
Suara bariton itu merasuk ke dalam pikiran wanita berparas cantik yang sedang menghentikan langkah di depan ruko. Ia tidak berani membalikkan tubuh karena suara itu berhasil membuat napasnya memburu karena degup jantung tak beraturan.
"Kyomi Fayre, Adikku." Suara itu terdengar kembali. Kali ini Fay yakin jika suara itu bukan halusinasinya.
Fay membalikkan tubuhnya perlahan. Rasa takut tiba-tiba saja menghantuinya. Kelopak mata itu tertutup rapat karena tidak siap melihat pemilik suara itu. Sepasang kaki yang terbungkus sepatu, itulah yang dilihat Fay pertama kali setelah membuka kelopak matanya. Kedua bola mata itu terus bergerak hingga bersirobok dengan mata pria yang sedang menampilkan seringai menakutkan.
"Kamu ... kamu!" Fay tergagap sambil menunjuk wajah pria tersebut dengan jari telunjuknya.
Degup jantung semakin tak beraturan setelah Fay beradu pandang dengan pria yang menjadi sumber traumanya. Fay tercengang karena kehadiran Reno di hadapannya. Ia tidak pernah menduga jika Reno bebas dari hukumannya.
"Apa kabar, Adikku?" tanya Reno dengan tatapan yang menakutkan, "sudah lama kita tidak bertemu dan ternyata kamu sudah tumbuh dewasa. Kamu semakin cantik," ucap Reno sambil melangkahkan kakinya agar mendekat ke tempat Fay berada saat ini.
Bibir berwarna nude itu terkunci rapat karena kehilangan kata-kata. Fay tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ia hanya bisa memundurkan kakinya untuk memberi jarak dengan Reno.
"Pergi! Jangan mendekat ke arahku!" ujar Fay tanpa menghentikan langkahnya.
"Wah, ternyata kamu sudah berubah, Fayre," ucap Reno tanpa melepaskan pandangannya dari Fay.
Tanpa banyak bicara Fay segera membalikkan tubuh dan berlari sekencang mungkin untuk menghindari Reno. Tidak perduli meski banyak pasang mata yang memandang ke arahnya. Sesekali Fay menoleh ke belakang untuk melihat Reno, ternyata kakak sambungnya itu mengikutinya meski hanya berjalan dengan langkah cepat.
Fay terus berlari menuju arah basement di mana mobilnya terparkir saat ini. Ia menoleh ke belakang untuk sekilas dan ternyata tidak menemukan Reno lagi. Ia semakin mempercepat langkah menuju mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, Fay segera mengunci semua pintu mobilnya.
Tanpa sadar bulir air mata membasahi pipi. Fay menundukkan kepala hingga keningnya menempel pada setir mobil. Napasnya masih memburu setelah lari menghindar dari Reno. Tidak lama setelah itu, Fay mendengar suara ponsel yang berdering dari dalam tasnya.
"Hallo, Arvin! Aku takut!" ucap Fay setelah menerima panggilan dari suaminya itu, "dia datang lagi, dia datang, Vin!" Fay terlihat sangat panik.
__ADS_1
"Tenang, Fay. Kamu harus tenang!" ucap Arvin di sebrang sana, "kamu jangan khawatir, ada pengawal di dekatmu." Arvin mencoba menenangkan sang istri.
"Tunggu di situ. Aku akan menjemputmu sekarang," ucap Arvin sebelum panggilan berakhir.
Ponsel itu tergeletak di atas kursi yang ada di sisi Fay. Ia menyandarkan tubuh sambil mengusap peluh keringat yang mengalir deras. Fay susah bernapas karena ia lupa menyalakan mesin mobilnya. Tangan yang bergetar itu berusaha menekan tombol power yang tak jauh dari setir mobil.
"Kenapa aku bisa ketemu dia lagi." Fay bergumam setelah membuka kelopak matanya. Ia mengedarkan pandangan untuk meyakinkan ucapan Arvin jika Reno tidak ada di sekitarnya lagi.
"Syukurlah kalau dia tidak sampai di sini," gumam Fay setelah mengamati keadaan yang ada di sekelilingnya.
