
Dua hari kemudian,
Senja terukir indah di cakrawala barat, pertanda jika sebentar lagi akan tiba saatnya pergantian waktu. Siluet jingga yang terbentang luas di ujung barat membuat tangan Fay semakin bergerak lincah di atas canvas. Sesekali ia menatap objek indah tersebut sebelum mencampur warna di palet yang ada di tangan kirinya.
"Wah, indah sekali, Nak!" ucap bi Atin setelah menghampiri Fay di balkon apartment.
"Ini belum selesai, Bi," ucap Fay tanpa mengalihkan pandangan dari canvas yang ada di hadapannya.
Dua hari ini dihabiskan Fay dengan melukis beberapa objek yang ada dalam pikirannya. Ia menuangkan perasaannya ke dalam lukisan. Sebuah lukisan wajah pak Hardi pun sudah selesai dengan cepat. Begitulah, Fay. Jika sedang sedih atau banyak pikiran, maka ia bisa menyelesaikan satu lukisan dalam satu hari.
"Kamu belum makan sejak tadi siang," ucap bi Atin setelah melihat kelincahan tangan Fay dalam menggerakkan kuas di tangannya.
"Nanti saya makan, Bi, jika pemandangan kota ini sudah selesai," ucap Fay tanpa mengalihkan pandangan.
Kebutuhan untuk melukis disediakan oleh orang suruhan Rofan. Bi Atin tinggal menelfon apa saja kebutuhan Fay, maka tak lama setelah itu ada seseorang yang mengirim ke apartment. Selama dua hari ini, baik Rofan ataupun pak Bram belum datang ke apartment. Cukup lewat sambungan telfon, semua kabar tentang Fay sampai ke telinga pak Bram.
"Kamu harus makan setelah ini. Saya mau ke dapur sebentar," ucap bi Atin sebelum berlalu dari tempat Fay saat ini.
Bi Atin mengayun langkah menuju dapur, akan tetapi langkahnya harus terhenti ketika melihat pintu masuk terbuka. Ternyata pak Bram dan bu Linda yang datang ke sini, dengan segera bi Atin menyambut kedatangan majikannya itu.
"Di mana Fayre?" tanya pak Bram setelah berdiri berhadapan dengan bi Atin.
"Ada di balkon, Pak. Dia sedang melukis," jawab bi Atin seraya menatap majikannya.
Setelah ngobrol beberapa menit bersama bi Atin, sepasang suami istri tersebut berjalan menuju tempat Fay berada. Keduanya berhenti di dekat pintu penghubung ke balkon setelah melihat lukisan wajah pak Hardi ada di sana.
__ADS_1
"Kita tunggu saja sampai dia selesai," bisik bu Linda. Wanita cantik itu mengamati setiap yang dilakukan Fayre saat ini.
Baik bu Linda ataupun pak Bram, keduanya seperti tersihir dengan cara Fay melukis. Mereka berdua tidak sadar jika berdiri di sana cukup lama, sampai lupa jika langit telah berubah warna. Bersamaan dengan itu, Fay pun telah menyelesaikan lukisan tersebut.
"Lukisan yang indah!" Bu Linda bergumam hingga membuat Fay terkejut bukan main, hingga palet yang ada di tangannya jatuh ke lantai.
"Ma ... maaf!" ujar Fay sebelum membereskan peralatan yang ada di lantai. Ia terlihat salah tingkah karena bu Linda mendekat ke arahnya.
"Kamu terkejut, ya!" ucap bu Linda setelah berjongkok di hadapan Fay, "tenanglah! Tidak usah takut, saya bukan orang jahat," ucap bu Linda seraya tersenyum manis.
Bu Linda membantu Fayre berdiri dari tempatnya. Beliau melihat langsung hasil lukisan tangan Fay yang berjajar di sana. Senyum bu Linda pun melebar sempurna, beliau kagum dengan hasil karya Fay.
"Ayo masuk! Kata bi Atin, kamu belum makan 'kan?" tanya bu Linda seraya meraih tangan Fay. Beliau menggenggam tangan tersebut sampai di ruang makan.
