupun mulai terbuka. Awalnya Fay hanya diam saja, ia mengedarkan pandangan untuk mengumpulkan semua kesadarannya. Tatapan matanya menemukan Arvin yang sedang berkacak pinggang di sisi ranjang. Fay pun terlonjak karena terkejut.


"Ada apa?" tanya Fay tanpa rasa salah sedikitpun.


"Jadi, kamu tidak sadar jika melakukan kesalahan?" Arvin berdecak kesal melihat ekspresi wajah Fay.


Fay mengernyitkan dahinya setelah mendapat pertanyaan dari Arvin. Ia mencoba mengingat apa kiranya kesalahan yang sudah ia lakukan. Namun, Fay tidak menemukan jawabannya. Ia menggeleng pelan seraya menatap Arvin dengan sorot mata penasaran.


"Astaga!" Arvin mengusap wajahnya kasar, "kamu sudah menendangku, Fay! Aku sampai jatuh ke lantai!" ujar Arvin seraya menatap Fay dengan sorot mata tak percaya.


"Oh!" Hanya itu yang keluar dari bibir Fay, "ya Maaf," ucap Fay dengan entengnya.


Arvin melebarkan mata setelah mendengar sendiri bagaimana permintamaafan sang istri. Arvin pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi daripada harus berdebat dengan Fay. Percuma, itu lah kata yang menggambarkan situasi saat ini.


Brak!


"Aneh banget itu laki! Ganggu orang tidur saja," gumam Fay setelah pintu kamar mandi tertutup dengan suara yang keras. Fay kembali merebahkan diri di tempatnya.


...๐ŸŒทSelamat Membaca๐ŸŒท...


โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–


Hallo, selamat hari minggu๐Ÿ˜ Ada rekomendasi novel keren untuk minggu ini๐Ÿ˜ŽKuy baca karya author Nezha Ageha dengan judul Because I See Only You. Nah, judulnya aja udah keren kan๐Ÿ˜

__ADS_1



...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


__ADS_2