Cukup lama Fay termenung di dalam mobilnya hingga ia mendengar kaca pintu mobil diketuk dari luar. Wajah tampan sang suami terlihat jelas di sana, Fay segera membuka pintu mobil dan keluar dari persembunyiannya.
"Aku takut, Vin! Dia datang lagi!" ujar Fay setelah menghambur ke tubuh sang suami. Dekapan hangat mulai terasa dalam tubuhnya.
Air mata kembali menggenang hingga turun membasahi pipi. Fay meluapkan ketakutannya di dada bidang itu. Ia terisak dengan kedua tangan yang memeluk erat pinggang Arvin.
"Kita pulang sekarang, oke!" Arvin mengurai tubuh istrinya. Tak lupa ia mengusap air mata yang membasahi pipi mulus itu.
"Sekarang kamu tahu sendiri 'kan kenapa aku melarangmu pergi sendiri?" tanya Arvin seraya menatap mata berembun itu, "seperti inilah yang aku khawatirkan, Fay. Banyak bahaya mengintaimu. Coba bayangkan jika aku berada di luar kota, bagaimana kamu menghadapi semua ini," ucap Arvin dengan suara yang lirih.
"Maaf, Vin. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Fay dengan kepala yang tertunduk.
"Ya sudah, ayo kita pergi dari sini." Tidak ada lagi yang harus dibahas di tempat ini.
Arvin menuntun Fay ke sisi kiri mobil dan tak lupa ia membukakan pintu untuk Fay. Setelah itu, ia kembali berjalan ke sisi kanan mobil dan segera masuk. Akan tetapi baru saja ia masuk, kaca pintu mobil kembali diketuk dari luar. Terlihat pria bertubuh tegap berdiri di sini.
__ADS_1
"Target berhasil kabur, Tuan muda," ucap pria tersebut setelah Arvin membuka kaca mobilnya.
"Terus awasi dia! Jangan biarkan pria itu mendekat ke keluargaku!" titah Arvin seraya menatap pria tersebut untuk sesaat.
Setelah pria itu pergi, Arvin menutup kaca mobilnya. Ia segera keluar diikuti dua mobil jeep hitam di belakang. Fay melihat itu dari kaca spion kiri dan ia penasaran siapakah pemilik mobil yang mengikuti mobilnya.
"Vin, siapa mereka?" tanya Fay setelah menengok ke belakang.
"Mereka adalah bodyguardnya Papi. Salah satu mobil yang ada di belakang adalah yang mengikutimu hari ini." Arvin menatap Fay untuk sekilas.
Fay tertegun setelah mendengar penjelasan tersebut. Ia tidak menyangka jika ada beberapa orang yang mengikutinya hari ini. Ternyata Arvin tak mau tinggal diam jika dirinya pergi seorang diri. Fay bersyukur memiliki suami siaga seperti Arvin meski terkadang pria itu sangat menyebalkan di matanya.
"Terima kasih, Vin." Hanya itu yang bisa terucap dari bibir berwarna nude tersebut.
Sementara itu di balkon lantai lima pusat perbelanjaan itu, Reno sedang bersembunyi dari kejaran beberapa pria bertubuh kekar. Ia sedang duduk di salah satu spot cafe sambil menunggu pesanan minumannya. Berada di dalam cafe ini berhasil membuatnya lolos dari kejaran orang-orang yang menjaga Fay.
"Sepertinya, aku harus mengikuti saran dari mama. Aku tidak mau berurusan dengan dia lagi. Aku bisa hancur untuk yang kedua kalinya jika berani mengusik hidup Fayre," batin Reno sambil mengawasi setiap lalu lalang kendaraan di bawah.
Reno sama sekali tidak menyangka jika pertemuannya dengan Fay akan berakhir seperti ini. Pertemuan yang tidak disengaja itu berhasil membuka matanya untuk tidak berurusan dengan wanita cantik itu. Reno sudah membuktikan sendiri bagaimana penjagaan ketat wanita yang menjadi obsesinya kala itu.
"Mulai sekarang aku harus lebih hati-hati. Tidak mungkin mereka akan membiarkan aku lolos begitu saja," gumam Reno dalam hatinya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1