"Kita makan malam bersama. Setelah itu kita bisa ngobrol di ruang keluarga," ucap bu Linda seraya menatap pak Bram dan Fay bergantian.
"Kamu sudah selesai, Nak?" tanya bu Linda seraya menatap Fay yang termenung di tempatnya, "ayo kita pindah ke ruang keluarga!" ajak bu Linda setelah beranjak dari tempatnya.
Pak Bram berjalan di depan kedua wanita tersebut. Setelah itu, beliau duduk di sofa panjang bersama bu Linda, dan Fay duduk di sofa tunggal tak jauh dari tempat pak Bram berada.
"Apa benar namamu Kyomi Fayre?" tanya pak Bram seraya menatap Fay yang tertunduk.
"Iya. Bapak bisa memanggil saya Fay," ucap Fay seraya menatap pak Bram sekilas.
Pak Bram pun mulai bertanya tentang identitas Fay, seperti data yang didapatkan oleh Rofan. Nama orang tua dan tempat tinggal Fay pun, tak luput dari pertanyaan pak Bram.
__ADS_1
"Bagaimana Bapak bisa tahu jika nama ayah saya Hardinata?" tanya Fay setelah mendengar pertanyaaan pak Bram.
"Tas dan koper kamu ada di rumah saya," ucap pak Bram, "saya sudah tahu bagaimana kisahmu setelah Hardi meninggal. Apa kamu ingin, saya merebut hakmu?" tanya pak Bram seraya menatap Fay dengan intens.
Pertanyaan pak Bram berhasil membuat Fay terkejut bukan main. Ia tidak menyangka jika pria yang ada di hadapannya tahu dengan detail bagaimana perjalanan hidupnya. Fay pun akhirnya tahu siapakah sebenarnya pak Bram ini. Dia sangat bersyukur karena ditemukan orang baik seperti pak Bram, yang tak lain adalah sahabat ayahnya.
"Tidak, Pak. Saya tidak mau semua itu," ucap Fay tegas tegas.
"Lantas apa yang kamu inginkan saat ini?" tanya bu Linda seraya menatap Fay dengan intens.
"Saya hanya ingin kembali ke Amerika dan menetap di sana. Mungkin, di sana jauh lebih tenang meskipun saya tidak yakin bisa membiayai hidup saya selama di sana. Berada di sini, dekat dengan bu Lisa membuat saya ketakutan," ucap Fay dengan suara yang bergetar.
Kali ini justru bu Linda yang terkejut mendengar jawaban Fay. Sungguh, sebagai sesama wanita, bu Linda bisa merasakan apa yang dialami Fay saat ini. Apalagi, beliau sendiri melihat langsung bagaimana bu Lisa berbohong tentang keberadaan Fay, sebagai hak waris harta kekayaan pak Hardi.
"Sementara waktu, kamu tetaplah tinggal di sini, Nak! Jangan sungkan untuk meminta apapun yang kamu butuhkan! Bilang saja ke bi Atin, pasti semua akan terpenuhi," ucap bu Linda tanpa melepaskan pandangan dari wajah Fay.
Pikiran pak Bram mulai berkelana jauh, beliau ikut memikirkan tentang masa depan Fay. Tidak mungkin jika beliau membiarkan Fay hidup susah di Amerika. Membiarkan gadis itu hidup sebatang kara di negeri paman sam, membuat hati beliau terenyuh.
"Hardi. Aku sudah menemukan putrimu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Istrimu benar-benar keterlaluan! Dia tega menelantarkan putrimu, hingga menjualnya untuk menjadi wanita penghibur di club." Pak Bram bergumam dalam hati dengan pandangan lurus ke depan.
...๐นSelamat Membaca๐น...
โโโโโโโโโโโโโโโ
Hay hay hay๐ Rekomendasi karya keren untuk kalian nih๐ Jangan lupa baca juga karya dari author Santi Suki dengan judul Bukan Istana Impian. Kuy cek langsung novelnya๐
__ADS_1
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...