Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Sidang putusan,


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


Kasus yang menjerat dokter Winda, Raka dan Toni mencuat ke publik. Dua rumah sakit pribadi milik dokter Winda sementara ditutup atas kasus yang sedang bergulir ini. Mereka bertiga telah sampai di tahap akhir, tinggal menunggu keputusan sidang maka sudah bisa dipastikan ketiga orang yang terlibat dalam kasus ini resmi menjadi tersangka.


Pagi ini semua anggota keluarga Bramasta telah siap menghadiri persidangan tersebut. Mereka baru saja tiba di pengadilan negeri Jakarta selatan. Sepertinya, hari ini banyak pihak yang akan hadir di persidangan ini termasuk kakak pertama Raka. Tentu ketiga calon tersangka itu sudah menyiapkan pengacara untuk membantu terbebas dari keputusan hakim dan jaksa.


"Mari kita masuk," ajak Arvin setelah mendengar suara panggilan jika sidang perkara akan segera dimulai.


Ruangan sidang dipenuhi para anggota keluarga dari ketiga terlapor. Ada beberapa wartawan yang meliput berita yang menghebohkan dunia kesehatan di Jakarta. Rumah sakit yang selama terkenal elit dan masuk dalam kategori lima besar rumah sakit terbaik se Jabodetabek, kini sedang dipertaruhkan harga dirinya. Konspirasi yang dilakukan oleh dokter Winda berhasil menggegerkan publik.


"Sidang tindak pidana dan kode etik dengan nomor registrasi 1111.32/RSPB/JKT.09.11 telah dibuka," ucap hakim ketua sebelum mengetuk palu sebanyak satu kali.


Seperti biasa, di awal pembukaan sidang hakim akan mengkonfirmasi identitas terdakwah dan setelah itu hakim membacakan dakwaan yang sudah ditulis dalam agenda sidang. Semua orang memperhatikan jalannya sidang dengan seksama.


"Semoga semua ini segera selesai ya, Mi," bisik Fayre di telinga bu Linda. Pasalnya wanita cantik itu sudah tidak tahan berada di keramaian seperti ini. Dia akan merasa pusing dan tidak nyaman.


"Iya. Semoga mereka semua dihukum seberat mungkin," ucap bu Linda dengan suara yang sangat lirih.


Persidangan itu berlangsung hingga menjelang siang. Penasihat hukum dari pihak Raka sepertinya sangat cerdik hingga mampu menyelematkan pria itu. Ya, memang Raka tetap mendapat hukuman tapi tidak seberat dakwaan dokter Winda.

__ADS_1


Karir dan harga diri yang dibangun wanita paruh baya itu hancur seketika di persidangan ketika jaksa penuntut umum menjatuhkan vonis hukuman selama dua puluh tahun, karena dokter Winda terjerat pasal berlapis. Pembelaan diri Raka dibantu dengan tim penasihat hukumnya semakin memberatkan hukuman dokter Winda. Wanita paruh baya itu pun mungkin kehilangan praktik dan jabatan karena berani menggandakan hasil laboratorium dan memberi obat berbahaya kepada seorang pasien. Pihak penasihat hukum dokter Winda kalah telak saat tim penasihat hukum dari pihak Raka menanyakan bukti jika adanya perintah dari Raka atas konspirasi ini.


Persidangan berlangsung cukup panas karena Raka ataupun dokter Winda sama-sama ingin cuci tangan dari kasus ini. Tentu tim penguasa hukum Arvin terus menutut agar mereka semua diberikan hukuman seberat mungkin karena sudah melakukan perbuatan yang bisa membahayakan keselamatan seseorang.


Dokter Winda tersenyum tipis ketika JPU memberikan kebebasan bersyarat kepada Toni, karena semua bukti tidak terarah kepada pria tersebut. Pasalnya, Toni sendiri tidak melakukan apapun selain hanya mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh ibu dan temannya. Ya, memang semua ini pun sudah menjadi rencana dokter Winda dan suaminya. Mereka tidak mau masa depan putranya menjadi suram karena kasus ini.


Wanita paruh baya itu berharap setelah ini Toni menata hidupnya lebih baik lagi. Beliau rela menanggung semua hukuman ini karena memang murni kesalahannya. Sementara perasaan wanita paruh baya itu kepada Raka, sungguh, beliau sangat murka karena Raka berusaha cuci tangan dari masalah ini.


Beberapa jam kemudian, sidang akhirnya selesai dengan keputusan hukuman sesuai pasal yang diatur dalam undang-undang tidak pidana. Tentu di sini yang lebih berat hukumannya adalah dokter Winda karena beliau terjerat pasal berlapis.


"Mohon maaf yang mulia, sebelum sidang ini ditutup, saya ingin menyampaikan permintamaafan saya kepada keluarga korban," ucap dokter Winda saat hakim memberikan wakru untuk terdakwa.


Dokter Winda beranjak dari tempat duduknya sambil membawa microfon. Lantas beliau membalikkan tubuh agar bisa menatap wajah-wajah yang menjadi korban tindakannya.


"Saya Alwinda Putri, mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pasien saya bernama Arvin Axelle dan Kyomi Fayre atas semua kejahatan yang saya lakukan. Saya terpaksa melakukan semua ini karena terikat perjanjian dengan teman kalian yang tak lain adalah Raka. Saya sadar jika yang selama ini saya lakukan bisa membahayakan keselamatan kalian. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya menyesal sudah melakukan semua ini kepada kalian."


Dokter Winda mengusap air matanya yang mengalir deras karena benar-benar menyesal atas semua perbuatannya.


"Teruntuk suami dan anak-anak saya, maafkan Mama karena sudah melakukan semua ini. Mama sudah mencoreng nama baik keluarga dengan melakukan kebodohan ini. Mama harap setelah ini kalian bisa hidup bahagia dan melanjutkan cita-cita yang belum tercapai. Mama siap menjalani risiko atas semua perbuatan yang Mama lakukan sendiri."

__ADS_1


"Saya minta maaf kepada publik dan seluruh pasien yang berobat di rumah sakit Permata Bunda dan rumah sakit Rekso Waluyo. Saya harap rumah sakit tetap beroperasi karena semua ini murni kesalahan saya pribadi. Pihak rumah sakit telah memberikan hasil dan obat yang benar. Ada pun masalah yang terjadi saat ini adalah murni kesalahan saya."


"Terima kasih untuk semua orang yang hadir di sini karena sudah bersedia mendengar isi hati saya. Selamat siang." Dokter Winda mengakhiri ucapannya dengan suara yang bergetar.


Persidangan akhirnya selesai setelah suara ketukan palu terdengar tiga kali di ruangan panas itu. Semua beranjak dari tempatnya setelah para tersangka digiring keluar dari ruangan sidang. Jujur saja Arvin kurang puas dengan keputusan sidang karena hukuman Raka tidak seberat dokter Winda.


"Ayo pulang," ucap Fayre sambil menepuk paha sang suami.


"Kamu puas dengan hasil ini, Fay?" tanya Arvin seraya menatap lekat wajah cantik yang ada di sampingnya.


"Aku menerima apapun keputusan sidang ini. Setidaknya mereka semua sudah mendapatkan hukuman," jawab Fayre dengan diiringi senyum tipis.


Pembicaraan di antara suami istri itu harus berakhir ketika Toni menghampiri mereka berdua. Ada rasa sesal yang tersirat dari sorot mata pria tampan itu ketika menatap Arvin.


"Gue minta maaf atas semua yang sudah terjadi. Gue tahu mungkin kejadian ini akan membekas di hati lu sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Gue juga tidak memaksa lu untuk memaafkan gue dan nyokap, Vin. Gue harap lu bisa hidup bahagia setelah ini. Semoga rumah tangga lu selalu dalam lindungan Tuhan. Permisi," ucap Toni dengan suara yang bergetar. Mungkin, pria itu benar-benar menyesali semua perbuatannya.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2